Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 146


__ADS_3

Allan melangkah masuk dan berjongkok di sisi kanan kursi yang diduduki Giany. Ia menatap dalam-dalam wajah itu dengan kepingan rasa bersalah yang besar karena Giany memilih menghapus kembali make up-nya.


Sementara Giany tidak berani menoleh pada Allan akibat belenggu rasa malu. Hati kecilnya berkata, mungkin dirinya tak pantas untuk mempercantik diri, karena itulah suaminya jadi marah.


Tangannya yang berkeringat terus mengusap wajahnya dengan tissue basah. Seiring dengan suara sesegukan yang sejak tadi berusaha ia tahan, tetapi anehnya malah terdengar semakin jelas menyiratkan kesedihan.


Niat untuk memberi kejutan manis untuk sang suami malah berbalik mengejutkannya, karena Allan menyambutnya dengan bentakan. Rasa sakit itupun semakin mendalam ketika Allan menyampaikan rasa kecewanya.


“Sayang ...” Allan meraih pergelangan tangannya, sehingga tissue basah yang digenggam Giany jatuh ke lantai. “Maafkan aku. Aku yang salah.”


Giany menggeser posisi duduknya ke ujung, sehingga Allan dapat duduk di sisinya. Ia meraih kembali tissue basah dan mengusap wajahnya. Tetapi isak tangisnya belum dapat ia kendalikan. Masih terus terdengar.


“Tidak, Mas. Aku yang salah. Aku pikir ... Kalau aku tampil cantik akan membuat Mas senang. Aku lupa ... bahwa seharusnya aku sadar dengan apa yang cocok dan tidak untukku.” Ucapan Giany tersendat-sendat karena bercampur dengan isak tangis, namun Allan dapat memahami dengan baik.

__ADS_1


“Kamu cantik, Sayang ... Sangat cantik.” Ia mengusap air mata yang baru saja mengalir di pipi Giany. Semakin Giany berusaha menahannya, semakin deras air matanya mengalir. “Maaf, aku tidak sengaja membentakmu. Aku terlalu panik karena ini pertama kalinya kamu keluar rumah tanpa meminta izin dariku, selain itu kamu pulang malam dan tidak bisa dihubungi. Aku hanya takut terjadi apa-apa.”


Giany meletakkan tissue basah yang habis dipakainya ke tempat sampah yang berada di sisi meja rias, lalu meraih tissue basah yang baru.


“Tadi aku beberapa kali hubungi Mas untuk minta izin keluar, tapi nomornya tidak aktif. Jadi aku hubungi Suster Selma dan titip pesan sama dia.”


Kening Allan mengerut. Ia mencoba mengingat sepanjang hari tadi, Selma sama sekali tidak memberitahunya tentang pesan Giany.


... Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu titip pesan sama Selma.”


“Aku yang seharusnya minta maaf, Mas. Hape aku kehabisan baterai dan lupa bawa charger. Aku tidak hafal nomor siapapun di rumah. Aku tidak tahu kalau perawatan di salon itu menghabiskan waktu berjam-jam. Aku minta maaf, Mas ... aku tidak akan melakukannya lagi.”


“Tidak apa, kamu tidak salah," ujarnya seraya mengusap rambut. "Tapi kenapa harus merubah dirimu, Sayang? Bagaimana pun kamu, aku tetap mencintaimu.”

__ADS_1


“Aku tahu, tapi aku merasa tidak percaya diri dan tidak layak. Aku habis merapikan album-album foto dan menemukan banyak foto di sana. Melihat foto teman-teman Mas dan istrinya masing-masing yang cantik dan anggun, aku jadi merasa tidak layak berada di antaranya. Aku berasal dari kasta yang berbeda. Aku sangat jauh di bawah mereka. Aku pikir ... Mungkin Mas akan malu karena aku akan berbeda dari istri-istri teman Mas yang lain.”


Allan tidak menjawab. Ia seolah memberi ruang bagi Giany untuk menumpahkan semua yang ada di benaknya.


“Elsa, Sheila, dan Naya ... Mereka berasal dari keluarga kaya raya. Sedangkan Via ... Meskipun dia besar di panti asuhan, tapi dia ternyata anak seorang designer terkenal. Sedangkan aku siapa, Mas? Aku bukan siapa-siapa. Giany Namira hanya seorang bekas SPG toko sepatu, dengan masa lalu yang kelam. Aku lihat foto-foto Bu Ayra. Bahkan seujung kuku pun, aku tidak layak dibandingkan dengannya. Makanya aku juga mau tampil cantik seperti mereka, biar Mas tidak malu memiliki istri seperti aku.”


Allan masih bungkam. Bagai dihimpit bongkahan batu besar, dadanya terasa sesak.


Bukannya dengan pujian, usaha Giany untuk menyenangkannya malah ia sambut dengan bentakan.


🌻🌻🌻


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2