Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 127


__ADS_3

"Mas!" Mata Giany memicing dengan cubitan di pinggang membuat Allan tersenyum pelik.


"Ampun, Sayang," ujarnya kemudian melirik pemilik kios. "Memang janda rapet ada, kan?"


Pria itu tersenyum, lalu menjawab, "Kalau janda rapet tidak ada, Pak. Adanya janda kembang."


Allan dan Giany kontan menatap penuh tanya. "Janda kembang? Yang seperti apa itu?" tanya mereka bersamaan.


Pria berusia empat puluh tahunan itu pun menunjuk sebuah tanaman tak jauh dari lokasi mereka berdiri. "Itu ... Yang tidak ada lubang-lubangnya."


"Harganya berapa itu, Pak?" tanya Giany antusias membuat pria itu meraih tanaman dan meletakkan ke hadapan Giany.


"Ini lebih murah, Bu. Kalau Ibu mau, saya kasih harga lima juta aja."


Kening Allan pun berkerut saking herannya. "Masa iya janda kembang lebih murah dibanding janda bolong?"


Sambil tersenyum, bapak yang terlihat ramah itu menjawab tanpa rasa keberatan. "Soalnya kalau janda bolong dihitung perdaun. Satu daunnya kadang dihargai lima sampai sepuluh juta."


"Ya sudah, sini janda kembangnya biar saya bolongin, setelah itu Bapak bisa jual dengan harga tinggi," ujar Allan membuat bapak pemilik kios tertawa lantang.


Sedangkan Giany menatapnya dengan mata memicing. "Mas!"


"Iya, ampun ... bercanda, Sayang."

__ADS_1


Giany kembali memperhatikan beberapa tanaman di hadapannya dengan antusias, setelah melayangkan tatapan mengancam kepada sang suami.


"Tapi kenapa tanaman hias janda kembang bisa dibawah harganya?" tanya Giany.


"Kan kalau janda kembang tinggal dinikahin aja, Yank," sambar Allan dengan percaya dirinya yang tinggi. Ia mengatupkan bibir saat Giany melotot dan memilih mengalihkan pembicaraan. "Oh, iya. Kalau ada tanaman janda, seharusnya ada tanaman duda juga kan?"


Giany menarik napas dalam. Entahlah, tetapi sejak dirinya hamil, tingkah Allan menjadi semakin iseng dan jahil. Ia lalu memilih meninggalkan Allan dan si pemilik kios demi mencari tanaman hias unik yang lain untuk sang mertua.


Sementara pembicaraan Allan dan bapak pemilik masih berlanjut.


"Tanaman duda ada, Pak," jawab pemilik toko membuat Allan kembali menatapnya. Padahal Allan hanya iseng bertanya. Tenyata benar-benar ada.


"Masa ada sih? Bapak aja kali yang iseng kasih nama," tuduh Allan.


Allan memperhatikan sebuah tanaman unik yang juga berlubang-lubang seperti tanaman janda bolong tadi.


"Kok tanamannya korengan?" tanya Allan.


"Nah memang itu namanya, Pak. Duda korengan. Selain itu ada beberapa tanaman jenis monstera yang diberi julukan duda. Seperti duda jelek, duda kesepian, duda merana sama duda bernafsu."


Allan menarik napas dalam.


Untung aku tidak termasuk di dalamnya. batin Allan.

__ADS_1


Bapak itu kemudian meraih sebuah pot kecil. "Nah, kalau yang ini namanya duda bolong."


"Duda juga bisa bolong? Biasanya kan duda yang bolongin." Lagi-lagi ucapan Allan membuat bapak pemilik kios tertawa.


Giany melirik ke arah sana sambil berdecak. Sepertinya pembicaraan tentang janda antara suaminya dan pemilik kios semakin seru. Mungkin Giany harus memilih membeli tanaman yang lain saja.


Hingga pandangannya menangkap beberapa tanaman hias sejenis kaktus yang unik. Giany meraih pot kecil berisi kaktus yang sudah cukup tua. Mungkin sebentar lagi akan busuk.


Tetapi dasar Giany yang tidak tahu melihat tanaman hias. Ia mengira segala sesuatu memiliki keunikan tersendiri. Jika tadi tanaman janda bolong berlubang, berarti kaktus ini juga punya nama unik.


"Kalau yang tadi namanya janda bolong dan duda korengan, tanaman yang ini julukannya apa?" tanya Giany membuat Allan menoleh.


"Itu duda tua merana yang kaya raya dan sakit-sakitan. Iya kan, Pak?"


Bapak pemilik kios tak lagi menjawab. Ia terus terpingkal karena ulah pelanggan barunya itu.


"Udah yuk, pulang!" ucap Allan seraya melirik bapak pemilik kios. "Pak, tolong bungkus janda bolong yang tadi sekalian sama duda kesepiannya."


"Buat apa, Mas?" tanya Giany.


"Biar bisa dikawinkan lah. Anaknya bisa jadi sundel bolong itu."


🌼

__ADS_1


__ADS_2