Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Pelukan pagi dari Denis


__ADS_3

Pagi tiba tanpa terasa oleh Denis. Ini pertama kalinya Denis bangun terlambat. Shilla sudah bangun dan selesai memasak sarapan pagi mereka. Nasi goreng plus telor ceplok sudah tertata rapi di meja makan. Sudah jam delapan pagi, tapi Denis masih belum keluar kamar. Shilla jadi bingung.


Aku bangunin, jangan, ya? Kalau dia marah saat aku bangunin, gimana?


"Tapi, tidak biasanya dia bangun siang. Aku bangunin aja, deh," gumamnya pelan.


Shilla pergi menuju kamar Denis. Setelah di depan pintu kamar, Shilla ragu untuk mengetuk pintu. Ia mencoba mengetuk dengan pelan. Tidak ada sahutan dari dalam. Shilla kembali mengetuk pintu dengan keras. Tapi, tetap tidak ada jawaban dari dalam. Shilla memutar gagang pintu.


 


Ceklek!


"Gak dikunci," pikir Shilla heran. Shilla melangkah masuk dan melihat Denis memang masih tertidur. Shilla mencoba memanggil dan membangunkannya.


"Den, Denis," panggil Shilla. Shilla tidak tahu kalau sebenarnya Denis sudah bangun saat mendengar Shilla mengetuk pintu, tapi Denis sengaja berpura-pura tidur. Shilla yang merasa Denis tak mendengar suaranya akhirnya memutuskan mengguncang pundaknya pelan.

__ADS_1


"Denis, bangun!" Shilla mengguncang pundak Denis. Denis pura-pura melindur dan menarik tangan Shilla lalu mendekap Shilla yang terjatuh di atas dadanya. Dia masih pura-pura tertidur.


Deg!


Shilla merasa detak jantungnya berhenti seketika karena terkejut di tarik dan dipeluk erat oleh Denis. Shilla memberontak dengan kuat. Denis pura-pura terbangun seketika dan mengucek matanya.


"Shil! Maaf, maaf, aku gak tau itu kamu. Aku pikir guling tadi," ucap Denis pura-pura merasa bersalah. Shilla hanya terdiam kaku berdiri di depan Denis yang terduduk di ranjang. Denis turun dari ranjang lalu menggenggam tangan Shilla.


"Shil, kamu baik-baik aja?" tanya Denis yang heran melihat Shilla diam saja. Saat Shilla merasa tangannya di genggam, barulah Shilla sadar dan menarik tangannya. Tapi Denis makin menggenggam erat tangan Shilla.


"Lepasin atau ...." Shilla menarik tangannya kembali dan Denis melepaskannya kali ini.


"Maaf." Denis menyatukan kedua tangannya lalu meminta maaf dengan tersenyum.


"Sarapannya sudah mulai dingin." Shilla berbalik pergi dan keluar. Shilla berlari menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Shilla berdiri bersandar di pintu kamarnya lalu memegangi dadanya.

__ADS_1


"Kenapa rasanya akhir-akhir ini aku sedikit aneh? Setiap kali bersentuhan dengan Denis, jantungku selalu berdebar-debar kencang sekali. Baru sebulan aku di sini tapi bayangan wajah Mas Jody terasa memudar." Pikiran Shilla menerawang, matanya terpejam. Sedetik kemudian Shilla ingat.


"Sebulan? Berarti Bi Sumi harusnya sudah akan kembali ke sini, kan?" Shilla tersenyum senang. Dia berbalik dan membuka pintu lalu turun kembali menuju ke ruang makan. Denis menyusul tak lama kemudian. Mereka pun memulai sarapan jam sembilan pagi. Biasanya mereka sarapan jam tujuh, tapi hari ini karena ulah Denis yang ingin mengerjai Shilla, akhirnya mereka terlambat sarapan.


Shilla sangat ingin menanyakan Bi Sum pada Denis, tapi Shilla tidak berani untuk menatap Denis.


 


"Em, Shil, apa tidak apa-apa, jika aku mulai berangkat ke kantor? Bukan aku tidak mau menemanimu, tapi banyak tugas yang tidak bisa kuselesaikan di rumah." Denis meminta izin pada Shilla.


"Tapi, kalau kau tidak mengizinkan, tak apa-apa," sambung Denis kembali. Ia menghabiskan jus tomat kesukaannya.


"Berangkat saja," jawab Shilla singkat. Ia bangkit dari kursi dan membawa piring bekas ke tempat cucian piring setelah mereka selesai sarapan.


__________BERSAMBUNG___________

__ADS_1


__ADS_2