Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 114


__ADS_3

Yanie kembali masuk ke dalam dan tak lama kemudian, Ayra keluar. Ia menatap Freddie penuh tanya. “Mau apa kamu kemari?”


Laki-laki itu masih tersenyum, Yanie pun keluar dengan membawa dua buah koper. Melihat itu, Ayra masih tampak bingung. Ada apa ini sebenarnya? Pertanyaan itu memenuhi benaknya.


“Saya kemari untuk menjemput Bu Ayra.”


Kerutan di kening Ayra semakin dalam, pertanda semakin bingung. Ia melirik Yanie dan Freddie bergantian. “Memang kamu mau bawa saya kemana?”


“Yang jelas bukan ke penjara,” jawabnya singkat.


“Saya tidak mau ikut kamu!”


“Maaf, Bu Ayra. Tapi Ibu harus ikut saya. Bu Ayra sudah melanggar kesepakatan dengan Dokter Allan dan berdasarkan isi kesepakatan, maka Bu Ayra akan dikenakan sanksi.”


“Kesepakatan mana yang saya langgar?” tanyanya setengah berteriak.


Freddie masih bersikap tenang, kemudian menyerahkan sebuah map ke tangan Ayra. “Ibu baca poin ke empat ... Di situ tertulis, kalau Bu Ayra melakukan kesalahan yang sama, maka Bu Ayra harus mengikuti apapun keputusan Dokter Allan tanpa bantahan. Semalam Dokter Allan meminta saya menjemput Ibu. Jadi mohon agar Ibu Ayra ikut saya.”


Ayra membeku. Pikirannya masih belum mampu menebak.


Setelah sedikit perlawanan dan bujukan dari Yanie, Ayra akhirnya pasrah mengikuti ke mana pun sang pengacara akan membawanya. Setidaknya ia tidak perlu takut karena Freddie bekerja sesuai permintaan Allan. Lagi pula ada Joko dan Amir ada di mobil yang sama.


Tiba di sebuah gedung, bola mata Ayra melebar. Joko membukakan pintu mobil, sedangkan Amir mengeluarkan koper milik Ayra.


Dengan suara bergetar, Ayra berkata, “Pusat rehabilitasi narkoba ... Kenapa kalian bawa saya kemari?”

__ADS_1


“Bu Ayra ... Ini sudah menjadi keputusan si bos. Lagi pula semua demi kebaikan Ibu, ” jawab Joko.


Mereka kemudian membawa Ayra masuk ke dalam, meskipun Ayra terus memberontak dan menolak.


Setelah semua urusan selesai, Joko, Amir dan Freddie mendekati Ayra yang baru saja selesai diperiksa oleh seorang dokter wanita.


Sebentar lagi beberapa petugas akan membawa Ayra ke kamar yang telah disiapkan sebelumnya.


“Bu Ayra akan menjalani rehabilitasi selama enam bulan di sini. Jangan khawatir soal biaya dan keperluan Ibu, karena semua akan dicover oleh Dokter allan. Semua hutang-hutang Bu Ayra juga akan dilunasi. Jadi Ibu bisa berobat dengan tenang di sini,” kata Freddie.


"Enam bulan?"


Freddie mengangguk. "Benar, Bu. Setelah Bu Ayra dinyatakan bebas dari ketergantungan obat terlarang, baru Bu Ayra bisa keluar dari sini."


Ayra mengusap air matanya. Bibirnya belum sanggup mengucapkan sepatah kata pun.


Setelahnya, petugas pun membawa Ayra masuk, sedangkan Freddie, Joko dan amir segera pergi dari sana.


Tiba di sebuah kamar, Ayra menatap nanar ruangan itu. Sebuah kamar sederhana dengan satu tempat tidur berukuran kecil yang hanya muat satu orang berikut sebuah lemari. Di dinding tertempel kertas bertuliskan beberapa peraturan.


Wanita berambut sebahu itu menjatuhkan tubuhnya duduk di tepi ranjang, menatap amplop putih pemberian Joko tadi. Ayra membuka dan mengeluarkan secarik kertas putih dengan tulisan tangan Allan di sana.


________


Ayra ...

__ADS_1


Aku minta maaf ...


Semua yang terjadi padamu sekarang adalah karena kegagalanku dalam membimbingmu.


Aku tahu kamu sakit. Aku juga sakit melihatmu dalam keadaan seperti ini. Setidaknya, kamu adalah ibu yang sudah melahirkan anakku, aku ingin melihat kamu bahagia dan menjalani hidup yang baru seperti aku.


Kalau kamu tidak bisa memperbaiki diri untuk dirimu sendiri, maka lakukan lah untuk anakmu, Maysha.


Dengan begitu, mungkin suatu hari nanti Maysha akan bangga mengenalkan dirinya sebagai anak dari seorang Ayra Maeva.


Kenapa kita tidak bisa hidup berdampingan tanpa saling menyakiti?


Kita memang sudah berakhir sebagai pasangan. Mungkin jodohnya sudah sampai di situ. Tapi kita bisa Memulai semuanya dari awal. Sebagai teman, sebagai saudara, dan sebagai keluarga ...


Membesarkan Maysha bersama.


Allan.


_____


Ayra memeluk kertas putih itu, dengan linangan air mata. Jika boleh berkata, maka hanya satu ... Ia menyesal!


Dalam kesendirian, Ayra meratapi nasibnya.


"Allan ... Maysha ..."

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2