Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 133


__ADS_3

Perasaan Giany menjadi jauh lebih damai setelah mengunjungi makam putranya. Beban kerinduan yang membelenggunya selama beberapa waktu belakangan mulai sirna, ia mulai paham bahwa sesungguhnya tak ada daun yang akan gugur tanpa seizin sang pencipta.


Hari ini ia akan melakukan pemeriksaan untuk pertama kali sejak kehamilan keduanya. Giany sudah duduk manis di dalam ruangan praktek suaminya sendiri. Sejak beberapa menit lalu, pandangannya tak pernah lepas dari wajah sang suami.


Siapa yang menyangka, tahun lalu ketika pertemuan pertamanya dengan Allan, ia datang sebagai pasien. Gugup dan malu adalah kesan pertama saat bertemu. Dan kejutan tak terduga, sekarang ia duduk di ruangan yang sama dengan status yang berbeda. Sebagai istri dari dokter Allan Hadikusuma.


“Kenapa sih, dari tadi menatap aku begitu?” tanya Allan menyadari sejak tadi Giany memandanginya. Ia sibuk merapikan meja kerjanya, Giany adalah pasien pertama pagi ini.


“Tidak apa-apa, Dokter.” Ia tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Panggilan dokter yang disematkan Giany membuat Allan terkekeh.


“Hmm ... Mulai deh, istriku pasienku.” Allan memasang alat tensimeter di lengan kiri Giany untuk memeriksa tekanan darah.


Sementara Giany terus menatapnya penuh cinta.


“Sekarang baring ya ... Kita USG dulu.”


"Baik, Dokter." Lagi-lagi tingkah lucu dan centil Giany membuat Allan tersenyum.


Dengan dibantu seorang bidan muda, Giany membaringkan tubuhnya di ranjang pasien.


Bidan bernama Selma itu lantas memakaikan selimut tipis menutupi bagian bawah tubuh Giany, ia hendak menyibak pakaian untuk mengoles gel di perut.


“Bidan Selma ...” Panggilan Allan membuat wanita itu menoleh.


“Iya, Dokter.”

__ADS_1


“Khusus pasien satu ini, biar saya saja yang layani sepenuhnya. Soalnya dia agak pemalu orangnya. Kamu duduk aja dulu.”


Selma merespon dengan senyuman. Ia lalu beranjak menuju meja untuk memeriksa daftar antrian pasien dan membiarkan sang dokter memeriksa pasien istimewanya.


Allan menyibak pakaian Giany hingga bawah dada dan mengoleskan gel dingin ke atas perut. Pandangan Giany pun mengikuti kemana tangan suaminya bergerak.


“Tidak malu lagi kayak waktu itu?” sindir Allan mengingat pertama kali memeriksanya, Giany malah menutup perutnya dengan selimut karena malu.


“Tidak lagi, Mas. Kamu kan sudah keseringan lihat.”


“Oh iya ya ...” Mereka cekikikan berdua, membuat si bidan yang berada di ruangan yang sama baper sendiri. Wanita itu pun menyembunyikan senyumnya, sebab dokter Allan sangat berbeda jika yang menjadi pasien adalah istrinya sendiri.


Menggeser alat di permukaan kulit perut Giany, Allan lantas menatap layar monitor dengan senyum lebar. Ada kebahagiaan yang berbeda. Ya, makhluk kecil yang tampak dalam layar monitor adalah anaknya sendiri. Allan terlihat sangat antusias.


"Nah ini janinnya. Dia sedang tumbuh di perut kamu."


“Iya, Sayang.” Allan tersenyum, tatapannya tak lepas dari layar monitor. Tangan satunya masih menggeser alat di atas perut Giany, sementara tangan yang satu mengusap puncak kepala.


Allan pun menjelaskan kepada Giany perkembangan janin di usia kehamilan tujuh minggu. Giany mendengarkan dengan gurat bahagia di wajahnya. Hari ini Yang Kuasa menunjukkan banyak hal yang patut disyukuri. Alam bawah sadar Giany mulai membandingkan masa kehamilannya yang dulu dengan sekarang. Sangat berbeda.


_


“Mas ... Apa boleh aku di sini menemani Mas seharian?” tanya Giany setelah selesai dengan pemeriksaan USG.


“Yakin?” Allan melirik angka yang ditunjuk jarum jam di dinding. “Ini baru jam sebelas loh, Sayang. Aku masih lama pulangnya.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku mau di sini hari ini saja menemani Mas.”


“Boleh. Kamu duduk di sofa itu saja ya. Kalau capek bisa baring.” Allan menunjuk sebuah sofa di sudut ruangan tak jauh dari tempatnya duduk.


“Iya, Mas.”


Allan pun memulai rutinitas menjadi seorang dokter kandungan. Pasien antri di depan sudah semakin padat.


Ia mulai melayani satu persatu dan mendengarkan setiap keluhan dengan sabar dan memberi arahan dengan baik. Pasien yang datang pun berbeda-beda karakternya. Ada yang pemalu, ada yang biasa saja dan ada pula yang cukup centil karena dokternya tampan.


Tak hanya ibu hamil, beberapa wanita datang untuk berkonsultasi seputar masalah reproduksi.


Di balik sebuah tirai, Allan dibantu Bidan Selma sedang menangani seorang pasien yang akan memasang alat kontrasepsi. Giany harus beberapa kali menahan rasa cemburu ketika melihat suaminya menyentuh wanita lain, bahkan saat harus melihat area paling pribadi.


“Tolong jangan kaku. Coba buka sedikit!” Ucapan Allan membuat Giany terlonjak dan berdiri dari duduknya. Ia reflek menggigiti kuku-kukunya, membayangkan sedang apa suaminya di balik tirai itu.


Stop Giany, jangan cemburu! Suaminya pasien ada di dalam sana juga kok. Untuk apa kamu cemburu? Suaminya pasien itu juga biasa-biasa saja.


Ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa Allan hanya sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter dan itu sudah merupakan hal biasa baginya.


Dengan wajah sedikit memucat, Giany duduk kembali saat melihat tirai berwarna biru yang sejak tadi menjadi penghalang terbuka. Allan, Bidan Selma dan pasangan suami-istri itu juga tampak keluar.


Allan menatap Giany sekilas, alisnya saling bertaut menyadari wajah lesu istrinya.


“Kamu kenapa mukanya begitu?”

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku mau pulang aja, Mas," jawab Giany membuat kerutan di dahi Allan semakin dalam.


🌼


__ADS_2