
Tanpa mempedulikan apapun, ia menarik pergelangan tangan Giany menuju mobilnya yang hanya berjarak kurang dari lima meter dari posisi mereka berada sekarang. Walaupun Giany berusaha memberontak, namun tenaganya kalah jauh dari Desta.
Allan baru saja tiba. Begitu melihat Desta menyeret Giany, ia segera turun dari mobil. Laki-laki itu menggeram, sorot matanya memancarkan kemarahan. Terlebih saat melihat Maysha terjerembab di lantai sambil menangis histeris. Kali ini ia tidak akan mengampuni Desta.
Secepat kilat, Allan menarik kemeja bagian belakang Desta, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.
Bugh! Bugh!
Kepalan tangan Allan mendarat mulus ke wajah Desta hingga jatuh tersungkur. Allan kemudian menarik Giany dan melingkarkan tangan di bahu wanita itu.
Giany yang masih diselimuti ketakutan, bersandar di dada Allan. Ia masih mengatur napasnya yang memburu, dengan kesadarannya yang hampir hilang akibat ketakutan.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Allan sambil mengeratkan tangannya yang melingkari tubuh Giany.
“Ti-tidak apa-apa, Dokter,” jawabnya terbata.
Mendengar suara tangisan Maysha, Giany pun tersadar. Ia segera melangkah ke arah Maysha yang masih menangis di belakang sana. Berjongkok di hadapan Maysha, lalu memeluk dan menenangkan gadis kecil yang sedang ketakutan itu.
"Sayang, sudah ... tidak apa-apa. Maysha tenang ya. Jangan takut, sudah ada ayah di sini."
Maysha masih ketakutan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Giany.
Allan kembali melirik Desta.
“Masih berani juga kamu mendekati Giany, hah!” bentak Allan.
Desta bangkit. Tangannya terkepal pertanda geram. Allan selalu saja menghalanginya untuk membawa Giany pulang. Tetapi, ia tak dapat berbuat apa-apa jika sudah berhadapan dengan dokter itu, sebab dirinya sadar tidak akan menang. Dua bogem mentah Allan saja sudah cukup untuk membuatnya terpental.
"Dia istri saya dan saya berhak membawa dia pulang!" ujar Desta tak terima. "Kamu mau pukul saya, silakan! Tapi saya tidak akan menyerahkan Giany kepada kamu!"
Allan menarik napas dalam, mencoba meredam kemarahan yang terasa membakar tubuhnya. Jika saja bukan di tempat umum, mungkin ia sudah menghajar Desta habis-habisan. Menyaksikan sendiri laki-laki itu menyeret Giany dan mendorong Maysha saja sudah membuat kemarahannya menembus ubun-ubun.
__ADS_1
Tetapi ketika melihat beberapa orang dan petugas keamanan yang berjalan ke arah mereka, ia pun sadar bahwa Desta sedang berusaha memancing emosinya. Allan tidak ingin terpancing. Jika dirinya meladeni Desta, sama saja dengan menyerahkan Giany.
“Maaf, ada apa ini?” tanya seorang petugas keamanan.
"Pak, wanita yang di belakang itu is ..."
Belum sempat Desta menyelesaikan kalimatnya, Allan sudah menginjak kakinya dengan menekan, berikut tatapan yang begitu mengintimidasi, kemudian berbisik pelan,
"Berani kamu sebut Giany sebagai istri kamu, saya jebloskan kamu ke penjara! Ingat, saya punya bukti yang bisa menyeret kamu untuk tinggal di hotel prodeo dalam waktu yang lama."
Desta mundur beberapa langkah setelah mendengar bisikan bernada ancaman dari Allan.
"Maaf Pak, laki-laki ini berusaha mengganggu istri dan anak saya," ucap Allan membuat Desta mendelik. Tidak terima jika Allan menyebut Giany sebagai istrinya.
Juga dengan Giany yang langsung menatap heran Allan yang tiba-tiba menyebut dirinya sebagai istri.
Allan masih menatap Desta, kali ini lebih mengintimidasi. Ia bahkan sadar bahwa laki-laki di depannya sedang menahan amarah, terlihat dari tangannya yang mengepal. Tetapi, bukan Allan namanya jika peduli dengan amarah Desta.
"Apa benar yang dikatakan bapak ini, Pak?" tanya sang petugas keamanan.
"A-yaah ..." panggil Maysha membuat Allan menoleh ke belakang.
“Iya, Nak. Tunggu sebentar ya ..." ucapnya sambil tersenyum kepada Maysha. Sementara Giany terdiam dan tidak berani lagi menoleh. Terlebih saat menyadari raut kemarahan yang terpancar dari wajah Desta.
"Sayang, bawa Maysha ke mobil ya,” ucapnya lembut kepada Giany, membuat Desta semakin geram.
Giany membeku. Rasa tak percaya mendengar panggilan sayang yang disematkan Allan untuknya. Wajahnya yang pucat seketika berubah merah.
"Sayang ... tunggu di mobil saja, aku bereskan ini dulu," pintanya sekali lagi.
Sadar dengan kedipan mata Allan, Giany pun segera menjawab, "I-iya, Ma-Mas."
__ADS_1
Allan mengangguk pelan, tetapi dalam hati bersorak.
Akhirnya dipanggil mas juga.
Giany segera membawa Maysha ke dalam mobil yang tidak jauh dari lokasi mereka. Sementara Desta menatap nanar punggung Giany yang pergi membelakanginya begitu saja.
"Pak, Maaf, saya perlu bicara berdua dengan bapak ini untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini," ucap Allan kepada beberapa petugas keamanan.
"Boleh, Pak. Tapi tolong, jangan buat keributan di sini."
"Baik, saya mengerti."
Beberapa orang dan petugas yang tadi berkerumun mulai menjauh, meninggalkan Desta dan Allan berdua. Begitu melihat petugas keamanan menjauh, Desta menarik kerah kemeja Allan.
"Kamu pikir bisa merebut Giany dari saya dengan cara licik seperti ini?" ucap Desta. "Kamu belum tahu siapa saya!"
"Silakan kalau kamu mau menantang saya. Tapi saya jamin, kamu tidak akan berhasil. Dan perlu kamu tahu satu hal." Allan menjeda ucapannya dengan helaan napas dan senyum kepuasan. "Giany sudah melayangkan gugatan cerai hari ini. Jadi kamu, silakan duduk manis di rumah menunggu panggilan sidang."
Sepasang netra Desta membulat penuh. Ia tidak serta merta percaya begitu saja mendengar ucapan Allan. "Dan kamu pikir saya akan percaya dengan kebohongan kamu?"
"Terserah! Itu hak kamu untuk percaya atau tidak."
"Pasti kamu kan yang mempengaruhi Giany untuk menggugat cerai saya?"
"Anggap saja begitu. Dan saya ingatkan, jangan coba-coba datang ke persidangan, apalagi meminta mediasi dari pengadilan. Kalau kamu berani, kamu akan tahu akibatnya."
Setelah mengucapkan kalimat mematikan itu, Allan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Desta masih mematung di tempatnya. Untuk ke dua kalinya, Allan membawa Giany tepat di depan matanya, tetapi lagi-lagi ia tak dapat berbuat apa-apa.
_
__ADS_1
_
🌻🌻