Bukan Salahku Merebut Istrimu

Bukan Salahku Merebut Istrimu
BSMI 92


__ADS_3

Ketika membuka pintu, Allan melihat Aluna sedang berjalan menuju sebuah ruangan dengan membawa beberapa map di tangannya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas sosok gadis itu adalah orang yang pernah membela Giany saat Desta menamparnya di sisi jalan.


Juga saat datang ke acara ulang tahun Darmawan Group. Desta datang bersama gadis itu.


Itu kan perempuan yang pernah dikejar-kejar sama Desta. Apa dia juga bekerja di sini? batin Allan.


“Kenapa, Pak?” tanya Pak Ardan begitu menyadari Allan terdiam di ambang pintu sambil menatap Aluna.


“Itu siapa, Pak Ardan?” tanyanya seraya menunjuk Aluna.


“Itu anak HRD. Namanya Aluna. Kenapa, Pak?”


“Oh, tidak apa-apa. Sudah lama bekerja di sini?"


"Lumayan, Pak. Sekitar tiga tahunan."


"Oh ya sudah. Nanti suruh ke ruangan saya ya, Pak!”


"Baik, Pak Allan."

__ADS_1


Allan segera beranjak menuju mushalla kantor yang terletak di lantai bawah, sedangkan Pak Ardan kembali ke ruangannya.


_


Tok Tok Tok


Pak Ardan menoleh ketika pintu ruangannya yang setengah terbuka itu diketuk. Tampak Desta berdiri di sana.


“Bapak panggil saya?”


“Iya, Desta. Silakan masuk.” Laki-laki itu melangkah masuk ke dalam ruangan dan duduk di depan Pak Ardan.


Pak Ardan tersenyum, lalu mengulurkan tangan menjabat Desta, yang mana menciptakan kerutan di dahi Desta.


“Selamat ya ... Tadi saya sudah bicara dengan Pak Allan dan beliau setuju menaikkan jabatan kamu menjadi manager marketing. Katanya, dia cukup terkesan dengan presentasi kamu tadi.”


Desta membeku, sepasang bola matanya melebar. Ia bahkan belum percaya sepenuhnya dengan pendengarannya sendiri. Dalam pikirannya mana mungkin Allan mau memberinya jabatan yang terbilang cukup penting di dalam perusahaan itu. Paling-paling ia hanya akan berakhir dengan dipecat.


“Tapi, Pak ... Mana mungkin Pak Allan mau mengangkat saya jadi manager. Saya pikir Pak Allan akan memecat saya dari perusahaan ini, setelah beberapa masalah yang ada di antara kami.”

__ADS_1


“Pak Allan itu orang yang profesional, Desta. Beliau tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan,” ujar Pak Ardan membuat Desta menunduk malu.


Ia terdiam. Ucapan Pak Ardan bagai tamparan keras baginya.


"Pak Allan bilang, kamu harus bersiap-siap untuk dilantik bersama beberapa manager lain. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya. Semoga kamu bisa terus mempertahankan prestasimu."


Desta menyahut dengan anggukan. Tanpa senyum. Keterkejutan dan rasa malu terhadap Allan mengalahkan segalanya.


Ketika keluar dari ruangan Pak Ardan, Desta masih dengan mimik wajah tak percaya. Ia berjalan dengan pikiran yang melayang-layang.


Apa dia punya sebuah rencana dengan mengangkat aku jadi manager? Tapi apa? Bukankah dia tidak perlu rencana? Dia kan bisa menghancurkan aku kapan saja.


Hingga sore hari Desta masih merenung seorang diri di dalam ruangannya. Seharusnya ia senang karena posisi manager adalah jabatan yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan itu. Meniti karier dari nol dengan perjuangan yang luar biasa berat.


Tapi bukannya memecat, Allan malah menaikkan jabatannya. Ia tidak menggunakan kekuasaannya untuk membalas perbuatan Desta dengan keburukan, seperti yang selama ini Desta lakukan padanya. Dan hal itu menimbulkan perasaan malu yang luar biasa bagi Desta. Mungkin jika saja Allan memecatnya, Desta tidak akan sampai semalu sekarang.


Ia jadi merasa sangat kecil jika dibandingkan dengan Allan.


🌻

__ADS_1


__ADS_2