
Giany menyalami dan mencium tangan Bu Novi. Setelah itu menundukkan pandangan untuk menyamarkan rasa tidak enaknya perihal Ayra yang kini berada di pusat rehabilitasi—yang mana merupakan keputusan Allan dan didukung penuh oleh Giany. Tangannya bahkan masih gemetar. Di mata Giany Bu Novi terlihat seperti seseorang yang cukup galak.
Aduh bagaimana ini, apa Bu Novi kemari untuk memarahi aku seperti Bu Ayra waktu itu? Mas Allan tolonglah istrimu ini! Tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar sedang tidak suka dimarahi orang. batin Giany.
Seulas senyum terlihat di bibir wanita paruh baya itu. Ia mengusap rambut Giany, kemudian membelai lembut wajahnya. “Istri kamu cantik sekali, Allan. Dia juga punya hati yang baik,” ujarnya.
Itu pujian atau sindiran? Aku tidak bisa membacanya.
“Berapa usia kamu, Nak?”
Merasa ragu menjawab, Giany melirik Allan layaknya seorang anak yang mengadu pada ayahnya. Sedangkan Allan hanya memberi respon dengan senyuman.
“Mau ... Dua puluh satu tahun, Bu,” jawab Giany pelan.
“Wah kamu masih sangat muda, ya ...” Pandangannya berpindah kepada Allan. “Bisa aja kamu carinya yang muda-muda.”
Allan pun meraba tengkuknya. "Masa carinya yang tua-tua, Bu.”
“Bisa aja kamu. Oh ya, Allan ... boleh ibu bicara dengan Giany berdua?”
__ADS_1
Giany membeku dan detik itu juga wajahnya mulai memucat. Tetapi Allan bahkan tidak menyadarinya, ingin minta tolong, tapi pada siapa, sedangkan Bu Dini sedang ke kamar Maysha.
Apa, bicara berdua. Tidak mau. Mas, tolong jangan tinggalkan aku berdua dengan ibunya Bu Ayra, aku takut ...
“Boleh, Bu. Kebetulan saya mau ke depan dulu.” Suara santai Allan yang mengizinkan Bu Novi berbicara berdua membuat lutut Giany terasa lemas. Bu Novi meraih lengan Giany dan membawanya untuk duduk di sofa.
Giany dengan pasrah dan langkah menyeret mengikuti kemana Bu Novi membawanya.
“Ma-maf, Bu ... Saya ...” Mendadak ia terdiam saat menyadari wajah datar Bu Novi sudah berubah sedih dengan linangan air mata. Giany sampai bingung sendiri, kemana wajah galak dan menyeramkan yang tadi.
Wanita seusia Bu Dini itu mengusap lelehan air mata di pipi.
Mendengar ucapan Bu Novi, Giany menundukkan pandangan seraya beristigfar beberapa kali dalam hati. Betapa malunya, ia baru saja berpikiran buruk tentang wanita berbadan gemuk itu.
Ternyata ibunya Bu Ayra baik, astagfirullah, aku sudah berburuk sangka.
“Saya sudah memaafkan, Bu. Mungkin Bu Ayra hanya sedang khilaf.”
“Terima kasih Giany ... Tapi walaupun begitu, tindakan Ayra tetap tidak bisa dimaafkan begitu saja. Ayra itu penuh dengan obsesi. Dia meninggalkan Maysha dan Allan hanya demi karier."
__ADS_1
"Semoga Bu Ayra cepat lepas dari ketergantungan obat terlarang dan memulai hidup yang baru."
Saat itu juga Bu Dini datang dengan membawa Maysha. Bu Novi mengulurkan tangan ingin memeluk cucunya. Tetapi karena sangat jarang bertemu, Maysha merasa asing, sehingga memilih berlari memeluk Giany.
"Bunda ... itu siapa?" tanya Maysha.
Bu Novi terhenyak mendengar suara manja cucunya memanggil Giany. Ya, Maysha sudah bisa berbicara sekarang. Ia sangat bahagia dengan kemajuan cucunya itu.
"Itu eyang Upi, Sayang. Maysha lupa ya ... Itu yang ada di foto di kamarnya Maysha," ucap Bu Dini.
Maysha hanya menoleh sekilas, lalu kembali memeluk Giany seolah ingin perlindungan. "Maysha lupa, Bunda."
"Tidak apa-apa. Sekarang Maysha peluk Oma Upi ya ..."
Melihat betapa lembutnya Giany kepada cucunya, Bu Novi semakin kagum dengan Giany.
Mbak Dini benar, Giany adalah wanita yang baik. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan Maysha. Dia dirawat dengan baik oleh Giany. Berbeda dengan Ayra yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Pantas saja Allan sangat sayang sama Giany.
🌻
__ADS_1