Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 131


__ADS_3

“Jadi karena itu kamu sedih? Sayang ... Kenapa tidak bilang sejak tadi? Memendam kesedihan itu tidak baik. Apa lagi kamu sedang hamil, dan wanita hamil tidak boleh selalu stress karena akan mempengaruhi perkembangan janin.”


Allan kembali memeluknya, kali ini lebih erat. Ia paham Giany mungkin ragu untuk meminta izin mengunjungi makam Rayyan, karena Rayyan adalah anaknya dengan laki-laki lain.


“Aku takut Mas akan keberatan."


Allan tersenyum dengan tulus seraya membelai wajah Giany. “Kenapa harus keberatan? Kamu ibunya, kamu berhak mengunjungi makamnya kapan pun kamu mau."


"Maafin aku, Mas. Aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari Mas. Selama ini, aku selalu memikirkan Rayyan. Aku merasa sangat jahat sebagai ibunya.”


"Kamu jangan berpikir seperti itu. Aku tidak keberatan. Maaf, aku tidak pernah menawarkan karena aku pikir kamu sedang dalam masa menata luka hatimu. Mungkin kamu butuh waktu."


Suara Isak tangis masih terdengar memecah kesunyian.


"Lagi pula, kamu kan juga bisa mengirimkan doa untuk Rayyan kapan saja dan di mana saja.”


Giany menyeka air matanya. Beban berat di hatinya mulai berkurang setelah mendapat lampu hijau dari sang suami.


"Aku takut akan menyinggung perasaan Mas Allan."


“Jangan berpikir begitu. Bukankah Anakmu anakku juga? Makam Rayyan ada di taman belakang rumah Desta kan?” tanya Allan.


“Iya, Mas.”

__ADS_1


“Baiklah, besok pagi sebelum ke rumah sakit, kita ke makam Rayyan dulu. Kamu besok sekalian ikut aku ke rumah sakit untuk USG kan?”


“Iya,” jawab Giany sambil mengangguk.


Allan meraih jemari Giany, mencoba mengalirkan kekuatan melalui genggaman itu.


Kehilangan anak memang menjadi duka yang teramat untuk semua orang tua. Tetapi hidup harus terus berjalan. Berdoa adalah yang terbaik.


Allan mengusap sisa air mata yang terlihat di wajah Giany, juga membenarkan jubah piyamanya yang melorot ke lengan. Udara di sekitar kolam renang cukup dingin.


Kini, Giany menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Allan membelai rambutnya lembut.


“Giany ... Kamu tahu, kamu termasuk orang beruntung loh.”


“Karena kamu punya Rayyan. Sesuai dengan namanya, Rayyan, yang merupakan nama salah satu dari delapan pintu surga. Maka dia akan menyambutmu di pintu surga. Dia akan membebaskan kamu dari rasa lapar dan haus. Dia akan menjadi perisaimu dari panasnya api neraka. Jadi kamu tidak perlu bersedih dengan perpisahanmu dengan Rayyan di dunia. Karena Rayyan sudah damai dipangkuan Allah, dia akan menunggumu di surga-nya dan kelak menjadi syafaat bagimu.”


“Syafaat itu apa, Mas?”


Pelan-pelan Allan menjelaskan kepada Giany, “Syafaat adalah perantara. Bisa juga disebut pertolongan. Jadi, Rayyan akan menjadi syafaat untukmu nanti, tapi untuk itu ada syaratnya.”


“Apa itu, Mas?”


“Selama kamu tidak kufur, selama kamu tetap bersabar dan ridha menerima ketetapan Allah. Itu syaratnya, bisa?”

__ADS_1


Sisa isak tangis yang tadi terdengar perlahan mulai menghilang. Perasaan sedih yang tadi membelenggu hatinya pun berkurang. Ucapan Allan membuatnya merasa lebih damai.


Ya, Giany mulai memahami segalanya. Ia harus ikhlas melepas Rayyan.


"Kamu merasa lebih baik?"


"Iya, Mas. Terima kasih."


"Ya sudah, kita ke kamar yuk. Ini sudah malam. Tidak baik wanita hamil begadang."


Allan membantunya berdiri, lalu melingkarkan tangan di bahu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Setibanya di kamar, ia mendudukkan Giany di bibir tempat tidur. Wanita itu menatap Maysha yang masih tertidur dan mengecup keningnya.


"Aku ke dapur dulu ya, mau buatin susu untuk kamu. Mau rasa apa? Coklat, strawberry atau vanila?"


"Aku mau rasa coklat saja."


"Iya, Sayang, tunggu sebentar ya ..."


Allan lalu beranjak menuju dapur untuk membuatkan susu. Sementara Giany menunggunya di kamar.


Mas Allan benar. Aku harus banyak bersyukur. Setidaknya dulu saat mengandung Rayyan aku tidak mendapatkan semua kebahagiaan ini. Aku patut bersyukur dan mengikhlaskan Rayyan.

__ADS_1


****


__ADS_2