Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 55


__ADS_3

Hari ini pertama kalinya Desta masuk kantor lagi setelah hampir dua minggu mendekam di sel tahanan. Ia dapat menghirup udara bebas setelah Allan mencabut tuntutan, dan juga orang tuanya membayar sejumlah uang sebagai jaminan.


Pagi itu ia terburu-buru memasuki gedung kantor tempatnya bekerja. Semalam sahabatnya, Rendy, memberitahu bahwa promosi naik jabatan Desta kemungkinan akan dibatalkan karena kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menjeratnya. Dan tentu saja perusahaan ternama seperti tempatnya bekerja tidak ingin namanya tercoreng akibat reputasi salah seorang karyawan yang buruk.


Desta sedang berusaha meminta kesempatan dari sang atasan.


"Pak ... Saya mohon beri kesempatan sekali lagi. Apa yang terjadi kemarin hanya sebuah kesalahpahaman, dan saya tidak sepenuhnya bersalah."


Pak Ardan menghentikan langkahnya sejenak, lalu menatap Desta. "Maaf Desta. Dalam hal ini saya tidak bisa membantu banyak. Saya menyesalkan image kamu yang harus rusak karena masalah seperti ini."


"Tapi, Pak ...Itu hanya salah paham. Buktinya tuntutan terhadap saya sudah dicabut."


"Maaf, tapi ini sudah menjadi keputusan dewan direksi. Saya kan hanya perantara yang membantu mempromosikan kamu. Perihal keputusan, itu ada di tangan mereka."


"Apa tidak ada kesempatan untuk saya lagi, Pak?" Wajah Desta terlihat memelas. Ia sangat berharap bisa menduduki posisi manager.


Pak Ardan menghela napas panjang. Walaupun reputasi Desta rusak akibat kasus yang menjeratnya, namun ia memiliki kinerja yang terbilang sangat baik dan selalu memuaskan.


"Desta, kamu tahu saya sebenarnya ingin kamu menduduki posisi manager pemasaran yang sekarang kosong itu. Bagi saya kinerja kamu sangat bagus. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Kecuali ..."


"Kecuali apa, Pak?" tanya Desta penasaran.


"Kecuali kamu bisa membuktikan kelayakan kamu untuk menduduki posisi itu. Mari ikut saya ke ruangan." Pak Ardan melangkah menuju sebuah ruangan diikuti Desta di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Silakan duduk dulu!"


"Terima kasih, Pak."


Pak Ardan kemudian duduk di kursi kebesarannya. Ia menjelaskan sesuatu kepada Desta dengan serius.


_


"Kamu tahu perusahaan May-Day berdiri sebagai bentuk kecintaan pendiri-nya terhadap dunia kesehatan. Terutama untuk wanita hamil dan anak-anak."


"Saya tahu, Pak," jawab Desta sambil mengangguk.


"Bagus." Ia meraih sebuah map dari atas meja dan menggeser ke hadapan Desta. "Karena itulah perusahaan ini berkonsentrasi pada produksi makanan kesehatan bagi wanita hamil dan anak-anak. Map yang kamu pegang itu berisi data tentang beberapa produk baru di perusahaan kita yang akan segera diluncurkan awal bulan depan."


"Desta, saya serahkan promosi dan pemasaran produk baru ini di tangan kamu. Kalau kamu berhasil meningkatkan penjualan, mungkin itu akan menjadi bahan pertimbangan dewan direksi."


Wajah Desta seketika berbinar mendengar ucapan Pak Ardan. Bukan hal mudah mendapatkan jabatan manager yang sudah lama ia incar, terlebih ada banyak saingan.


"Baik, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."


"Tapi saya tidak janji ya. Setidaknya saya sudah berusaha membantu kamu. Saya juga akan bicara dengan Pak Beni. Semoga beliau bisa membantu kamu. Pak Beni lumayan dekat dengan pemilik sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ini. "


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak."

__ADS_1


Pak Ardan mengangguk sambil tersenyum ramah. "Tidak masalah. Semoga kamu tidak mengecewakan saya."


"Pasti, Pak!"


*********


Desta keluar dari ruangan Pak Ardan dengan senyuman yang mengembang. Ia boleh merasa lega mendapatkan kesempatan emas itu, meskipun harus dengan perjuangan yang berat.


Tepukan mendarat di bahu, membuat Desta terlonjak.


"Bagaimana?" tanya Rendy.


"Aku dikasih kesempatan sih sama Pak Ardan. Tapi katanya tergantung dewan direksi lagi."


"Sabar saja dan lakukan yang terbaik. Kamu layak untuk ada di posisi manager." Mereka kemudian berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai atas. "Pokoknya kamu tenang saja. Begitu kamu naik jabatan nanti, aku yakin Giany pasti mau diajak rujuk sama kamu."


Desta menghela napas frustrasi. "Giany kan bukan perempuan gila jabatan."


"Tapi kalau disuruh memilih antara dokter biasa dan manager, wanita mana pun pasti memilih manager lah ..."


"Tapi aku dan Giany kan sudah resmi bercerai."


"Selama dia belum menikah dengan laki-laki lain, kesempatan akan selalu ada. Pokoknya tenang saja."

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2