
Sontak Allan tersedak roti tawar selai nanas yang akan ia telan. Amir baru saja membocorkan sebuah rahasia yang dijaga layaknya harta karun oleh sang bos. Ditambah pertanyaan Bu Dini yang seakan memperjelas kelakuan Allan semalam.
Allan terbatuk sambil menepuk dada, membuat Giany memberi segelas air putih.
Sudah jatuh tertimpa tangga, terperosok ke dalam tanah pula. Mungkin ungkapan itu cocok untuk menggambarkan kondisi yang dialami Allan.
Allan melirik kesal ke arah Amir yang membeku begitu menyadari tatapan tak bersahabat dari sang bos. Tubuh kokohnya terasa terbelah menjadi dua bagian hanya dengan tatapan mematikan itu.
Menyadari sesuatu yang tidak beres, laki-laki berperawakan tinggi besar itu hanya tersenyum pelik. "Maaf, sepertinya ... saya harus panasin mobil dulu. Permisi!"
Amir cepat-cepat mengambil langkah seribu dan pergi dari sana. Lari adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan nyawa dari murkanya sang bos.
"Allan, kamu belum jawab. Kenapa semalam kamu minta aliran listrik ke ruang belakang diputus? Apa ada korsleting?" tanya Bu Dini.
Allan mengusap wajahnya. Sudah tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan yang jika dijawab jujur akan membuahkan rasa malu bagi Allan.
"Sebentar, Bu. Mau keluar dulu, ada urusan dengan Amir!"
Menghindari pertanyaan, Allan memilih meninggalkan meja makan begitu saja, membuat Bu Dini berdecak heran.
"Itu si Allan kenapa sih, makin aneh saja," gerutu Bu Dini kemudian menatap Giany.
Menyadari gelagat aneh Giany, wanita paruh baya itu pun menaruh curiga.
"Memang semalam ada apa, Giany? Ibu cepat tidur, jadi tidak tahu ada apa. Apa kamu tahu sesuatu?"
Sambil mengangguk, Giany menjawab, "Oh, itu ... Semalam saya sama Dokter Allan cari Maysha, tapi tidak ketemu. Jadi ke gudang bersih belakang. Tapi tiba-tiba lampunya mati."
Alis Bu Dini mengerut, otaknya sedang menebak sendiri apa yang direncanakan oleh anaknya sampai meminta Amir memutuskan aliran listrik. "Kamu dan Allan ada di gudang saat listriknya padam?"
Giany menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Terus?"
"Ya tidak apa-apa, Bu. Langsung keluar saja."
"Kamu tidak takut saat listrik padam?"
Giany dengan polosnya menjawab dengan gelengan kepala, yang akhirnya membuat tawa Bu Dini menggema. Kini ia berhasil menangkap dan membaca apa yang sedang direncanakan oleh Allan. Rupanya modus pahlawan dalam kegelapan telah gagal total.
"Mungkin Dokter Allan mengira Maysha sembunyi di gudang, Bu. Makanya minta Pak Amir memutuskan aliran listrik, biar Maysha nya keluar. Tapi Maysha tidak sembunyi di dalam gudang."
"Masuk akal sih," sahut Bu Dini masih dengan sisa tawa.
"Apanya, Bu?"
"Tidak apa-apa, Giany."
Bu Dini bangkit, kemudian melangkah menuju dapur meninggalkan Giany, Maysha dan Bibi Misa yang masih di meja makan.
_
_
_
"Kamu kenapa?" tanya Joko saat melihat raut wajah memucat dari partner kerjanya itu.
Amir mengusap dada, mencoba mengatur napas yang memburu akibat dikejar rasa bersalah kepada sang bos. "Sepertinya aku habis melakukan kesalahan besar, Jo ..."
Joko tampak terkejut mendengar ucapan Amir. "Hah, maksud kamu kesalahan besar apa?"
"Itu si bos. Kan semalam suruh putusin aliran listrik yang ke ruang belakang. Aku habis ke dalam tanya, mau dihidupkan apa dimatikan dulu. Tapi kayaknya si bos jadi kesal begitu."
__ADS_1
"Memang kenapa bisa kesal?"
"Mana aku tahu, Jo!" Amir menarik napas dalam, mencoba menenangkan pikirannya. "Memang salah ya kalau aku tanya begitu?"
"Tergantung suasana hati bos!" jawab Joko santai.
"Amiirrr!!" teriak Allan kesal membuat Amir terlonjak, nyaris jatuh dari tempatnya duduk.
"Iya, Bos!" jawabnya ragu-ragu. Kemudian memberanikan diri menoleh ke arah teras, dimana Allan sedang berdiri kokoh dengan raut wajah super kesal.
Pagi itu Amir telah berhasil merubah rasa manis roti tawar selai nanas menjadi pahit bagi Allan.
"Hehe, ada apa, Bos?" tanya Amir ragu-ragu begitu telah berada di hadapan bosnya.
"Kamu ngapain ke dalam pakai tanya soal listrik segala?"
Kening Amir mengerut pertanda bingung. "Kan semalam Bos yang suruh putuskan aliran listriknya, jadi saya tanya apa mau dibenerin atau ..."
Amir sudah tidak meneruskan ucapannya begitu mendapati gurat kemarahan di wajah bosnya.
"Siapa yang suruh kamu mengulang pertanyaan itu?!" Amir menunduk. Ia tidak tahu saja, bahwa pertanyaan itulah yang membuat Allan malu setengah mati di hadapan Giany.
"Ma-maaf, Bos! Jadi listriknya mau dibenerin atau biar mati saja?" Masih berani bertanya, padahal raut wajah si bos sudah tak tertebak.
"TERSERAH!!" Sambil berlalu meninggalkan Amir.
Giany masuk ke dalam kamar setelah sarapan selesai. Ia duduk di bibir pembaringan sambil melamun. Kejadian pagi ini membuatnya menduga-duga dalam hati. Tetapi ia tidak berani menyimpulkan dengan pikirannya sendiri karena sadar diri dengan posisinya di rumah itu.
Melirik cermin, Giany menatap lekat pantulan dirinya.
Sadar Giany! Kamu jangan pikir macam-macam. Mana mungkin Dokter Allan modusin kamu. Memang kamu siapa? Kamu tidak lebih dari hanya pengasuh Maysha. Sedangkan Dokter Allan ... Dia terbilang seseorang yang sempurna. Bu Ayra saja yang cantiknya luar biasa ditolak. Lagi pula, Dokter Allan kan punya Babylicious. Selain itu, untuk ukuran seperti Dokter Allan, kamu sama sekali tidak layak. Beda kasta.
__ADS_1