
Sebuah mobil melaju pelan di tengah keramaian jalanan. Allan menyetir sambil memperhatikan sisi jalan yang dilewati. Sebelum tiba di rumah, ia harus punya sesuatu yang dapat menyenangkan Bu Allan, karena sejak Maysha mengalami pembullyan di sekolah, Giany menjadi sangat sensitif dan terkadang agak galak.
“Apa beli perhiasan saja, ya ... Ah, tapi Giany mana suka barang-barang seperti itu. Dia bukan ibu-ibu sosialita yang suka arisan.”
Melewati sebuah food court, ia mampir sebentar. Martabak adalah pilihannya untuk meluluhkan Giany karena setahunya, istrinya sangat suka makanan itu.
Allan segera kembali ke mobil setelahnya, menatap kotak berisi martabak dengan bahagia.
“Kamu jangan bikin malu ya, Mar!” ucapnya kepada martabak. “Aku persembahkan kamu kepada Giany biar dia senang. Sabar ya ... Bumil memang begitu, emosinya naik turun.” Ia tersenyum senang. Walaupun belum memeriksa, tetapi Allan yakin perubahan emosi Giany beberapa hari ini adalah karena kehamilan. "Maaf ya, kamu terpaksa jadi alat barter sama serabi dan dorayaki."
Ia melajukan mobil setelah terjadi saling curhat antara dirinya dan martabak. Tiba di rumah, ia disambut oleh Maysha dan Giany seperti biasa.
Allan merasa hidupnya berwarna dengan kehadiran Giany. Hatinya yang dulu hampa dan kosong setelah ditinggal pergi Ayra, kini telah dipenuhi dengan cinta untuk Giany.
"Aku bawa martabak kesukaan kamu." Allan menyerahkan beberapa kotak martabak dengan berbagai varian rasa. "Aku beli nya susah tahu, harus antri puluhan orang. Tapi apa sih yang tidak untuk kamu."
Giany begitu senang menerimanya, bukan karena martabaknya, tetapi lebih kepada perhatian Allan kepadanya. Namun, baru mencium aroma keju dari martabak manis itu, sudah membuatnya merasa mual.
Kenapa ya, aku tiba-tiba mual mencium aroma kejunya.
Ia menatap Allan yang kini duduk di hadapannya. Akan terasa tidak menghargai jika tidak memakan sesuatu yang dibeli Allan dengan susah payah. Namun, baru akan menyuapkan potongan martabak ke dalam mulutnya, Giany sudah tidak tahan.
Hueekk!
Ia bangkit dan berlari masuk ke kamar mandi, membuat Allan menyadari sesuatu dan membuat batinnya bersorak.
Akhirnya ... Pesanan Maysha datang.
"Maysha, Sayang ... Tunggu di sini, ya ... Ayah mau susul bunda ke dalam."
"Iya, Ayah."
__ADS_1
Allan pun menyusul Giany ke kamar mandi.
🌻
🌻
🌻
"Mas, bagaimana Bu Ayra?" tanya Giany.
Saat ini mereka tengah berada di kamar. Allan baru saja berganti pakaian setelah mandi.
"Dia akan menjalani rehab selama enam bulan. Semoga semuanya segera berlalu dan Ayra bisa hidup normal lagi."
"Iya, Mas. Kasihan ... Bu Ayra pasti tertekan dengan keadaannya sekarang."
Allan membelai rambut Giany dengan sayang dan menatap matanya dalam. Ia beri kecupan di kening sebagai tanda cinta. "Sayang, makasih ya. Aku beruntung memiliki kamu."
"Untuk semua kebaikan hatimu. Jarang ada istri yang mau berbuat baik kepada mantan istri suaminya dalam bentuk apapun. Tapi kamu sebaliknya, malah membujuk aku untuk melakukan semua ini dan membantu Ayra."
"Semua itu untuk kepentingan Maysha, Mas. Bagaimana pun juga, Bu Ayra adalah ibu kandungnya. Semua ibu pasti berharap anaknya jadi anak yang berbakti kan."
"Kamu benar." Allan menarik Giany ke dalam pelukannya. Ia benamkan kecupan sayang lagi dan lagi. "Oh ya, kamu tes urine dulu ya ... Itu di laci ada testpack."
"Testpack? Tapi Mas ..."
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu, membuat Allan menarik dalam dalam.
"Sepertinya tidak berguna buat kamar di lantai tiga. Gangguan selalu datang saat lagi mesra-mesranya," ucap Allan membuat Giany terkekeh.
__ADS_1
Giany pun segera membuka pintu. Bibi Misa ada di sana dan tersenyum ramah.
"Maaf ganggu, Bu," ujarnya. "Dokter Allan ... Di bawah ada Bu Novi. Katanya mau ketemu Dokter dan Maysha."
Allan mengerutkan alis sambil berpikir sejenak. Untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun belakangan, wanita itu tidak pernah berkunjung ke rumahnya.
"Bu Novi itu siapa, Mas?"
"Ibunya Ayra. Kamu tidak keberatan kalau aku temui?" tanya Allan.
"Ya tidak, Mas. Kenapa harus keberatan?"
"Ya sudah, kita temui di ruang tamu, yuk! Sekalian aku kenalkan dengan kamu."
"Aku di sini saja deh. Mas saja yang ketemu, aku malu."
"Kenapa harus malu coba?"
Giany tidak menjawab. Ia merasa tidak enak sendiri. Allan lalu melingkarkan tangan di bahu Giany. "Tidak usah malu. Lagi pula ibunya Ayra sudah tahu aku menikah lagi."
Mereka segera beranjak menuju ruang tamu. Tampak wanita paruh baya yang sedang duduk menunggu di sofa bersama Bu Dini. Sedangkan Maysha belum terlihat di sana.
"Allan ..." Wajah wanita itu berbinar saat bersitatap dengan mantan menantunya.
Meskipun sudah berpisah dari Ayra, tetapi Allan tetap bersikap hormat kepada mantan mertuanya. Ia mendekat dan mencium punggung tangan Bu Novi. "Apa kabar, Bu? Lama tidak ketemu."
Wanita itu tersenyum lalu mengusap bahu Allan. "Baik, Allan. Kamu apa kabarnya? Sekarang kamu gemukan ya ..."
"Iya, Bu," jawabnya. "Oh ya ... kenalkan ... Ini istri saya, namanya Giany."
Bu Novi menatap Giany dengan intens, seorang wanita yang terbilang masih sangat muda, yang telah menggantikan posisi anaknya.
__ADS_1
🌻🌻🌻