Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Lamaran tak terduga


__ADS_3

Ujian selesai, Daisy dan Zahra memutuskan berjalan-jalan sebelum pulang.


"Za! kita main yuk ke mall!" ajak Daisy.


"Boleh!" jawab Zahra.


"Ron! kamu ikut ya!" ajak Daisy.


"Aduh, maaf Dais, yang! aku gak ikut dulu ya? Sepulang sekolah, aku ikut ujian lagi!" ucap Roni menolak ajakkan Daisy dan pacarnya.


"Ujian apa, beib?" tanya Zahra.


"Bahasa asing! aku kan mau kuliah di Australia, jadi aku ambil kursus bahasa asing dan kebetulan hari ini mulai ujian!" jawab Roni.


"Oh, ok! kalau begitu semoga sukses ujiannya!" ucap Zahra memberi semangat pada Roni.


Ronipun pergi meninggalkan Zahra dan Daisy. Daisy mengajak Zahra naik taxi, karena Daisy sudah memberitahu Juan untuk tidak menjemputnya. Daisy menyetop taxi dan mereka pun meluncur ke mall MT. Di belakang mereka, Satya mengikuti taxi itu.


Daisy dan Zahra sampai di mall, mereka mencari makan dulu sebelum berkeliling. Daisy dan Zahra makan di resto fried chicken, saat hendak membayar, pelayan itu menolak dan mengatakan makanan mereka sudah ada yang membayar.


Daisy dan Zahra saling pandang, meskipun heran tapi mereka memilih masa bodoh dan pergi dari resto. Mereka berkeliling melihat-lihat baju, ada satu buah baju yang menarik perhatian Daisy. Dress putih berenda dibagian bawahnya itu begitu simpel dan polos, tapi ada sulaman kupu-kupu kecil berwarna biru muda dibagian dada kiri.


"Dais, bagus ya? apa kau akan membelinya?" tanya Zahrana.


"Iya, sangat cantik! kalau aku pàkai untuk kencan pasti kak Juan suka kan?" Daisy bertanya pada Zahra.


"Pastilah! Aku juga membeli yang ini!" ucap Zahra menunjukkan dress pilihannya. Mereka akan membayar dress itu, tapi lagi-lagi pelayan toko baju itu pun mengatakan hal yang sama dengan pelayan resto.


"Belanjaan mba-mba sudah di bayar seseorang!" ucap pelayan toko itu.


"Dimana orangnya? saya ingin bicara dengannya!" ucap Daisy.


"Maaf mba, saya tidak tahu orangnya kemana! tadi dia cuma bilang, apa pun yang mba ambil dia bayar lebih dulu. Karena mba adalah calon istrinya!" ucap pelayan.


"Dia bilang saya calon istrinya?" tanya Daisy ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Pelayan itu mengangguk. Daisy memutuskan menelpon Juan.


Tutt tutt tutt


"Halo! kak Juan dimana?" tanya Daisy saat panggilannya tersambung.


"Kakak sedang di supermarket, mengawasi pekerja yang sedang renovasi! kenapa?" tanya Juan dari seberang telpon.


"Em... apa kak Juan membelikanku sesuatu?" tanya Daisy ragu-ragu.

__ADS_1


"Tidak! apa kau ingin membeli sesuatu, sayang? Kalau mau, biar kakak suruh pak Herman membelikannya!" ucap Juan.


"Tidak! tidak ada! Daisy cuma tanya. Selamat bekerja kak!" Daisy menutup telponnya dan kembali ke meja kasir.


"Maaf mba, ini silahkan kembalikan pada yang membayar!" Daisy memberikan bungkusan bajunya dan juga baju Zahra. Lalu mereka pergi dari toko itu.


"Kenapa Dais? kok dikembalikan? bukannya kak Juan yang membelikan?" tanya Zahra.


"Bukan, karena kak Juan sama sekali tidak tahu! Jadi kemungkinan yang bilang kalau aku ini istrinya pasti si guru genit itu!" gerutu Daisy.


"Kita pulang saja!" ajak Daisy.


Satya terus mengikuti Daisy, hingga Daisy sampai di depan rumahnya.


"Pak, tolong antar teman saya ke rumahnya. Ini ongkosnya!" ucap Daisy pada supir taxi.


"Aku duluan ya! bye Za!" Daisy turun lebih dulu setelah itu barulah taxinya pergi mengantar Zahra pulang.


Tak jauh dari taxi itu berhenti, Satya tersenyum senang.


"Jadi ini rumahnya!" gumam Satya. Satyapun pergi dengan mobil merahnya, setelah Daisy masuk ke dalam rumah.


Di supermarket


Herman menghampiri Juan.


"Yang ini saja!" jawab Juan menunjuk konsep warna biru muda dan putih.


"Baiklah!" ucap Herman. Dia kembali ke ruang kantor dan menunjuk pilihan Juan pada sang kontraktor.


"Selama Daisy ujian, aku tidak menemuinya. Kangen!" Juan bergumam lirih.


"Ujian sudah selesai, temui saja sekarang!" ucap Herman mengagetkan Juan dari belakangnya. Juan tersenyum canggung karena ungkapan hatinya itu di dengar oleh Herman.


"Nanti malam saja, pak Herman!" ucap Juan.


Malam hari


Sebuah mobil terparkir di samping gerbang rumah Daisy. Seorang pemuda berpakaian rapi menekan bel pintu. Shillalah yang membukakan pintu, karena Denis sedang melihat-lihat berkas kontrak perusahaan yang bekerja sama dengannya.


ceklek


"Selamat malam, tante! Perkenalkan saya Satya!" Satya mengenalkan diri pada Shilla seraya mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Shilla! nak Satya mau cari siapa?" ucap Shilla sambil menyambut uluran tangan Satya, dan menyebutkan namanya.


"Saya ingin mengatakan sesuatu soal putri tante, Daisy!" jawab Satya. Shilla mempersilahkan Satya masuk dan membawanya duduk di ruang tamu.


"Nak Satya, tunggu sebentar ya!" ucap Shilla.


"Iya, tante!" Satya mengangguk.


Shilla pergi ke ruang belajar dan memanggil Denis untuk menemui tamunya. Denis merapikan berkas-berkasnya terlebih dulu dibantu oleh Shilla. Daisy keluar dari kamarnya memakai kaos putih longgar di padu rok jeans ketat selutut. Daisy turun karena merasa lapar, dan juga memang sudah jamnya makan malam.


Daisy melewati ruang tamu dan tercengang melihat Satya sedang duduk di ruang tamu. Daisy berlari menghampiri.


"Kamu! ngapain disini?" tanya Daisy khawatir. Satya berdiri lalu berjalan menghampiri Daisy.


"Kalau pake baju rumah bukan baju seragam, kamu terlihat lebih cantik sayang!" goda Satya.


"Dasar guru genit! cepat pergi sana!" Daisy mendorong Satya agar pergi, baru beberapa langkah Shilla dan Denis tiba di ruang tamu. Dia melihat Daisy yang sedang memegang lengan Satya, karena Daisy ingin menarik Satya keluar dari rumah.


"Daisy! ada apa?" tanya Denis.


"Kenapa kamu mengusir tamu seperti itu, sayang?" tanya Shilla.


"Dia tamu gak penting mah, pah! jadi mending Daisy suruh pulang!" jawab Daisy.


"Tapi dia bilang ada hal penting yang mau dibicarakan dengan mama dan papa!" jawab Shilla.


"Iya, tante, om! ada hal penting yang ingin saya sampaikan! Saya ingin melamar putri om dan tante, Daisy untuk menjadi istri saya!" ucap Satya.


"APAAA!!" ucap Daisy, Denis dan Shilla bersamaan. Mereka bertiga terkejut dengan lamaran mendadak yang Satya lakukan. Ketiganya hanya bisa menganga setelah mendengar ucapan Satya. Mereka tak bisa menjawab saking syocknya mendengar lamaran dadakan dari Satya. Apalagi Shilla dan Denis belum pernah bertemu atau berkenalan sebelumnya dengan Satya. Daisy pun hanya baru bertemu tiga kali dengan Satya.


****************


yuk vote


lebih banyak pendukung


Daisy-Juan


atau


Daisy-Satya


tetap ikuti kisah mereka ya readers

__ADS_1


jangan lupa tetap tinggalkan jejak kalian buatku..terima kasih


see you next chapter readers ku ter cinta ♡♡♡♡♡


__ADS_2