
Malam menyapa bumi, sebagian orang masih saja ada yang bergelut dengan pekerjaannya, sebagian lainnya ada yang sedang bersenang-senang, hura-hura di tempat hiburan malam seperti klub malam dan sebagainya. Sebagian orang juga ada yang sudah terlelap hangat dibalik selimut, adapula yang tidur meringkuk kedinginan, di tempat yang tak leluasa untuk tubuh tingginya. Orang yang sedang bernasib malang itu adalah Juan Zabrani.
Sejak Daisy positif hamil, mereka tidur secara terpisah. Bukan karena bertengkar, ataupun Daisy yang kejam dan tega menyuruh Juan tidur di sofa. Pada awalnya mereka tidur seranjang, tetapi setiap tengah malam Juan akan pindah keluar karena ia kasihan pada istrinya. Ya, karena meskipun sedang tertidur pulas, jika rambutnya tersentuh tangan Juan maka Daisy akan terbangun dan muntah-muntah. Untuk itulah Juan selalu pindah keluar, agar Daisy bisa tidur dengan nyenyak tanpa terganggu.
Pagi hari
Daisy terbangun dan meraba-raba ranjang, dan lagi-lagi ia bangun seorang diri di ranjangnya. Dia keluar dari kamar dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia melangkah ke ruang tamu. Disana ia melihat sang suami tidur meringkuk di sofa panjang. Sofa panjang itu bahkan tak bisa menampung tubuh panjang Juan saat ia berbaring. Ada rasa kasihan yang dalam pada sang suami, tetapi apalah dayanya. Sang jabang bayi begitu tak ingin rambut sang ibu disentuh, meski sang ayah yang menyentuhnya.
Daisy ke dapur dan menyiapkan sarapan. Sejak dirinya hamil, sarapan mereka berubah jadi makanan 4 sehat 5 sempurna. Juan jadi terbawa kebiasaan baru sang istri. Daisy akan marah jika Juan tidak memakan sesuatu yang sama dengannya. Percayalah, kalian semua jika melihatnya marah pasti akan memilih menuruti kemauannya. Sekarang ini jika Daisy marah, maka ia akan menangis sambil duduk di lantai. Menggemaskan tapi juga mengkhawatirkan, karena lantai apartement yang dingin, Juan takut Daisy sakit. Kata-kata itu yang selalu Juan ucapkan pada Koko dan Herman, jika mereka sedang jahil meledek Juan.
Daisy selesai memasak sarapannya, ia pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti baju kemudian membangunkan Juan.
"Pi, Pipi. Bangun, sudah pagi. Pi, bangun atau Mimi akan marah," ancam Daisy. Ancaman yang kontan membuat Juan langsung bangun dan berlari ke kamar mandi. Saking terlalu terburu-buru akhirnya kaki Juan terantuk tepi meja.
"Aw, sakit sekali. Siapa sih yang menaruh meja di sini!" umpat Juan sambil mengusap lututnya yang berdenyut nyeri. Daisy tersenyum menatap kepergian Juan.
Dibanding rasa sakit di lututnya, Juan lebih khawatir jika Daisy marah. Bayangkan saja jika dia marah dan menangis di lantai, itu sangat mengkhawatirkan untuk Juan. Aneh memang, tetapi yang namanya ngidam pada wanita hamil itu tidak bisa dikendalikan. Dokter saja tidak tahu cara mengobati ngidam yang terkadang aneh, termasuk Daisy yang notabene adalah seorang Dokter. Juan mandi secepat mungkin dan pergi ke dapur setelah berganti pakaian.
__ADS_1
"Lama sekali, Mimi sudah lapar, tahu!" Daisy menggerutu.
"Maaf, mimi sayang. Ini juga Pipi sampai tak sempat mencukur janggut. Ayo cepat sarapan, atau Akami nanti kelaparan," bujuk Juan. Untunglah Daisy tidak sampai ngambek dan mereka pun sarapan.
"Pi, kita belum memberitahu Mama dan Papa soal kehamilanku, jadi nanti sore pulang kerja kita ke rumah Mama, ok!"
"Baiklah, lagipula hari ini jadwal kita menginap di rumah Mama kan?" tanya Juan.
"Mimi cuma mau berkunjung, tidak ingin menginap disana," ujar Daisy.
"Kenapa, tumben?"
Daisy hanya menjawab singkat. Usai sarapan, mereka pergi ke kantor bersama. Sampai di kantor, Juan langsung menuju ruangannya di lantai 2, sedangkan Daisy langsung ke klinik kantor di lantai 1. Sampai di ruangannya, Juan langsung mengendurkan dasinya. Koko mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Juan, setelah Juan mempersilahkannya masuk.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Juan sambil mengurut keningnya. Dia tak pernah tidur nyenyak sejak Daisy hamil, itu menyebabkan kepalanya sering terasa sakit.
"Hari ini anda tidak ada jadwal lain selain memeriksa beberapa berkas. Berkas-berkas ini perlu bapak tanda tangani." Koko menaruh beberapa berkas di meja kerja Juan. Koko melihat betapa lelahnya Juan, ia tahu bosnya itu sudah hampir dua minggu ini tidur di sofa.
__ADS_1
"Akan kuperiksa nanti, tolong jangan ganggu aku sampai jam makan siang. Aku ingin tidur!" Juan pergi ke kamar yang ada di dalam kantornya. Kamar itu sengaja disediakan untuk istirahat, di saat Juan tidak ada pekerjaan, atau hanya untuk beristirahat sejenak disela pekerjaannya.
Koko keluar dan menutup pintu, lalu menempel kertas bertuliskan 'DO NOT DISTURB' kemudian Koko pergi ke ruangan Herman.
Tok tok tok
Koko mengetuk pintu kaca transparan, yang memperlihatkan Herman di dalam ruangannya. Herman menoleh dan tersenyum, ia mempersilahkan Koko masuk.
"Pak Herman, sedang sibuk?"
"Tidak juga, seminggu terakhir ini pekerjaan kita sedikit senggang."
"Benar, sejak pak Juan membuka kantor cabang di Yogyakarta. Kita jadi tidak perlu bolak-balik Jakarta-Yogyakarta."
"Sedang apa dia sekarang?" Herman menyandarkan punggungnya yang mulai terasa pegal.
"Tidur. Melihat pak Juan yang tersiksa begitu, saya jadi takut untuk menikah," Koko merinding setelah mengungkit soal pernikahan. Seolah pernikahan itu adalah sebuah rumah hantu yang menyeramkan.
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu karena kau tak punya kekasih. Jika kau mempunyai seorang kekasih, pastilah kau ingin menikah."
Koko memang tidak mempunyai kekasih dan tak pernah lagi jatuh cinta, setelah ia kehilangan tunangannya. Tunangan Koko meninggal karena sebuah kecelakaan lift di sebuah hotel bintang lima, saat itu tunangan Koko bekerja sebagai cleaning service di sana. Sejak Ina sang tunangan meninggal, Koko sama sekali tak tertarik pada wanita manapun. Ia hanya ingin bekerja dan bekerja, agar ia bisa melupakan sang mantan tunangan.