
Berada di dalam sebuah ruangan khusus sesuai permintaan Allan, Giany berdiri di tepi pembaringan pasien dengan berpegang pada sebuah meja. Sakit itu semakin menjalar dan kian terasa. Di sisinya ada dua bidan muda, salah satunya Selma yang sejak tadi menemaninya. Sedangkan Allan sedang berada di ruangan lain untuk membantu pasien bersalin.
“Ini kok makin sakit ya, Sel?” ucap Giany.
“Iya, Bu. Makin mendekati pembukaan lengkap memang makin sakit. Bu Giany yang kuat ya.”
Keringat sudah mulai membasahi keningnya yang berkerut menahan sakit. “Aahhh sakit! Mas Allan ... Mas Allan mana? Tolong panggil Mas Allan kemari.”
“Sebentar, Bu. Saya panggilkan dulu.”
Selma segera berlari keluar menunju ruangan lain untuk memanggil Allan. Tak lama berselang Allan pun tiba. Ia melihat Giany masih berdiri di tepi ranjang pasien.
“Sayang ...”
Giany menoleh, buliran air mata seketika mengalir. “Sakit, Mas!”
“Memang sakit, Sayang. Sini aku peluk.” Allan memeluknya, mengusap-usap punggung dan rambut. Isak tangis mulai terdengar. “Kamu benerin posisi berdirinya. Kakinya dibuka sedikit, biar bukaannya lebih cepat. Jangan ditahan sakitnya, lepasin aja.”
“Aku tidak kuat lagi, Mas.”
“Ya sudah, baring saja ya. Sekalian aku periksa sudah bukaan berapa.”
****
Allan, dengan dibantu dua bidan menangani persalinan Giany. Pembukaan sudah lengkap, Giany sudah terbaring di atas ranjang pasien. Suara erangan kesakitan terdengar sejak tadi.
“Aaaargh! Sakit, Mas,” lirih Giany menggenggam erat jemari suaminya. Sementara tangan satunya meremas kain seprai sekuat tenaga.
“Sabar ya, Sayang. Sedikit lagi, Kok. Kepalanya sudah kelihatan."
"Aargh!"
“Jangan mengejan dulu, Sayang ... Kamu bisa kelelahan dan kehabisan tenaga. Nanti kalau aku suruh baru kamu mengejan, ya."
"Sakit, Mas. Aku nggak kuat."
__ADS_1
“Aku tahu, Sayang. Tapi tunggu sebentar lagi. coba ikuti aku, kita latihan atur napas dulu ..." Allan menarik napas. "Tarik napas jangan terlalu dalam, jangan juga terlalu pendek, tahan di paru-paru, dagunya nempel di dada. Nah, begitu bagus ... Terus buang napas melalui hidung.”
Giany mengikuti setiap arahan suaminya dengan baik, namun sesekali terdengar meringis kesakitan.
“Coba ulangi lagi yang tadi ya ... Tarik napas dalam, lalu hembuskan. Nah, bagus. Sekarang dorong yang kuat!”
“Argh!” Ia mendorong sekuat tenaga hingga dadanya terasa sesak. Rasa sakit itu kian menjalar.
"Coba sekali lagi, Sayang. Tarik napas, tahan, dorong yang kuat!"
Giany menarik napas, lalu mendorong sekuat tenaga. Detik itu juga, suara tangisan bayi melengking pun terdengar memenuhi ruangan. Allan terhenyak menatap tubuh bayi berjenis kelamin laki-laki itu, hingga tanpa sadar menjatuhkan air mata.
“Alhamdulillah ...” Beberapa orang terdengar mengucapkan kalimat itu. Giany tak dapat membendung air mata haru mendengar suara tangis bayinya untuk pertama kali
Allan mengecup keningnya, dalam hari mengucap doa sebagai bentuk syukur.
"Selamat ya, Sayang. Kamu sudah menjadi seorang ibu yang sesungguhnya."
Melihat istri dan anaknya selamat dan sehat, Allan tak dapat membendung rasa bahagia. Ia lantas melakukan perawatan pada bayi mungil itu. Ia menatap putranya lekat.
Walaupun hampir setiap hari melihat bayi terlahir, namun kali ini sangat berbeda. Rasa bahagia itu sama seperti saat ia menimang Maysha untuk pertama kalinya.
🌻
🌻
🌻
"Wah gantengnya cucu Oma." Bu Dini menggendong cucunya dengan suka cita. Ia mengecup wajah mungil itu. "Mirip ayahnya ya, tidak ada yang dibuang."
"Ialah, Bu. Memang mau mirip siapa kalau tidak mirip ayahnya."
"Asal julidnya jangan seperti ayahnya."
Giany terkekeh seraya membelai rambut Maysha yang sedari tadi bersandar dengan manja di dadanya.
__ADS_1
"Oh ya, kalian sudah punya nama untuk anak kalian?"
"Sudah, Bu," jawab Allan dengan bangga. Sejak jauh-jauh hari ia telah menyiapkan sebuah nama yang indah untuk anaknya. "Abimanyu Hadikusuma."
"Nama yang bagus."
Maysha pun sangat antusias. Ia beranjak turun dan mengecup wajah adiknya yang berada di pangkuan sang Oma.
"Bunda, kapan dedek bayi boleh pulang?"
"Belum boleh, Sayang. Besok ya dedek bayi pulang," jawab Allan diikuti anggukan kepala oleh putrinya. "Sekarang Maysha pulang dulu sama Oma, ini sudah malam. Besok Maysha sekolah, kan?"
"Iya, Ayah."
Bu Dini membaringkan bayi mungil itu di sisi Giany, kemudian membelai rambut menantunya. "Ibu pulang dulu, ya Nak. Kamu istirahat."
"Iya, Bu. Hati-hati. Titip Maysha ya, Bu," ucap Giany mencium punggung tangan mertuanya.
***
Setelah kepergian Bu Dini dan Maysha, Allan menuju ke ruang di mana Giany berada. Wanita itu baru selesai menyusui bayinya.
Allan tersenyum, dengan penuh kelembutan mengecup kening Giany. Sebuah ciuman yang seolah melukiskan seluruh perasaan cinta yang ia miliki untuk wanita itu.
"Sayang, terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan melengkapi kebahagiaanku. Terima kasih sudah membuat Maysha lebih baik dengan kasih sayangmu. Dan sekarang kamu memberiku kebahagiaan yang baru dengan kelahiran Aby. Tetaplah menjadi Giany yang lembut dan penuh kasih sayang."
"Aku juga terima kasih karena Mas mau menerima semua kekuranganku dan melengkapinya dengan kesabaran."
"Aku mencintaimu."
Meskipun untuk mendapatkan kamu harus menjadi perebut bini orang.
***TAMAT****
Mampir di karya baru aku yaa..
__ADS_1
Prolog nya ada di sebelah 👉👉👉