Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 70


__ADS_3

Allan terburu-buru kembali ke kamar setelah insiden memalukan tentang modus yang terbongkar. Bukan hanya Amir yang tidak mengenal kata kapok, Allan pun sama. Setelah berkali-kali modusnya gagal dan ketahuan, ia tetap menjalankan modus lainnya. Dan ternyata, bukan hanya pipa rucika yang airnya mengalir sampai jauh, malunya Allan juga mengalir sejauh-jauhnya.


Menghembuskan napas kasar, Allan menjatuhkan tubuhnya di bibir tempat tidur. Memaki dirinya sendiri atas kebodohan yang ia lakukan.


“Huh ... Maysha juga tidak bisa jadi tim modus. Malah bocor. Mau ditaruh di mana ini muka di hadapan Giany.”


Allan meraih ponsel dari saku celana. Mencari nomor kontak manusia paling menyebalkan baginya.


“Halo, Bos!” terdengar suara Amir di ujung telepon.


“Bawakan tali tambang kemari!”


“Buat apa, Bos?” tanya Amir dengan alis berkerut.


“Buat bunuh diri!” jawabnya ketus, lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja. Amir yang berada di pos hanya garuk-garuk kepala mendengar perintah bernada sarkas itu.


“Bos kenapa, coba. Masa minta tali tambang buat bunuh diri. Apa aku habis melakukan kesalahan?”

__ADS_1


__


Di sisi lain, Giany sedang berada di kamar Maysha. Sudah waktunya gadis kecil itu tidur. Giany sedang berusaha menidurkannya dengan membaca sebuah dongeng. Hal yang sedari tadi membuat Giany merasa gemas sekaligus geli adalah, Maysha sudah beberapa kali menanyakan adik bayi yang sempat dibisikkan ayahnya.


Satu kecupan sayang ia berikan di kening Maysha ketika sudah lelap dalam tidurnya. Benar bahwa Maysha bukan terlahir dari rahimnya, tetapi dengan segenap hati ia menyayangi putri kecilnya itu.


“Selamat tidur, Sayang.”


Giany keluar dari kamar setelah mematikan lampu utama, menyisakan cahaya temaram yang berasal dari lampu tidur. Wanita itu segera beranjak menuju lantai atas, mungkin suaminya yang raja modus itu sudah tidur. Sepanjang menjejaki anak tangga, senyum tak pernah lepas dari wajah Giany. Mengingat betapa malunya Allan tadi karena hasil perbuatannya sendiri.


Ia memutar gagang pintu kamar dengan perlahan hingga tidak menimbulkan suara. Kemudian melongokkan kepala ke dalam. Ada senyum yang terbit di sudut bibirnya saat mendapati Allan sedang memilih pakaian dari dalam lemari. Ya, punggung dan lengan kokohnya bergerak dengan leluasa seolah tidak pernah cedera sebelumnya.


Giany masuk ke dalam, mendekat pada Allan dan membantu mengambil pakaian. “Sini aku ambilkan, Mas. Punggung dan lengan Mas kan sedang sakit.”


Allan melirik Giany dengan bibir mengerucut lucu. Sepertinya Giany sedang sengaja menyindirnya secara halus. Allan benar-benar ingin menggigit makhluk yang sedang berdiri di sampingnya itu. “Kamu sengaja menyindir ya?”


“Memangnya Mas merasa tersindir?”

__ADS_1


Allan terdiam. Selama beberapa saat tidak ada suara. Keduanya larut dalam drama saling tatap yang dalam. Seolah tatapan itu mampu mengalirkan perasaan cinta yang besar di antara keduanya.


“Hahaha!” Tawa keduanya pecah. Entah menertawakan ketidakpekaan Giany ataukah modus Allan yang terus gagal.


Allan meraih tubuh Giany, memeluknya erat sambil membenamkan ciuman tanda sayang di kening.


Ada sebagian orang yang menganggap cinta itu tak selamanya harus diungkapkan. Karena bahasa tubuh pun mampu menjelaskan seberapa besar cinta yang dimiliki seseorang kepada pasangannya.


Mungkin seperti inilah Allan dan Giany. Tanpa adanya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Karena semesta memiliki cara yang unik untuk menyatukan keduanya, juga dalam mewujudkan cinta yang hakiki.


“Mas, aku minta maaf. Aku kurang mengerti banyak hal. Aku hanya melihat apa yang ada di depan mataku, tanpa memahami segalanya. Ini malam kedua kita menjadi pasangan suami-istri. Tapi, aku belum menjalankan kewajibanku kepadamu sebagai istri.”


Allan mengusap rambut panjang Giany. Ia beri kecupan di kelopak mata kanan dan kiri secara bergantian. “Menjalankan kewajiban itu tidak melulu soal ranjang. Aku tahu kamu juga butuh waktu. Aku menghalalkanmu untuk kusentuh adalah karena cinta, bukan sebatas naf*su saja.”


Giany membeku. Sepasang bola matanya digenangi cairan bening. Betapa Allan sangat lembut memperlakukannya. Ia bahkan hampir lupa dengan segala kenangan buruk yang ia miliki tentang makna sebuah pernikahan.


"Ibadah bareng, yuk!"

__ADS_1


🌻


__ADS_2