Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Hamil?


__ADS_3

Aurora datang membawakan dua cangkir teh.


"Minumlah, jarang-jarang kamu mampir ke sini. Dari mana?" tanya Aurora.


"Aku sengaja datang kemari, bolehkah aku menginap disini?" tanya Daisy.


"Aku tidak masalah kalaupun kau mau tinggal selamanya disini, tapi ada apa?" tanya Aurora.


"Aku baru saja melihat berita suamiku, dia ... katanya punya selingkuhan!" ucap Daisy berkaca-kaca.


"Berita dari internet itu jangan sepenuhnya kau percaya, banyak bohongnya. Sudah malam, istirahatlah. Siapa tahu besok kamu lebih tenang."


"Terima kasih Ra," jawab Daisy.


"Oh, ya. Karena kamu ada di sini, besok pagi tes urine. Aku punya banyak testpack, jadi bisa kugratiskan untukmu satu," ucap Aurora.


"Ra, kamu masih single. Kenapa banyak testpack di rumahmu, jangan-jangan kamu penganut s.ks bebas ya?" tanya Daisy serius.


"Halo, Dokter Daisy. Saya itu Dokter kandungan, terkadang ada tetangga yang datang ke rumahku untuk konsultasi. Dan terkadang dibutuhkan tes urin, sudah faham?" tanya Aurora.


"Hehe," Daisy terkekeh ditatap tajam oleh Aurora.


"Sudah tidur sana!" ucap Aurora.


Daisy masuk ke kamar tamu dan merebahkan tubuhnya. Matanya tak bisa terpejam karena selalu terbayang fhoto Juan memeluk wanita lain.


Di apartement Juan


Juan sudah mandi dan mengganti bajunya. Dia tidak curiga saat tak melihat Daisy di dalam apartement. Juan pikir, mungkin Daisy di rumah orang tuanya. Juan menelpon ke ponsel Daisy.


Tutt tutt tutt


Juan mendial nomor ponsel Daisy, tetapi telinganya menangkap dering ponsel di dalam kamar.


Drrttt drrttt


Juan menoleh dan melihat ponsel Daisy tergeletak di nakas.


"Daisy tidak membawa ponselnya. Kalau begitu aku coba telpon nomor Mama."


Tutt tutt tutt


"Halo, Ma. Daisy ada?" tanya Juan saat Shilla menerima panggilan telponnya.

__ADS_1


"Daisy tidak kesini, apa dia tidak di rumah?" tanya Shilla.


"Juan sedang diluar, Ma. Tadi Juan telpon ke nomor Daisy tapi tidak diangkat!" Juan berbohong pada Shilla agar ibu mertuanya itu tidak khawatir. Juan menatap heran ke arah ponsel Daisy.


"Oh, mungkin Daisy sudah tidur," jawab Shilla.


"Sepertinya begitu, selamat malam, Ma!" Juan menutup telponnya. Dia berjalan ke ranjangnya dan mengambil ponsel Daisy.


"Kamu kemana, sayang?" gumam Juan.


Juan mengambil kunci mobilnya dan pergi mencari Daisy. Juan berkeliling menyusuri jalanan, tanpa tahu kemana Daisy pergi. Ponsel Juan bergetar di dashboard, Juan menepikan mobilnya dan mengangkat panggilan dari Koko.


"Halo, Ko. Ada apa?" tanya Juan.


"Pak, sudah baca berita di internet?" tanya Koko.


"Belum, berita apa itu?" tanya Juan.


"Sebaiknya Bapak baca saja dulu."


Juan menutup telpon dari Koko dan membuka berita di internet. Mata Juan terbelalak lebar melihat fhoto dirinya di internet. Juan jadi khawatir tentang Daisy yang pergi dari rumah.


"Kamu pasti sudah melihat berita ini, karena itulah kamu pergi. Kenapa kamu harus percaya dengan berita palsu seperti ini, sayang!" gumam Juan frustasi. Ia lanjut mencari Daisy, Juan bahkan sampai ke rumah Zahra dan Roni di tengah malam. Juan tak juga menemukan Daisy di sana.


Pagi hari


Di apartement Aurora


Aurora sudah bangun pagi-pagi sekali, bahkan mentari saja belum menampakan cahayanya. Aurora membangunkan Daisy.


"Dais, ayo bangun. Daisy, cepat bangun!" Aurora mengguncang-guncang pundak Daisy pelan. Daisy menggeliat dan membuka matanya.


"Ra, sudah siang ya?" tanya Daisy. Ia duduk di ranjang dan melirik jam dinding.


"Ini baru pukul 05:00 pagi, ada apa Ra?" tanya Daisy heran.


"Cepat bangun dan pergi ke kamar mandi," ucap Aurora.


"Dingin ah, nanti saja mandinya!" jawab Daisy dan kembali berbaring.


"Siapa yang mau menyuruhmu mandi, ayo bangun!" Aurora kembali membangunkan Daisy.


"Ya, aku bangun. Terus?" tanya Daisy.

__ADS_1


"Terus bawa tabung kecil ini, lalu tampung urine kamu disini. Kadar HCG di pagi hari itu sangat tinggi, jadi akan lebih akurat kalau mau tes hamil!" ucap Aurora.


"Oh, ya. Hehe, aku lupa!" ucap Daisy. Ia mengambil tabung penampung urine dari tangan Aurora kemudian berjalan ke kamar mandi.


"Aku heran, bagaimana kamu bisa lulus menjadi Dokter. Pengetahuan dasar saja bisa lupa!" ledek Aurora.


Daisy selesai menampung sedikit urinenya ke dalam tabung, ia keluar dari kamar mandi dan memberikannya pada Aurora.


"Sebentar, aku buka dulu testpacknya!" Aurora membuka pembungkus testpack itu, lalu mencelupkannya selama 10 detik ke dalam urine. Daisy menutup matanya dengan hati yang berdebar-debar. Setelah garis yang ada di tengah testpack mulai berwarna merah, Aurora tersenyum. Dua garis merah terpampang di sana.


"Dais, lihatlah!" Aurora menyuruh Daisy melihat hasilnya sendiri.


"Tidak mau, kamu katakan saja padaku hasilnya!" ucap Daisy.


"Baiklah, tutup saja matamu sampai sore. Aku tidak akan mengatakannya hasilnya padamu, kamu lihat saja sendiri!" ucap Aurora. Ia sengaja membuat nada bicara agar terdengar sedih.


Daisy jadi semakin berdebar. Ia takut hasilnya tidak sesuai harapannya.


"Memangnya kenapa, kalau hasilnya negatif juga tidak apa-apa. Kami juga baru 3 minggu menikah, bukannya 3 tahun. Jadi masih banyak kesempatan!" ucap Daisy membuka matanya. Aurora menyembunyika hasil tesnya di belakang tubuhnya, wajahnya terlihat sedih. Melihat wajah sedih temannya, hati Daisy merasa sakit dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Maafkan aku, Dais," ucap Aurora dengan wajah sedih lalu memeluk Daisy.


"Tidak apa-apa!" jawab Daisy.


"Kamu hamil, Dais."


"Ya, tak masalah. Aku bisa coba lain ... apa tadi kamu bilang?" tanya Daisy merasa aneh. Daisy merasa Aurora mengatakan sesuatu.


"Kamu hamil," ucap Aurora tersenyum.


"Benarkah?"


Aurora mengangguk, dan Daisy bersorak kegirangan.


"Tunggu, jadi kamu mengerjaiku tadi?" tanya Daisy menatap tajam. Aurora mengangguk dan mendapat hukuman kelitikan dari Daisy.


"Ampun, ampun. Maaf, haha," Aurora meminta Daisy menghentikan hukumannya.


"Kamu jahat, aku deg-degan sekali tadi!" ucap Daisy cemberut.


"Selamat, kamu akan jadi seorang ibu," ucap Aurora.


"Terima kasih!" jawab Daisy.

__ADS_1


Aurora keluar dari kamar tamu dan meninggalkan Daisy sendiri. Daisy terus menatap testpack yang ada di tangannya dengan bahagia. Bahagia karena ia akan memiliki anak, hasil buah cintanya dan Juan. Daisy tiba-tiba sedih mengingat Juan.


"Anak Mama, kita akan pulang dan memberitahu Papa. Jika Papamu tidak menyayangi Mama lagi, maka kamu akan tinggal bersama Mama dan nenek,"


__ADS_2