
Pagi hari Juan sudah pergi ke rumah Shilla. Saat Juan menekan bel pintu, Shilla yang membukakan pintu.
"Selamat pagi, Ma!" sapa Juan.
"Pagi, Daisy masih tidur. Bangunkan saja, jika tidak nanti kalian kesiangan!" ucap Shilla.
Juan menapaki anak tangga dan masuk ke kamar Daisy. Juan tidak membangunkan Daisy. Ia malah duduk di sofa dan memperhatikan Daisy yang sedang tidur. Juan tersenyum mengingat saat dulu dia dikerjai Daisy, seperti saat ini, ia duduk memperhatikan Daisy yang tertidur pulas dengan nafas naik turun dengan teratur.
Juan tak menyangka jika Daisy yang dulu menolaknya begitu keras, akan menerimanya seperti sekarang. Juan bagai mendapat undian super menguntungkan. Orang yang dicintainya sepenuh hati kini membalas cintanya, bahkan sudah menjadi istrinya.
Wajah damai dan polos Daisy saat tertidur, membuat Juan tertarik untuk menggodanya. Juan maju dan mencolek bulu mata lentik milik Daisy. Daisy mengusap bulu matànya tetapi masih tak mau bangun. Juan kembali mencolek bulu mata Daisy, kali ini Daisy mengucek matanya dan terlonjak kaget saat membuka mata. Wajah Juan berada dekat sekali dengan wajah Daisy.
"Akkhh."
"Haha, bangun sayang!" Juan menjauhkan wajahnya dan duduk di tepi ranjang. Daisy pun bangun dan duduk di ranjang.
"Kak Juan, sejak kapan di sini?" tanya Daisy.
"Sejak tadi pagi sekali!" ucap Juan tersenyum.
"Daisy mandi dulu!" Daisy pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya. Mereka turun ke bawah dan sarapan bersama Shilla. Kemudian pergi ke kantor bersama.
Di perjalanan, Daisy mencoba bicara soal Satya. Dengan ragu Daisy bertanya.
"Kak Juan, bagaimana kalau kita bebaskan Satya. Dia tidak gila, rasanya tidak adil jika Kakak harus mengurungnya seumur hidup."
" Bagaimana jika dia mengganggumu kembali?" tanya Juan tak setuju.
"Kita bisa memberinya penjelasan dengan perlahan. Kumohon, lepaskan Satya ya!" pinta Daisy.
"Dengan satu syarat!"
__ADS_1
" Apa itu?" tanya Daisy.
"Berikan dulu penjelasan padanya, agar dia mau mengerti dan menerima kenyataan, bahwa kau sudah menikah denganku. Sebelum dia bisa memenuhi kedua syarat itu, aku tidak akan melepaskannya!" ucap Juan.
Ia sebenarnya kesal karena Daisy harus membela Satya, tetapi Juan sadar jika Satya memang tidak gila. Dia memiliki pertimbangan sendiri soal Satya, meski tidak gila tetapi dia terlalu terobsesi pada istrinya. Juan hanya takut jika Satya menculik Daisy kembali. Dengan sifat obsesinya yang berlebihan, tidak menutup kemungkinan tentang hal itu.
"Baiklah, aku akan memberikannya pengertian secara perlahan, bolehkah aku menemuinya nanti siang?" tanya Daisy.
"Berdua dengan Pak Herman, aku tidak tenang kalau kau pergi seorang diri," ucap Juan. Daisy mengangguk tanda setuju dengan syarat dari Juan.
Jam makan siang yang harusnya di gunakan untuk makan, Daisy malah mengajak Herman ke rumah sakit jiwa untuk menemui Satya. Dia tidak mau membuang waktu untuk menemui Satya.
" Pak Herman, nanti tolong Pak Herman jangan tinggalkan saya. Jujur, saya masih takut untuk bertemu Satya."
"Baik, Dokter!" jawab Herman.
Mereka sampai di halaman rumah sakit. Herman mengajak Daisy menemui kepala rumah sakit, setelah itu barulah mereka menemui Satya di ruang perawatannya.
"Pak Satya!" panggil Herman. Satya menoleh dan kembali berpaling. Daisy menunggu di luar sebelum Herman memanggilnya.
"Dimana dia?" tanya Satya pelan.
"Dokter, masuklah!" panggil Herman. Daisy menghela nafas sejenak kemudian masuk ke ruang perawatan Satya.
Saat melihat Daisy, Satya diam tak berkedip. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi.
"Satya, apa kabar?" tanya Daisy.
"Apa masih perlu bertanya!" jawab Satya acuh.
"Kau ingin keluar dari sini, kan?" tanya Daisy.
__ADS_1
"Apa bisa?" tanya Satya.
"Aku bisa membantumu, tetapi Juan mempunyai syarat yang harus kau penuhi. Aku dan Juan, kami sudah menikah 3 minggu yang lalu. Jika kau bersedia untuk tak lagi mengganggu kami, Juan bersedia mengeluarkanmu dari sini. Apa kau menyanggupi syarat dari Juan ini?" tanya Daisy dengan pelan-pelan menyampaikan pesan Juan.
"Aku rasa, aku tidak akan sanggup melupakanmu. Bisakah kalian atur untuk membuangku jauh dari tempat ini?" pinta Satya.
Jujur saja, Daisy merasa iba pada Satya. Dia tahu seperti apa masa lalu Satya. Dia selalu ditinggalkan oleh orang terkasihnya. Daisy tahu Satya sebenarnya orang yang baik, Daisy yakin jika dia menemukan cinta sejatinya maka dia akan berubah.
"Apa ada tempat yang ingin anda jadikan tempat tinggal, saya akan mewakili anda untuk berbicara dengan Pak Juan!" ucap Herman.
"Sejauh mungkin dari sini. Aku tidak peduli dimana itu, asalkan sejauh mungkin dari sini!" ucap Satya.
"Baiklah, akan saya sampaikan pesan anda," ucap Herman.
"Selamat atas pernikahanmu. Jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapanku. Pergilah!" Satya mengusir Daisy dengan mata berkaca-kaca. Hari ini dia kembali kehilangan cinta dalam hatinya.
"Aku akan pergi. Terima kasih atas cintamu dan maaf karena menyakiti hatimu!" ucap Daisy.
Daisy keluar lebih dulu dari ruangan Satya. Disusul Herman di belakang. Suster kembali mengunci ruangan Satya.
Daisy dan Herman kembali ke kantor. Di klinik kantor, Juan menunggu Daisy dengan gelisah. Dia takut, Satya berbuat sesuatu pada Daisy di sana. Tak lama Daisy dan Herman masuk ke klinik.
"Sayang, apa kau terluka, apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya Juan dengan khawatir.
Herman melaporkan semua ucapan Satya pada Juan. Juan mengerti dan menyuruh Herman mengurus segala hal tentang Satya. Tentang kepindahannya dan juga surat perijinan agar Satya bisa keluar dari penjara. Daisy dan Juan bisa sedikit lega sekarang. Setidaknya Satya tidak akan mengganggu mereka lagi.
**************************
hy readers yg pro sm Satya.
aq dh keluarin Satya dan nanti di episode entah episode brp.. author bakalan kasih jodoh buat Satya.
__ADS_1
seperti biasa like n krisan
ditunggu loh! ♡♡♡