Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 128


__ADS_3

“Mas ... Yakin beli tanaman itu buat ibu?” tanya Giany di tengah-tengah perjalanan pulang.


Allan menoleh dengan alis mengerut. “Memang kenapa?”


“Kalau ibu tidak suka bagaimana?”


“Ya kasih tetangga.”


“Mahal loh itu, Mas.”


“Ya tidak apa-apa, Sayang. Sekalian sedekah buat bapak tadi. Bapak tadi itu lagi sakit.”


Giany tampak terkejut mendengar ucapan sang suami. “Tapi tadi bapak itu sehat-sehat saja, Mas.”


“Lagi sakit dia. Memang kamu tidak perhatikan?”


“Tidak, Mas.”


“Bapak itu habis kena stroke. Geraknya juga masih susah. Kasihan, ambil pot aja kesulitan. Penderita stroke itu tidak boleh stres."


“Makanya tadi Mas beli tanaman sama bercandain terus biar bapaknya senang ya?”


“Iya," jawabnya. "Kita doakan saja supaya bapaknya cepat sembuh. Lumayan kan yang tadi buat berobat. Bantu orang itu harus ikhlas, tanpa merendahkan. Kalau kita langsung kasih kan takut tersinggung bapaknya.”


“Iya, Mas.”


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka akhirnya tiba. Amir segera membuka gerbang rumah saat mendengar bunyi klakson mobil.


Kedatangan Allan dan Giany pun disambut oleh si kecil Maysha dengan riang gembira. Kebetulan ia sedang bermain di taman bersama omanya. Ditinggal selama dua hari oleh ayah dan bundanya mengukir rindu di hati gadis kecil yang kini menjadi periang itu.


“Ayah, Bunda ...”

__ADS_1


Allan merentangkan tangan menyambut Maysha yang berlari ke arahnya. Ia mengecup pipi dan memeluk untuk melepaskan rindu.


“Ayah kenapa baru pulang?” tanya Maysha tanpa melepas pelukan, seolah ingin menjelaskan seberapa besar kerinduannya melalui pelukan itu.


“Maysha kangen sama ayah ya?”


“Iya.”


Melepas pelukan, gadis mungil nan cantik itu berlari ke arah bundanya yang sedang menurunkan beberapa barang dari mobil dengan dibantu Amir. Ia lantas membawa Maysha di gendongannya.


“Giany ... Jangan angkat beban yang berat dulu ya. Maysha mulai berat loh itu.”


“Sekali-sekali kan tidak apa-apa, Mas.” Sambil menghujani pipi Maysha dengan kecupan. “Pak Amir, itu ada beberapa oleh-oleh. Tolong bagikan ke semua ya ...”


“Baik, Bu.” Amir pun berlalu dengan membawa beberapa kantongan untuk dibagikan dengan beberapa pekerja lain.


“Kalian habis dari mana? Katanya berangkat pagi kok sore baru sampai?” tanya Bu Dini.


Mendengar kata tanaman hias membuat Bu Dini kegirangan. Ia sangat menyukai semua jenis tanaman hias. “Oh ya? Mana?”


“Di bagasi mobil, Bu,” jawabnya meskipun tidak yakin sang mertua akan menyukainya.


Dengan antusias, wanita paruh baya itu melirik bagasi mobil untuk mencari tanaman hias yang dimaksud Giany. Sontak wajahnya terlihat semakin bahagia.


“Wah janda bolong!” seru Bu Dini membuat Giany terlonjak. “Ibu lama loh mau beli tanaman ini. Kamu beli berapa Allan?” Ia mengusap daun berlubang-lubang itu dengan bahagia.


“Semuanya lima puluh juta Bu,” jawab Allan santai. “Lucu ya namanya, janda bolong katanya.”


“Iya benar. Ibu mau beli dari lama. Tapi harganya masih terlalu mahal. Ya sudah tunggu aja dulu sampai tidak viral lagi. Makasih ya, Allan Giany. Wah senangnya ...”


Giany menghela napas lega. Setidaknya ketakutannya tidak terbukti. Ia sudah mengira Bu Dini akan marah dibelikan tanaman itu.

__ADS_1


“Itu ada pasangannya, Bu.”


“Yang mana?”


Bu Dini menatap lagi beberapa pot yang ada di bagasi mobil. Allan lalu menunjuk pot yang berisi sebatang kaktus tunggal. “Itu, namanya duda kesepian. Sengaja beli biar janda bolongnya tidak jomblo,” ujar Allan membuat tawa Bu Dini menggema.


“Itu mah kaktus, Allan.”


“Orangnya bilang namanya duda kesepian, Bu.”


Tak lama berselang, Joko pun hadir dan menghentikan pembicaraan mereka.


“Bos, saya ada laporan penting.”


Allan menatap Joko dengan intens. Biasanya Joko hanya bicara jika ada hal penting yang perlu disampaikan kepada sang bos.


“Bicaranya di dalam saja.”


Allan dan Joko lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Giany dan Bu Dini yang masih asyik membicarakan janda bolongnya.


“Ada apa?” tanya Allan sesaat setelah masuk ke dalam rumah.


“Pak Desta resign dari May-Day, Bos.”


“Apa? Resign?” Allan tampak terkejut. Pasalnya Desta belum sebulan menjabat sebagai manager markekting, tetapi sudah mengajukan resign. Terlepas dari semuanya, Desta yang bertangan dingin sangat dibutuhkan di perusahaan itu.


“Iya. Ada lagi, Bos.”


“Apa?”


“Bu Ayra minta bertemu dengan nona kecil.”

__ADS_1


🌻


__ADS_2