Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
Kok Giany Tidak Teriak?


__ADS_3

Tok Tok Tok


Bunyi ketukan pintu menggema. Giany yang sedang merapikan lemari pakaian Maysha buru-buru melangkah ke arah pintu yang terdengar seperti diketuk dengan tergesa-gesa.


Perlahan, terdengar decitan pintu. Allan berdiri di depan sana dengan senyum getir, membuat Giany dipenuhi pertanyaan di dalam benaknya. Tidak biasanya Dokter Allan mengetuk pintu dengan buru-buru.


"Ada apa, Dokter?" tanya Giany.


Allan melongokkan kepala ke dalam, meneliti setiap sudut kamar itu, kemudian berdehem pelan.


"Maysha ada di dalam sini, tidak?" tanyanya. Padahal ia tahu betul Maysha tidak berada di kamar, karena sesuai bisikan yang ia berikan, Maysha bersembunyi di tempat yang aman.


"Maysha?" Giany tampak bingung, sebab setahunya sejak tadi Maysha bersama Allan. "Tidak ada, Dokter. Setelah makan malam, Maysha belum masuk kemari. Saya pikir Maysha ada di ruang keluarga bersama Dokter?"


Allan menggaruk kepalanya seolah benar-benar bingung mencari keberadaan anaknya. "Tadinya sih iya. Terus dia ajak saya main petak umpet. Habis itu dia sembunyi, tapi tidak tahu sembunyi dimana. Sudah mau setengah jam belum ketemu juga."


"Apa? Main petak umpet?"


Allan mengangguk pelan. "Iya. Saya pikir dia sembunyi di sini."


Mendengar ucapan Allan, Giany pun diselimuti kekhawatiran. Bukan sesuatu yang dapat disepelekan jika anak dengan kondisi seperti Maysha bermain petak umpet. Bisa saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maysha kan belum dapat berbicara, kalau ada apa-apa bagaimana minta tolong ya? Begitu isi pikiran Giany.


Apalagi, Maysha adalah seorang anak yang mudah tertidur di sembarang tempat, bahkan ia pernah ketiduran di gudang bersih yang terletak di belakang saat lelah mencari seekor anak kucing jenis British shorthair peliharaannya.


"Aduh bagaimana ini. Saya ikutan cari ya, Dokter ..." Giany mulai terlihat panik, tetapi Allan malah sangat santai.


"Iya, boleh! Tadi saya sudah cari di atas tapi tidak ada."


Giany segera beranjak keluar kamar untuk mencari Maysha. Di belakang sofa, dibalik tirai dan diantara guci antik koleksi Bu Dini. Setiap bagian telah ditelusuri, namun Maysha belum dapat ia temukan juga. Tak ada tanda-tanda keberadaan gadis kecil itu di dalam rumah.


"Dokter sudah cari di kamar ibu, belum?" tanya Giany sambil beranjak menuju dapur untuk mencari. Kosong, tak ada Maysha di sana.

__ADS_1


Sementara Allan berada di sudut ruangan di dekat dapur sambil mencari-cari.


"Sudah ke sana, tapi tidak ada juga."


"Em, saya coba cari ulang di kamar ibu, ya. Siapa tahu Maysha sembunyi di sana."


"Jangan, Giany. Maysha tidak di sana." Langsung menyela dengan gelagapan ketika Giany beranjak pergi. "Lagian ibu baru saja tidur, kalau kita masuk nanti ibu nya terganggu. Maysha pasti sembunyi di tempat lain."


"Tapi di mana, Dokter. Bagaimana kalau ada apa-apa sama Maysha?"


"Ah, kamu ini panikan orangnya. Santai sedikit, ini kan hanya permainan."


Lagi-lagi Giany dibuat heran dengan sikap santai laki-laki itu. Ia tampak tidak mengkhawatirkan Maysha. Padahal biasanya ia akan panik jika terjadi sesuatu kepada Maysha.


"Oh, ya. Menurut kamu, Maysha sembunyi dimana?"


Loh kok malah tanya saya, Dokter? batin Giany.


"Saya sudah cari di kamar atas, di kamar ibu, kamar Bibi Misa, ruang tv atas juga tidak ada. Garasi, dapur, taman belakang kan tidak mungkin soalnya Maysha takut gelap. Tidak mungkin dia sembunyi di sana. Ruangan apa ya, yang belum saya sebut?"


Alis Giany mengerut. Entah mengapa ia justru merasa Allan sedang memberinya sebuah teka-teki.


Tiba-tiba di benaknya terbesit sebuah tempat yang sama sekali belum disebutkan oleh Allan. Entah ia sengaja melewatkan atau memang lupa.


"Dokter, di gudang bersih di belakang sudah dicari, belum? Kemarin saya temukan Maysha ketiduran di sana saat mencari anak kucingnya. Mungkin saja Maysha sembunyi di sana."


Allan berpikir sejenak, "Iya juga sih, saya memang belum cari di sana." Sambil mengangguk pelan. "Ayo kita cari ke sana."


Tanpa menunggu lagi, Allan dan Giany bergegas menuju ruangan belakang dimana terdapat gudang bersih yang dimaksud. Begitu memasuki ruangan luas itu, Giany mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Maysha ..." Giany menyibak beberapa tirai, mencari Maysha di sana. "Maysha, Sayang ... Sembunyi dimana?" panggilnya sambil menelusuri ruangan luas itu.

__ADS_1


Sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Tiba-tiba lampu padam, membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Bahkan Giany yang menggunakan blouse putih pun tidak nampak.


"Loh, ini kenapa lampunya mati ya? Giany? Kamu di mana?" panggil Allan sambil meraba beberapa benda di ruangan itu.


"Iya, Dokter? Saya di sini!"


kok Giany tidak teriak sih? Kan biasanya perempuan takut gelap-gelap? batin Allan.


"Kamu ... tidak takut gelap?"


"Tidak, biasa saja," jawabnya santai membuat Allan mendengus dalam kegelapan.


Apes!!


🌻


Sementara itu, di sebuah ruang kendali terjadi perdebatan yang tidak henti-hentinya bergulir akibat sebuah perintah tak jelas yang berasal dari sang bos...


"Kamu yakin, bos minta aliran listrik yang ke ruang belakang dipadamkan?" tanya Joko dengan ragu-ragu.


"Kalau tidak percaya lihat sendiri pesannya," jawab Amir sambil memperlihatkan pesan yang baru dikirim Allan beberapa saat lalu.


[Lima menit lagi, matikan aliran listrik yang ke ruang belakang!] isi pesan Allan.


"Tapi untuk apa bos minta aliran listrik di ruang belakang dipadamkan?" tanya Joko heran.


"Mana aku tahu, Joko!" balas Amir kesal. "Yang penting bos minta aliran listrik di ruang belakang di putus, itu saja. Ayo, kembali ke pos."


🌻🌻🌻🌻


ada yang pengen uyel uyel Allan?

__ADS_1


__ADS_2