Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 107


__ADS_3

Perlahan Giany mulai membuka mata di pagi hari. Seperti biasa akan ada tangan yang memeluknya, yang mana membuat senyum bahagia terbit di bibirnya. Begitu terbangun, hal pertama yang dilakukannya adalah memeluk dan mencium pipi Allan.


Jemarinya bergerak mengusap wajah itu. Betapa sempurna sosok Allan baginya. Dan yang paling disukai Giany adalah menatap wajah itu saat masih lelap dalam tidur. Ia kemudian beranjak dari pembaringan dan membuka tirai jendela kamar.


Perlahan, sinar matahari pagi mulai menyapu seisi kamar.


Hari ini mereka sekeluarga akan membuka lembaran baru di tempat yang baru. Barang-barang yang akan dibawa sudah diangkut sejak semalam, meninggalkan meja makan lucknut yang selalu membongkar rahasia besar Allan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu terdengar. Giany segera membukanya dan mendapati si kecil Maysha di sana.


"Sayang ... sudah bangun ya? Bunda baru mau ke kamar Maysha." Ia menggendong gadis kecil nan cantik itu dan mengecup pipi gempilnya bertubi-tubi.


"Bunda, ayo ke rumah baru. Mau lihat kamar baru Maysha yang banyak bonekanya."


"Iya, Sayang. Tunggu ayah bangun dulu ya."


Saat menurunkan dari gendongannya, Maysha lantas naik ke atas tempat tidur dan duduk di punggung sang ayah sambil berusaha membangunkan.


"Ayah, bangun! Kan mau ke rumah baru ... Ayah kan sudah janji. Masa bohong terus, kemarin juga bohong mau buatin Maysha dede bayi."


Allan pun mulai terbangun dan menggeliat, tetapi tak merubah posisi karena Maysha mungkin akan terjatuh jika ia bergerak.


"Turun dulu dari situ, Nak. Nanti jatuh," ucapnya dengan suara serak.

__ADS_1


Maysha menggeser posisi hingga berbaring di sisi Allan. Sementara Allan langsung memeluknya. "Emh ... Maysha nya bau ... belum mandi."


"Ayah juga bau, belum mandi."


"Tapi tadi ayah dicium sama bunda. Jadi tidak bau."


"Maysha juga habis dicium sama bunda. Maysha tidak bau."


Allan terkekeh, lalu menggelitik perut Maysha, membuat keduanya tertawa cekikikan. Sementara Giany menatap ayah dan anak itu dengan senyuman.


🌻


🌻


"Wah, rumahnya bagus ya ... Jauh lebih bagus dari rumah sebelumnya," ucap Bu Dini saat memasuki rumah itu.


"Iya, Bu. Rumahnya bagus dan luas," sahut Giany.


"Kamar ibu, Maysha sama Bibi Misa ada di lantai dua," ucap Allan.


"Kalau kamar kalian di mana?" tanya Bu Dini.


Allan menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Entah harus menjawab dengan alasan apa ia memilih ujung lantai tiga untuk membuat sebuah kamar.


"Ujung lantai tiga, Bu," jawab Allan membuat mata Bu Dini membeliak.

__ADS_1


"Ujung lantai tiga? Jauh amat, kenapa tidak di lantai dua juga?" tanyanya dengan mata memicing. Sepertinya mengerjai dan membongkar modus Allan benar-benar menyenangkan baginya.


"Em, itu anu, Bu. Giany kan suka lihat bintang, jadi aku sengaja buat di lantai tiga supaya enak kalau mau ke balkon."


"Masa sih, Giany?" Ia menatap Giany sambil menggodanya juga.


"Bu-bukan, Bu. Waktu itu Mas Allan bilang, biar jauh dari jangkauan Pak Amir."


Allan menepuk dahinya, membuat Bu Dini tertawa terbahak.


Tidak Amir, ibu, Maysha, sekarang Giany. Kayaknya aku harus mandi buang sia*l ... Apes melulu.


Bu Dini pun mengatupkan bibirnya dan saling memberi kode dengan Bibi Misa begitu menyadari wajah Giany memerah.


"Allan, Allan ... Bilang aja kamu sengaja bikin kamar di ujung lantai tiga supaya tidak diganggu kita-kita kan?"


"Ah, Ibu ..."


🌻🌻🌻🌻


Yang kemarin salfok sama si Arnold Swasanagerah yang berubah menjadi Arnold Swasanaseger nya Allan, akoh jawab ya ....


Niii


Artis wooee artis, bukan anu!!!!

__ADS_1


Arnorld dan Otong gantengan mana coba ???😂😂😂😂🤣🤣🤣



__ADS_2