
Seorang gadis cantik memakai seragam SMA, terlihat sedang mengikat seorang siswa menggunakan dasi. Gadis itu mengikatnya ke kursi, didalam gudang sekolah, dia juga menyumpal mulut siswa itu dengan kertas bekas ulangan. Ternyata dia tidak sendiri, disana juga ada satu orang siswa dan satu orang siswi lain. Selesai mengikat, gadis itu mencengkram kerah siswa tersebut dan berucap dengan senyum manis.
"Lain kali, kalau mau melecehkan perempuan. Kau harus ingat pelajaran dariku ini! Ok, kaka yang tampan!" Gadis itu pun melenggang pergi diikuti kedua temannya, dia menutup pintu gudang tapi sengaja tidak menguncinya.
Gadis cantik dengan rambut hitam tergerai mengkilap sebatas pinggang itu adalah Daisy Alkania Zein, putri semata wayang Denis Zein dan Shilla Anggila Suwarman. Kedua siswa dan siswi yang berjalan dibelakangnya adalah Zahrana dan Roni Iswandi, sahabat Daisy sedari SMP. Mereka melenggang dengan senyum merekah sepanjang koridor sekolah, menuju ke kelasnya.
Daisy terkenal sebagai kembang sekolah yang tak hanya cantik,tapi tegas dan sedikit cuek. Siswa yang diikatnya digudang tadi adalah anak IPA yang mencoba melecehkan Daisy, dengan mengundangnya ke gudang.
*flashback tadi pagi*
"Daisy, ini ada yang mengirim note buat kamu!" ucap seorang siswi yang baru saja masuk kedalam kelas.
"Dari siapa Dais? fans lagi ya?" tanya Zahrana.
"Hadeuh, aku pusing! banyak fans memang asyik, tapi kalo kebanyakan yang kelewat ngefansnya, lelah juga lama lama!" ucap Daisy sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Apa isi notenya Dais?" tanya Roni. Daisy lalu membuka kertas note kecil itu dan membacanya bersama.
^Daisy, aku tunggu kamu digudang, saat jam istirahat. Kalau berani menolak dan tidak datang, maka jangan salahkan aku yang akan melakukan hal buruk terhadapmu!!^
"Uuhhhh, takut hahahaha. Dia tidak tahu siapa Daisy. Ok, sampai jumpa di jam istirahat!"
Setelah dua mata pelajaran selesai, jam istirahatpun tiba. Daisy melangkah tanpa ragu ke dalam gudang sekolah. Disana sudah ada seorang siswa yang duduk menggunakan dua kursi berhadapan, kedua kakinya menjulur diatas kursi didepannya.
"Halo, sayang. Akhirnya datang juga!" ucap siswa itu. Daisy tersenyum dan mendekat, siswa itu berdiri. Daisy melihat seragam yang dipakainya. Baju tidak dimasukan kedalam celana, kancing terbuka dua kancing, dan tatapan yang seakan ingin menelan tubuh Daisy.
"Eekhemm, kakak kelas IPA 12 kan?" tanya Daisy dengan kedua tangannya dibelakang saling bertaut.
__ADS_1
"Oh, ternyata kenal juga ya! kenalin panggilan gw Aceng!" ucap Aceng sambil mencolek dagu Daisy. Daisy masih tersenyum.
"Seminggu yang lalu kau menolak cintaku tanpa melihatku, apa kau pikir hanya kau dewi disekolah ini, huuhh!" Aceng mencengkram kedua pipi Daisy dengan satu tangannya dan menengadahkan wajah Daisy.
"Aww, kakak kau menyakitiku. Bisakah kau lepaskan! atau ... "
"Atau apa? kau berani melawanku? kau bukanlah tandinganku, cchh!" ucap Aceng dengan senyum meremehkan. Aceng menjulurkan tangan yang lain dan menepuk bokong Daisy.
Daisy sudah meradang, dia mencengkram tangan Aceng yang mencengkram pipinya, lalu menendang kakinya dan memelintir tangan kanan Aceng ke belakang. Aceng mencoba memukul dengan tangan kirinya tapi Daisy bisa menangkis, dan akhirnya memelintir kedua tangan Aceng kebelakang, lalu menendang lutut bagian belakang Aceng.
"Zahra, Roni, masuk!" ternyata sedari tadi mereka menunggu diluar. Lalu Daisy menyuruh mereka membawakan kursi, lalu mendudukan Aceng di kursi dan mengikatnya.
*flashback off*
Baru saja mereka memulai pelajaran pertama setelah jam istirahat. Aceng dan guru BP masuk kedalam kelas Daisy.
Guru BK mengetuk pintu yang terbuka. Daisy segera menundukan wajahnya ke meja, dan berbisik pada Zahrana disampingnya.
"Mati aku!" ucap Daisy. Zahrana hanya tersenyum. Ini bukan yang pertama kalinya Daisy dijemput dari kelasnya menuju ruang BK.
"DAISYYY! ikut ibu ke kantor!" panggil guru BK. Aceng tersenyum berjalan dibelakang guru BK dan Daisy.
Braakkk
Guru BK menggebrak meja, setelah mereka duduk didepan meja kantor bu Septi.
"Daisy! kamu apakan Aceng. Ibu menemukan Aceng tergeletak didepan pintu gudang dan terikat ke kursi. Ini dasi kamu kan?" bentak bu Septi.
__ADS_1
Daisy berjingkat kaget, saat bu Septi menggebrak meja. Daisy hanya diam tak menjawab, membuat Aceng serasa diatas angin. Dia sangat senang melihat Daisy dimarahi oleh bu Septi.
"Kenapa diam? ayo jawab!" bentak bu Septi.
"Tadi kan ibu belum suruh jawab! Memotong omongan orang tua itu tidak baik!" jawab Daisy.
"Masih tahu mana yang tidak baik, lalu kenapa kau melakukan hal yang tidak baik!" ucap bu Septi.
"Sudahlah, kamu Aceng kembali ke kelas! Dan kamu Daisy diam disini, ibu akan panggil orang tua kamu!".
Aceng keluar dengan senyum penuh kepuasan. Sementara Daisy mengepalkan tangannya ke arah Aceng. Bu Septi mengurut keningnya, Daisy bangun dan memijat kepala bu Septi. Septi adalah teman sekampus Denis tapi beda jurusan.
"Tante tadi galak banget, Daisy jadi takut beneran!" ucap Daisy sambil memijat kepala bu Septi.
"Kamu itu sudah kelas 12 tapi masih saja seperti anak SD. Kamu itu perempuan tapi kasar sekali seperti anak laki-laki!" ucap bu Septi.
Septi sudah menikah selama 10 tahun tapi tidak bisa memiliki keturunan, karena rahimnya diangkat saat dia mengalami kecelakaan mobil cukup parah. Perut Septi terjepit bagian depan mobil. Karena itu dia menganggap Daisy sebagai anaknya sedari SD.
"Tidak jadi panggil papa dan mama kan, tante?" ucap Daisy penuh harap.
"Tidak bisa! tante tetap harus memanggil Shilla atau Denis kesini! Tante harus bersikap adil dan mematuhi peraturan sekolah, jadi jangan harap tante memberi pengecualian. Tante sudah berkali kali pura-pura tidak tahu dengan kenakalan kamu. Kali ini tante tidak bisa mentolerir!"
"Tapi tante, dia duluan yang melecehkan Daisy. Dia menepuk bokong Daisy jadi Daisy keluarian deh jurus taekwondo Daisy, ciatt ciat ciiatt, hehe!" Daisy memperagakan jurus yang dipelajarinya dari kelas taekwondo.
plakk..
"Aww sakit tante!". Daisy mengusap lengannya yang dipukul oleh Septi. Bukan cubitan keras hanya cubitan pelan karena gemas.
__ADS_1
Daisy sebenarnya bukan gadis nakal, hanya saja dia tidak mau dianggap lemah oleh para pria. Karena itu dia pasti akan membalas pria manapun yang menggodanya, apalagi yang berani melecehkannya.