
Suasana kepanikan masih terlihat di lobby gedung kantor May-Day. Petugas teknisi baru saja berhasil mengevakuasi Desta. Ia dibaringkan di atas sebuah brankar. Aluna tampak begitu syok menatap tubuh Desta terbaring tak berdaya.
Sementara Giany sudah lebih dulu dilarikan ke rumah sakit akibat kondisinya yang cukup lemah dan butuh penanganan medis.
Dengan sigap petugas kesehatan membawanya menuju ambulan yang sudah menunggu di depan lobby. Aluna dan Rendy pun ikut naik ke atas ambulan menemani Desta.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak henti-hentinya Aluna menangis sambil berusaha membangunkan Desta.
"Tenang, Lun. Desta pasti akan baik-baik saja," ucap Rendy seraya mengusap bahu Aluna.
"Aku takut terjadi apa-apa sama Desta, Ren. Aku tidak bisa kehilangan Desta lagi." Gadis berparas cantik itu menangis, membenamkan wajahnya pada kain tipis yang membalut tubuh Desta. "Aku bisa tahan melihat Desta bersama orang lain. Tapi aku tidak mau dia pergi untuk selamanya."
Melihat Aluna begitu terpukul, Rendy hanya dapat mengusap punggungnya. Ia menatap iba pada Aluna dan Desta yang rasanya begitu sulit untuk bahagia.
Kurang dari dua puluh menit, mereka telah tiba di rumah sakit tempat Allan bekerja. Atas permintaan Allan, beberapa petugas kesehatan sudah menunggu di lobby dan segera membawa Desta ke ruang Instalasi Gawat Darurat agar segera ditangani. Sementara Aluna dan Rendy menunggu di depan.
🌻
🌻
Kini, Desta sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Sudah beberapa jam berlalu, namun belum juga tersadar. Beruntung ia hanya mengalami patah tulang di lengan kiri dan luka sobek di beberapa bagian.
__ADS_1
Selama beberapa jam itu pula, Aluna tak pernah beranjak dari sisinya, seakan benar-benar tidak rela jika takdir harus memisahkannya lagi.
"Aluna, kamu makan dulu ya. Kamu kan belum makan dari tadi siang," ucap Rendy seraya menepuk pundak Aluna.
"Aku tidak lapar. Lagi pula, aku tidak mau meninggalkan Desta."
"Tapi nanti kamu bisa sakit. Kamu dengar sendiri kan, tadi dokter bilang kondisi Desta tidak terlalu serius. Aku juga sudah hubungi orang tuanya Desta. Mereka lagi di jalan mau ke sini."
"Kamu saja lah, Ren. Aku sedang tidak berselera makan."
"Kalau kamu tidak mau makan, nanti Desta bisa marah loh sama kamu."
Aluna menitikkan air mata. Teringat kenangan masa lalunya bersama Desta. Mantan kekasihnya itu akan marah jika mengetahui Aluna terlambat makan, hanya karena sibuk dengan pekerjaan nya.
"Jangan begitu, Lun. Kalau begitu aku belikan makanan saja, ya. Nanti kalau lapar, kamu tinggal makan," ucap Rendy.
Aluna hanya menjawab dengan anggukan. Setelah Rendy keluar, ia menatap wajah pucat Desta dan membelainya.
Sejatinya, bagi Aluna, Desta bukanlah pribadi yang jahat. Ia hanyalah seseorang yang begitu gila dalam mencintai sesuatu. Apapun itu. Bukan hanya kepada sosok manusia, tetapi juga pada pekerjaan dan hal lain. Jika merasa telah mencintai sesuatu, terkadang Desta akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan.
Rasa kantuk bercampur lelah pun datang. Aluna membenamkan wajahnya di tepi pembaringan hingga tertidur.
__ADS_1
Waktu pun bergulir cepat. Desta mulai membuka kelopak matanya. Lenguhan dari bibirnya pun terdengar seperti menahan rasa sakit. Ia melirik pemilik rambut panjang yang sedang tertidur di sebelahnya dengan posisi telungkup.
Ia menatap telapak tangan kanannya yang terbalut perban akibat luka saat berpegang pada tali penahan lift. Sementara tangan kiri telah terbalut gips karena patah tulang.
Maafkan aku, Lun. Aku terlalu terobsesi dengan Giany sampai melupakan kamu. Setelah ini aku dan kamu akan mulai segalanya dari awal dan memperbaiki semua kesalahanku.
Pintu kaca itu terbuka. Allan masuk ke dalam ruangan itu. Dengan raut wajah khawatir dan rasa bersalah, ia segera mendekati Desta. Aluna pun baru terbangun dan langsung berdiri saat menyadari Allan ada di sana. Namun, ia terlihat sangat bahagia melihat Desta sudah tersadar dari pengaruh obat bius.
"Kamu sudah sadar?" tanyanya.
"Iya, Pak," jawab Desta nyaris tanpa tenaga.
Allan kemudian memeriksa kondisi Desta, berikut beberapa bagian tubuh laki-laki itu untuk memastikan tidak ada cedera lain. "Nanti kamu akan diperiksa lebih lanjut oleh dokter ahli. Semoga tidak ada cedera lain."
"Gi-any bagai-mana ..." gumamnya lemah.
"Giany tidak apa-apa. Dia sudah pulang ke rumah." Allan mengusap bahu Desta. "Desta, saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih. Kamu sudah menolong istri saya. Kalau tidak ada kamu, saya tidak tahu akan seperti apa jadinya."
Desta menyahut dengan anggukan. Setidaknya ia telah merasa lega, mengetahui Giany baik-baik saja. Mungkin dengan ini, ia bisa menebus semua kesalahannya di masa lalu. Meski apapun yang ia lakukan tidak akan pernah cukup untuk membayarnya.
🌻
__ADS_1
Yang kemarin ketinggalan baca bab 90, sudah aku benerin isi bab nya dan sudah ke post. Jadi yang belum sempet baca, boleh balik lagi ke bab 90, tapi tinggalin komen dan like yaaaaaaa
Travelicious jangan salahkan akooh ... 😂😂😂