
Setelah melewati makan malam bersama layaknya sebuah keluarga, Bu Novi meninggalkan rumah Allan menuju apartemen milik Ayra. Ia akan kembali ke kota asalnya besok pagi. Kini ia dapat bernapas lega, setelah bertemu dengan Giany—yang ternyata adalah seorang wanita baik. Tak seperti apa yang pernah Ayra katakan kepadanya.
Sudah waktunya untuk tidur, Giany menutup tirai di jendela kamar, lalu berjalan menuju meja rias dan menyisir rambutnya. Sementara Allan duduk di tempat tidur dengan sebuah buku di tangan.
“Mas ...” panggil Giany.
“Hem ...” Ia menjawab tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada buku.
“Bu Novi itu ternyata orangnya baik ya, aku pikir—”
"Pikir apa?" Allan menutup buku dan meletakkan di atas meja nakas. Menatap Giany dengan senyuman. "Kamu pikir mau dimutilasi sama Bu Novi, hehe?”
Giany terdiam sebentar. “Aku berdosa sudah berpikiran buruk tentangnya. Aku pikir Bu Novi akan memarahi aku seperti Bu Ayra saat pertama kali ketemu. Waktu itu dia marah karena aku pakai bajunya.”
Entah mengapa wajah Giany mendadak suram saat teringat bagaimana Ayra memarahinya. Mengingat itu saja sudah berhasil merubah mood yang tadi baik menjadi buruk. Entahlah, Giany juga bingung sendiri. Bahkan bibirnya sudah maju beberapa centimeter.
Allan terkekeh menyadari kepolosan istrinya. Dalam pandangannya Giany masih terlalu muda, cara berpikir dan bersikap sudah pasti berbeda dengannya yang sudah berada di usia matang. Artinya, Allan masih banyak PR untuk membimbingnya.
“Daripada bibirnya manyun begitu, sini aku ajari ciuman ala novel.”
Giany meletakkan sisir di meja.
__ADS_1
“Tidak mau. Nanti dimodusin lagi. Dulu pakai cara berterima kasih dan menghukum ala novel, yang aslinya ternyata sama. Nanti ini diajari ciuman ala novel, ujung-ujungnya sama juga.”
“Kamu sekarang pintar ya,” ucapnya sambil meraba tengkuk.
Allan turun dari tempat tidur dan mendekati Giany. Memeluknya dari belakang dan menggesekkan batang hidung di bahu. Matanya reflek terpejam ketika menyesap aroma tubuh sang istri yang mampu membangunkan naluri 'anu' nya.
“Sayang, kayaknya kamu butuh liburan deh.”
"Liburan?"
"Huum." Meletakkan dagu di bahu Giany, Allan lantas memberi kecupan dalam di pipinya. "Satu tahun belakangan ini terlalu banyak yang terjadi sama kamu. Kamu pasti berat menjalani semuanya."
Giany diam. Pikirannya melayang memikirkan segala hal yang terjadi selama setahun belakangan ini. Mulai dari malam penuh luka bersama Desta hingga pernikahan dengan Allan.
"Kemana?"
"Rahasia, dong. Namanya juga kejutan. Tapi kamu pasti akan suka."
Wajah suram Giany seketika menghilang, berganti berbinar bahagia. Ia berbalik dan menyandarkan kepala di dada Allan dengan manja. "Aku mau, Mas."
"Ya sudah, Sabtu sore kamu siap-siap, ya ... Tapi ada syaratnya," ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Apa?" tanya Giany penuh semangat.
"Kita perginya berdua saja. Ingat, hanya berdua. Jangan tawari Maysha, ibu, Bibi Misa, apalagi si Joko dan Amir." ucap Allan dengan nada agak menekan.
Giany menatapnya penuh tanya. "Bukannya lebih enak kalau perginya rame-rame ya?"
Laki-laki itu menarik napas dalam. "Ini sekalian bulan madu Sayang. Mana ada orang bulan madu perginya rame-rame."
"Tapi nanti Maysha bagaimana kalau kita pergi?"
"Kan Maysha ada ibu."
"Oh, baiklah."
Allan melepaskan pelukan dan membuka laci meja. Ia mengeluarkan sesuatu dari sana. "Sekarang kamu tes pakai ini dulu. Aku yakin ada adiknya Maysha di perut kamu, makanya belakangan ini kamu sensian."
Giany meraih alat tes kehamilan pemberian Allan. "Tapi bukannya waktu itu Mas bilang jangan hamil dulu ya ..."
"Iya, sih ... Tadi nya aku mau nanti saja biar kita punya banyak waktu berdua. Ini semua salah si Arnold yang tidak tahu diri. Serabinya keenakan malah dimuntahin. Kan kamu mlendung jadinya," ujarnya tanpa rasa malu.
Padahal jika ditelusuri lebih jauh, si Arnold punya siapa coba.
__ADS_1
Apakah karena Arnold hanya seonggok daging tak bertulang yang bersifat fleksibel, kadang membesar dan kadang mengecil dengan tidak tahu dirinya. Sehingga Allan tak menganggapnya sebagai bagian dari tubuhnya?
🌻🌻🌻