
“Ayra mau bertemu dengan Maysha?” Allan menatap Joko dengan kening berkerut—seolah menuntut untuk segera dijawab.
Joko dengan cepat menganggukkan kepala, menyadari sang bos cukup terkejut dengan dua laporan yang ia sampaikan.
“Bu Ayra bilang tidak akan macam-macam. Katanya rindu sama nona kecil. Bu Ayra juga titip pesan, kalau bisa bos sama Bu Giany juga ke sana.”
“Tapi itu pusat rehabilitasi, Jo. Saya tidak mau Maysha tahu seperti apa ibunya. Maysha sudah cukup terluka dengan perbuatan Ayra selama ini.”
“Saya sudah beritahu kemungkinan itu ke Bu Ayra, Bos. Tapi Bu Ayra bilang akan meminta sebuah ruangan khusus, supaya pertemuannya dengan nona kecil tidak terganggu.”
Allan menghembuskan napas kasar. Meskipun ia telah memaafkan Ayra dan berjanji akan memberinya kesempatan untuk membesarkan Maysha bersama, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa ia masih mengkhawatirkan mental putri kecilnya.
Maysha baru saja pulih dari trauma. Dan Ayra adalah penyebab trauma berkepanjangan itu. Allan boleh merasa beruntung bertemu Giany, karena kasih sayang Giany kepada Maysha mampu mengisi kekosongan di hati gadis kecil nan rapuh itu.
“Ya sudah. Saya akan bicarakan dulu dengan bundanya Maysha.”
“Baik, Bos.”
“Ada laporan lain?”
Laki-laki bertubuh subur itu mengangguk, “Ada, Bos. Laporan keuangan dari May-Day. Tapi Amir mungkin punya laporan lain.”
“Tidak usah.” Allan menyela dengan cepat. “Biasanya laporan amir bikin imun dan iman nggak aman.”
“Hehehe.”
__ADS_1
__
__
Hari sudah beranjak senja saat pembicaraan serius antara Allan dan Joko selesai. Ia segera menuju kamar yang kini terletak di ujung lantai satu.
Sebelum berangkat untuk liburan, Allan menugaskan Amir dan Joko, berikut beberapa orang lain untuk memindahkan seisi kamar dari ujung lantai tiga ke ujung lantai satu.
Kondisi Giany yang sedang hamil muda membuatnya cukup over protective sehingga memilih pindah kamar.
“Kamarnya lumayan bagus ya ...” Suara Allan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuyarkan lamunan Giany.
Wanita itu sedang berdiri dan bersandar pada daun jendela. Pandangannya mengarah pada kolam renang yang terlihat dari kamar mereka. Ia tampak menyeka air mata ketika Allan datang.
“Iya, Mas. Kamarnya bagus sekali. Aku suka.”
Giany kembali membelakangi Allan dan memandangi warna biru kolam renang dengan tatapan nanar. Hampir terlonjak ketika Allan melingkarkan tangan di perut. Tangan laki-laki itu menyelinap masuk ke dalam pakaian Giany dan mengusap perut yang masih rata.
“Sayang ... Ada yang mau aku bicarakan.”
“Apa, Mas?”
“Hal serius. Aku butuh pendapat kamu.” Ia membawa Giany untuk duduk di sofa. Merangkul dan menyandarkan kepala wanita itu bahunya. Setidaknya, hati Giany sedikit menghangat dengan pelukan itu.
Allan terdiam beberapa saat. Ia mengecup wajah istrinya beberapa kali.
__ADS_1
“Ada apa, Mas? Tadi katanya ada hal penting yang mau dibicarakan.”
“Itu ... Ayra.”
“Bu Ayra? Bu Ayra kenapa?”
“Dia mau bertemu dengan Maysha. Menurut kamu bagaimana?”
Giany tak segera menjawab dan memilih diam. Sebenarnya agak ragu, sebab akan terasa egois baginya jika tidak mengizinkan seorang ibu kandung menemui anaknya sendiri. Dan bagaimana pun juga, Ayra juga berhak atas Maysha.
"Terserah Mas saja. Aku ikut apa kata Mas Allan."
"Tapi kamu kan juga bundanya Maysha. Kamu berhak menolak kalau keberatan."
Wanita itu tersenyum dengan tulus, membelai wajah Allan dengan tangannya.
"Aku tidak keberatan, Mas. Bu Ayra kan ibu kandungnya Maysha. Setiap ibu memiliki hak untuk menunjukkan kasih sayang kepada anaknya," ujarnya dengan lirih.
"Terima kasih, Sayang. Hatimu sangat lembut. Aku dan Maysha sangat beruntung memiliki kamu."
"Aku juga beruntung memiliki kalian."
Giany bersandar lagi di dada suaminya, menyembunyikan air mata yang sejak tadi memaksa untuk menetes.
Hatinya sedang dirundung kesedihan, tetapi tak berani mengungkapkan demi menjaga perasaan sang suami.
__ADS_1
🌻