Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 134


__ADS_3

“Kok pulang sih?” Allan melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. “Tanggung kalau pulang sekarang. Aku sebentar lagi selesai, kok.”


“Ya sudah, aku tunggu saja.”


Akhirnya Giany pasrah. Ia duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya. Sesekali pandangannya mengarah kepada pasien wanita yang sedang berkonsultasi ditemani suaminya. Dalam hatinya muncul tanda tanya, mengapa suami dari wanita itu tidak keberatan berkonsultasi dengan seorang dokter pria. Bahkan suami pasien tersebut tampak lebih antusias dibanding istrinya.


Giany baru bernapas lega setelah pasangan suami-istri itu keluar dari ruangan.


Hufft akhirnya ...


“Di luar masih ada orang?” tanya Allan kepada sang asisten.


“Tidak ada lagi, Dokter. Yang tadi itu pasien terakhir.”


“Oh ...” Allan menatap Giany dan tersenyum. Merapikan alat-alat medis yang tadi digunakan dan memasukkan ke dalam laci. Setelah merapikan ruangan, Bidan Selma sudah keluar lebih dulu, meninggalkan Allan dan Giany lebih dulu.


“Yuk pulang.” Giany berdiri dari duduknya dan meraih tas yang berada di sudut sofa, juga foto hasil USGnya tadi pagi yang berada di atas meja kerja suaminya.


Mereka pun keluar dari ruangan itu untuk segera pulang. Giany harus beberapa kali menunduk malu ketika beberapa dokter dan perawat yang berpapasan di lorong-lorong rumah sakit menyapa. Allan berjalan dengan melingkarkan tangan di pinggang. Ia tahu Giany sangat pemalu dan kadang tidak percaya diri.


Melewati ruangan Instalasi Maternal, seorang wanita berpakaian putih berlari ke arah mereka dengan tergesa dan panik.

__ADS_1


“Dokter tolong!”


Langkah Allan dan Giany seketika terhenti mendengar panggilan itu. “Ada apa, Suster?” tanya Allan.


“Ada pasien bersalin baru masuk yang butuh bantuan darurat, Dokter. Sementara Dokter Mila sudah pulang dua jam lalu, setelah mendapat kabar duka dari keluarga.”


"Persalinan normal ya?”


“Tadinya rencana persalinan normal, Dok. Tapi setelah diperiksa, pasien ternyata memiliki masalah darah tinggi.”


Allan menatap Giany yang terlihat ikut khawatir mendengar kondisi pasien. Berbeda dengan Allan yang masih terlihat cukup santai.


“Iya, Mas. Tidak apa-apa. Biar aku saja yang hubungi Pak Amir.”


“Ya sudah kamu tunggu Amir di dalam saja.”


Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Instalasi Maternal. Seorang wanita sudah terbaring di ranjang pasien seraya mengerang kesakitan memegangi perutnya. Sementara di sisi pembaringan ada dua orang bidan dan juga suami pasien.


Giany duduk di sebuah sofa panjang di sudut ruangan itu. Memperhatikan kesibukan para petugas kesehatan yang menjalankan tugas masing-masing.


Allan sedang bersiap untuk tindakan pemeriksaan bukaan dengan memasang sarung tangan. Ia lalu bergegas mendekati pembaringan pasien.

__ADS_1


“Maaf ... saya periksa dulu ya, sudah pembukaan berapa,” ucap Allan dengan senyum ramah.


Menyadari yang akan menangani istrinya adalah seorang dokter pria, mata suami pasien tersebut pun melotot tajam menatap Allan.


“Tunggu! Apa tidak ada seorang dokter wanita untuk menangani istri saya?” Suara laki-laki itu terdengar lantang, membuat Allan dan beberapa perawat berhenti sejenak.


Giany langsung menoleh ke sumber suara akibat terkejut, tetapi pandangannya terhalangi oleh sebuah tirai pembatas.


“Tidak ada, Pak. Dokter wanita yang bertugas sore ini sedang berhalangan. Jadi saya yang menggantikan.”


Laki-laki itu pun menjadi gusar, dari sikapnya terlihat sangat jelas jika dirinya tak rela istrinya ditangani seorang dokter pria. “Kalau begitu bidan saja yang tangani. Tidak usah Dokter.” Sambil menunjuk beberapa orang bidan yang berdiri tak jauh darinya.


“Maaf, Pak. Tapi perawat dan bidan tidak diizinkan untuk menangani persalinan pasien yang memiliki masalah darah tinggi. Sementara istri bapak butuh pertolongan secepatnya, dan hanya saya saja dokter kandungan yang ada sekarang.”


“Tapi itu aurat, Dokter! Dokter mengerti itu, tidak! Tahu etika dan agama, tidak?” suara teriakan laki-laki itu kembali mengejutkan semua orang termasuk Giany.


Giany lantas mengarahkan pandangannya ke sumber suara, meskipun tidak dapat melihat karena tertutup tirai.


Ia pun kini mengerti, pekerjaan suaminya tidak semudah yang ia pikirkan. Ada tanggung jawab yang sangat besar di dalamnya. Terutama dalam menangani pasien dan memberi pemahaman kepada keluarga pasien.


🌻

__ADS_1


__ADS_2