
“Giany, ada yang mau bertemu.” Bibi Misa masuk ke dalam kamar Maysha, ketika Giany masih disibukkan dengan pekerjaannya menyiapkan perlengkapan sekolah.
“Siapa, Bibi?”
“Katanya orang tua Pak Desta.”
Mata Giany membeliak karena terkejutnya dan hanya dalam hitungan detik saja sudah basah oleh air mata.
Selama pernikahannya dengan Desta, kedua mertuanya tidak pernah menghubungi untuk sekedar menanyakan kabar. Giany hanya pernah bertemu satu kali saat pernikahan dan setelahnya tidak pernah lagi. Pun dengan perlakuan kasar Desta kepada Giany yang tidak pernah mereka ketahui.
"Papa sama Mama kemari?" Giany masih membeku di tempatnya duduk. Ia takut jika kedatangan orang tua Desta ke rumah Dokter Allan hanya untuk memarahi dirinya karena Desta kini ditahan.
Bibi Misa menepuk bahu Giany, membuat wanita itu tersadar. "Bagaimana? Mau ditemui, atau disuruh pulang saja? Kata Dokter Allan, tidak apa-apa kalau kamu tidak mau temui mereka."
"Jangan, Bibi. Saya akan keluar menemui mereka."
Giany menghapus air mata yang membasahi pipinya, kemudian beranjak keluar menuju ruang tamu.
Begitu melihat Giany datang, sepasang suami istri itu bangkit, memperhatikan Giany dari ujung kaki ke ujung kepala. Keduanya tampak sedih.
"Giany ..." panggil Bu Marwah, ibu dari Desta.
"Mama ... Papa ..." Giany mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan mantan mertuanya bergantian.
Tidak dapat membendung kesedihannya, mereka memeluk Giany sambil menangis.
"Maafkan mama, Nak. Mama sama sekali tidak tahu tentang perbuatan Desta selama ini kepada kamu. Mama pikir semuanya baik-baik saja."
Giany masih diam. Hanya kedua tangannya yang bergerak mengusap punggung Bu Marwah.
"Kami pikir memberi Desta hukuman sudah cukup untuk membuat dia belajar bertanggung jawab kepada istrinya sendiri. Tapi semua ternyata tidak cukup untuk membuat dia paham dalam berumah tangga. Semua ini salah kami, Giany."
Isak tangis wanita paruh baya itu semakin menjadi, membuat Giany mencoba menenangkannya. Ia melepas pelukan, kemudian mendudukkan Bu Marwah di sofa.
__ADS_1
"Mama tenang dulu ya ... Ini semua bukan salah Mama sama Papa. Mungkin memang jalannya sudah seperti ini." Giany mengusap air matanya. Tak dapat ia pungkiri bahwa perceraian dengan Desta tidak sertamerta membuatnya bahagia. Ada luka yang tidak terlihat di sana. Tetapi perceraian memang jalan terbaik bagi keduanya.
"Mungkin jodoh saya dengan Mas Desta hanya sampai di sini."
Tangisan Bu Marwah semakin tak tertahan. Sementara papa Desta mengusap punggung Giany. "Itu hak kamu untuk memutuskan, Nak. Desta sudah menyakiti kamu. Kamu berhak untuk memilih tetap bertahan atau berpisah."
"Maaf, Pah. Karena saya Mas Desta sekarang ditahan."
Pria paruh baya itu menggeleng sambil mengusap rambut Giany. "Bukan salah kamu, Nak. Desta pantas mendapatkan semua ini sebagai hukuman. Kami kemari untuk meminta maaf kepada kamu atas kelalaian kami sebagai orang tua yang tidak mengetahui keadaan kalian selama ini. Biarkan Desta menjalani hukuman yang pantas."
Mereka kemudian duduk di sofa. Giany duduk di antara kedua mertuanya. Dalam tangisan, ia menceritakan kepada kedua mertuanya segala perlakuan Desta selama ini. Kedua orang tua Desta hanya mampu menangisi akibat perbuatan anaknya.
🌻
🌻
🌻
"Dokter, boleh saya minta waktu nya sebentar?" ucap Giany sesaat setelah kepergian kedua orang tua Desta. Kini mereka tengah berada di balkon rumah.
"Ada hal penting yang mau saya bicarakan." Giany menunduk setelahnya, seperti ragu untuk mengucapkan apa yang ada di benaknya.
"Hal penting apa?"
"Dokter, apa boleh saya minta tuntutan kepada Mas Desta dicabut?"
Sontak Allan terkejut mendengar ucapan Giany. Ia tidak menyangka bahwa Giany akan meminta hal tersebut. "Giany, kamu lupa apa dilakukan dia kepada kamu? Dan sekarang kamu minta dia bebaskan? Apa tadi orang tuanya yang meminta?"
"Mereka tidak minta apa-apa. Hanya saja saya tidak tega sama mama dan papa. Mereka pasti sedih. Apalagi Mas Desta anak laki-laki satu-satunya."
Sudah resmi bercerai masih panggil Mas juga. Terlalu! gerutu Allan dalam batin.
Allan menghela napas panjang. "Ya sudah, saya pikir-pikir dulu. Ada yang mau kamu bicarakan lagi?" Mendadak nada bicara Allan berubah dingin, membuat Giany merinding.
__ADS_1
"Tidak ada lagi, Dokter."
"Ya sudah, kamu ke bawah saja dulu."
"Iya, baik."
Giany kemudian pergi meninggalkan Allan seorang diri. Ia hanya menatap nanar punggung Giany yang semakin menjauh, lalu kemudian menghilang di balik sebuah tirai.
Allan kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian menghubungi seorang kuasa hukumnya.
"Halo, Fred!"
"Iya, Dokter ... Ada yang bisa dibantu?"
"Saya mau cabut tuntutan saya untuk Desta. Tapi sebelumnya saya mau dia tanda tangan di atas materai, bahwa setelah bebas, dia tidak akan mengusik kehidupan Giany lagi, apapun itu! Untuk alasan apapun, dia tidak boleh lagi mendekati Giany. Karena Giany Namira hanya akan menjadi hak milik Allan Hadikusuma!" ucapnya menekan.
Selama beberapa saat terjadi kebisuan di sana. Sepertinya sang kuasa hukum belum sanggup menjawab.
"Kamu kenapa diam, Fred. Jangan mulai kayak si Amir kamu!"
"Eh, tidak, Dokter. Tapi Dokter yakin, mau tuntutannya dicabut?"
"Iya," sahutnya dengan kesal.
"Baik, akan saya urus. Ada lagi, Dokter?"
"Ada!"
"Apa itu?"
"Jangan sampai Giany tahu tentang persyaratan ini!"
"Ba-baik!"
__ADS_1
🌻