
Jika Allan dan Giany sedang bahagia, maka berbeda hal nya dengan Desta. Sejak diangkat menjadi manager marketing oleh Allan, ia banyak menghabiskan waktu di tempat hiburan malam untuk sekedar minum. Kebaikan Allan menciptakan rasa malu pada dirinya sendiri.
Di hadapannya kini ada Aluna yang sedang berdiri menatapnya. Gadis itu datang setelah menerima kabar dari Rendy.
"Kamu kenapa sih Des, sekarang jadi suka minum-minum begini?" tanya Aluna.
Desta menarik napas dalam, baru tersadar keberadaan Aluna di sana. "Kamu sedang apa di sini, Lun?"
"Jemput kamu!"
Desta terdiam. Ia meraih gelas minuman. Aluna pun duduk di sisinya.
"Lun, aku rasa aku akan resign dari May-Day." Ucapan Desta membuat dahi Aluna berkerut. Sebab ia tahu seberapa besar Desta mencintai May-Day. Karenanya, selama bekerja, Desta semaksimal mungkin berusaha memajukan perusahaan itu. Jauh sebelum ia mengenal Giany dan Allan.
"Resign? Kenapa?"
Jika mengingat semua perbuatannya di masa lalu, rasanya akan sangat memalukan jika masih bernaung pada perusahaan milik Allan.
"Aku malu. Pak Allan sama Giany terlalu baik." Sepasang bola mata Desta telah dipenuhi cairan bening.
"Pak Allan kan sudah memaafkan kamu.
"Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku, Lun. Aku bisa bersikap profesional di hadapan Pak Allan. Aku juga bisa berpura-pura biasa di hadapan Giany. Tapi ... Aku benar-benar merasa malu."
Aluna menepuk bahu Desta. "Kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua."
"Tidak, kesalahanku terlalu besar. Aku menuduh Giany sebagai perempuan jahat yang sengaja menjebak aku untuk memisahkan kita. Dan aku terlambat menyadari semuanya?"
"Semua itu bukan sepenuhnya salahmu. Rendy sudah cerita semua. Marlyn mau menjebak kamu dengan mencampur obat perangsang ke minumanmu malam itu kan? Kamu dan Giany hanya korban."
"Tapi aku terlalu jahat sama Giany dan aku menyesal."
"Dan mabuk-mabukan bukan jalan keluar. Kalau begini kamu malah hanya akan menghancurkan semuanya."
"Terus aku harus bagaimana, Lun?"
"Des ... Kamu sudah menyadari semua kesalahanmu dan itu sudah cukup. Besok kan kamu diminta Pak Beni ke rumah Pak Allan. Kamu bisa gunakan kesempatan itu untuk minta maaf sama Giany."
"Aku malu."
"Aku akan temani."
"Apa Giany bisa memaafkan aku?"
"Giany wanita yang baik. Dia pasti akan memaafkan kamu."
__ADS_1
Desta terdiam. Ia teringat semua perlakuan buruk ya terhadap Giany. Dan semua penyesalan itu seakan mampu membunuhnya.
🌻🌻🌻🌻
Ada semangat dan harapan baru dalam keluarga Hadikusuma pagi itu. Giany terbangun dengan sejuta kebahagiaan karena tak lama lagi akan menjadi seorang ibu. Sedangkan Allan larut dalam kebahagiaannya sendiri. Ia baru saja memamerkan keberhasilannya dalam perkembangbiakan kepada teman-temannya di grup whatsapp.
“Aku ke rumah sakit dulu. Nanti siang aku jemput dan kita langsung berangkat.” Allan mengecup keningnya dengan sayang.
“Iya, Mas.”
“Jangan lupa bawa beberapa baju hangat. Di sana udaranya lumayan dingin, apalagi kalau menjelang subuh.”
Meskipun belum tahu kemana Allan akan membawanya liburan, namun Giany tidak banyak bertanya. Ia tahu Allan selalu ingin membuatnya bahagia dengan cara yang berbeda.
“Aku harus bawa makanan juga ya?”
“Bawa, Sayang ... Di sana tidak ada resto.”
“Aku bawa makanan apa buat Mas?”
“Apa saja. Yang penting kamu jangan lupa bawa serabi sama dorayaki, kasihan si Arnold kalau tidak makan serabi.”
Kening Giany mengerut mendengar ucapan Allan. Rupanya misteri antara Arnold dan serabi belum juga terpecahkan. “Loh, bukannya Mas bilang kita perginya berdua saja ya. Terus kenapa Arnold boleh ikut tapi Maysha sama ibu tidak boleh ikut?”
“iyalah si Arnold ikut. Dia bukan mainan lego yang bisa dicopot dan dipasang sesukanya.” Allan merangkul bahu Giany dan berjalan beriringan keluar kamar. “Pelan-pelan turun tangganya. Nanti aku minta Amir dan Joko memindahkan kamar kita ke ujung lantai satu saja, supaya kamu tidak capek naik turun tangga.”
“Tidak apa-apa. Nanti pos penjaga aku pindahin ke ujung lantai tiga biar jauh,” jawab Allan santai membuat Giany tertawa.
“Mas kok lucu sih? Bagaimana ceritanya Pak Amir pindah ke ujung lantai tiga?”
“Sengaja. Biar nanti giliran kita yang ngeronda setiap malam.”
Giany tersipu malu sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya. Untuk kali ini ia cukup mampu menangkap arah pembicaraan suaminya.
Mereka tiba di meja makan. Sudah ada Maysha, Bu Dini dan Bibi Misa di sana. Adapun seorang asisten rumah tangga yang sedang menata beberapa menu di meja. Allan menambah beberapa pekerja wanita setelah pindah ke rumah itu, karena beberapa waktu ke depan Bibi Misa akan beristirahat dan kembali ke kampung halamannya.
“Selamat pagi semua,” ucap Allan menyapa penuh semangat.
“Pagi, Allan ... Giany ... ayo cepat sarapan.”
Allan menarik kursi untuk Giany.
“Makasih, Mas.”
Menyadari raut wajah Allan yang sangat cerah, Bu Dini pun menjadi penasaran. “Kamu pagi ini kayak lagi senang kayak habis menang undian.”
__ADS_1
“Iya, Bu. Aku dan Giany ada kabar bahagia.”
“Oh ya ... Kabar apa?”
Allan tersenyum bangga. “Ibu harus siap-siap, karena sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah.”
sontak bola mata Bu Dini melebar mendengar ucapan putra semata wayangnya itu. “Anggota keluarga baru? Kamu mau nikah lagi?” tanya Bu Dini dengan mata melotot, yang mana membuat Allan terkejut. Beruntung teh manis yang baru diseruput tidak menyembur keluar.
“Bukanlah, Bu. Ibu kok pikirannya bisa ke sana. Dapat yang ini saja susah, sampai harus pakai misi merebut.”
“Lalu apa? Kamu jangan macam-macam ya! Kemarin merebut, bisa jadi nanti kamu ada misi minjam sampai lupa balikin, kayak tetangga sebelah kalau pinjam tupperware, mendadak amnesia.”
Allan mengusap dada, sedangkan Giany, Maysha dan Bibi Misa hanya menjadi penonton perdebatan yang aslinya tidak mereka pahami itu.
“Bukan itu, Bu ... Kabar bahagianya, Maysha akan menjadi kakak.”
“Apa? Jadi kakak?” Wajah kesal Bu Dini mendadak berubah berbinar. “Giany hamil?”
“Iya Bu ...”
"Wah, selamat ya ... Ini benar-benar berita yang membahagiakan." Ia berdiri dari duduknya dan memeluk Giany. "Kamu harus jaga baik-baik. Jangan kerja berat-berat dulu."
"Iya, Bu. Apalagi Bu Giany kan pernah pendarahan, jadi harus lebih dijaga," imbuh Bibi Misa.
"Makasih, Bu ... Bibi Misa."
Semua orang bahagia, begitu pun dengan si kecil Maysha yang sangat mendambakan seorang adik bayi. "Bunda ... Kapan dede bayinya keluar dari perut Bunda?"
"Nanti, Sayang. Maysha mau sabar menunggu kan?"
Gadis kecil itu mengangguk antusias. Mungkin jika adiknya lahir, ia akan menjadi kakak paling bahagia di dunia.
Sarapan pagi pun berlanjut dengan obrolan seputar ibu hamil. Bu Dini sedang menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Giany selama masa kehamilan.
"Jangan sering-sering anu dulu ya ... Kehamilan usia muda itu masih rawan. Iya kan, Allan."
"Iya, Bu ..." jawab Allan seadanya sambil menggaruk kepala. Pasrah.
Kasihan kamu, Arnold. Disuruh puasa, sabar ya ...
"Nanti kalau liburan ke luar kotanya harus hati-hati. Giany, kamu bawa banyak persiapan makanan kan? Di sana tidak ada restoran."
"Iya, Bu. Tapi Mas Allan minta serabi sama dorayaki. Belinya di mana ya, Bu?" tanya Giany
Terlihat kerutan di wajah Bu Dini. Ia melirik Allan dengan penuh kecurigaan. "Allan, sejak kapan kamu suka serabi sama dorayaki?"
__ADS_1
Allan hanya menarik napas dalam. Entah harus menjawab apa.
Apes! Kalau dijawab ini muka mau ditaruh di mana?