
Daisy melepaskan pelukannya.
"Kak Juan, kita pulang yuk! sudah sore, aku takut mama nyariin!" ucap Daisy.
"Kakak udah ijin sama mama kamu! kita pulang agak malam, makan malam dulu disini!" jawab Juan.
"Ngomong-ngomong, ini apartement siapa?" tanya Daisy.
"Apartement kita!" jawab Juan.
"Hah," Daisy tercengang mendengar jawaban Juan. Juan mengacak rambut Daisy dengan gemas.
"Ini adalah apartement untuk kita, jika nanti kita sudah menikah!" ucap Juan.
Menikah, kata yang spontan membuat Daisy terdiam merenung. Dia berencana untuk melanjutkan kuliah kedokteran, saat lulus dan mendapat ijin praktek, Daisy berencana tinggal di desa terpencil yang kesulitan dengan fasilitas kesehatan. Daisy menjadi ragu, apakah Juan tetap mau menikahinya jika Juan tahu apa rencana masa depan Daisy.
Juan sudah merencanakan masa depannya bersama Daisy, dengan tinggal di apartement mewah. Tapi Daisy memiliki rencana yang sebaliknya. Daisy menjadi dilema, apakah dia harus mewujudkan impiannya atau dia harus mengubur impiannya dan memilih hidup bahagia bersama Juan.
"Hei, kok malah melamun? Apa ada yang kurang atau tidak kau sukai, kakak akan menggantinya!" Juan mengambil ponselnya untuk menelpon pak Herman.
"Aku suka semuanya!" kata Daisy sambil menahan tangan Juan agar tidak jadi menelpon.Daisy pergi ke ruang belajar, dan berkeliling melihat-lihat tumpukan buku yang berjejer rapi di rak buku.
Juan pergi ke dapur dan melihat isi lemari pendinginnya.
"Kosong, aku lupa! disini kan belum aku isi apa-apa!" gumam Juan. Juan lalu pergi ke ruang belajar untuk mengajak Daisy makan malam di luar.
Daisy mengambil majalah perhiasan, Daisy melihat model perhiasan di majalah itu sangat cantik-cantik.
"Apa ada yang kau sukai? kakak akan memesannya untukmu!" ucap Juan mengagetkan Daisy.
"Tidak, aku cuma ingin melihat-lihat saja!" jawab Daisy. Daisy menaruh majalah yang dipegangnya kembali di rak buku.
__ADS_1
"Mau makan di luar atau delivery?" tanya Juan.
"Delivery aja!" jawab Daisy.
"Ok. Mau pesan apa?" tanya Juan kembali.
"Apa saja!" jawab Daisy singkat. Juan mengetik pesanan lewat jasa ojek online. Daisy melangkah ke ruang tamu dan melirik jam dinding. Entah kenapa, Daisy tiba-tiba merasa mengantuk. Rasa pusing di kepalanya juga semakin kuat.Daisy merebahkan badannya di sofa panjàng dan tertidur.
Juan memperhatikan Daisy yang terbaring di sofa. Wajah Daisy yang tertidur berbeda dengan terakhir kali Juan melihatnya. Saat Juan menunggui Daisy tidur dulu, wajah Daisy terlihat damai dan bersinar. Kali ini wajah Daisy justru terlihat gelisah dan muram. Juan mendekati Daisy dan menempelkan tangannya di dahi Daisy.
" Ya ampun, sayang! kamu panas sekali! Kenapa tidak bilang, kalau kamu sakit?" Juan membopong Daisy ke kamar dan membaringkannya di ranjang king size bergaya kerajaan Indo jaman dulu. Juan lalu menelpon Ratih agar datang ke apartementnya. Butuh waktu setengah jam menunggu Ratih datang.
Ting tong ting tong
Juan segera membuka pintu, saat mendengar bel berbunyi.
"Rat, tolong cepat periksa Daisy. Dia sakit dan panasnya tinggi sekali!" ucap Juan dengan khawatir.
"Di kamar!" Juan mengantarkan Ratih ke kamar.
Ratih segera memeriksa keadaan Daisy. Setelah selesai memeriksa Daisy, Ratih memberikan resep obat pada Juan.
"Ini resep obat untuk Daisy, berikan obatnya setelah makan. Dan kompres dahinya menggunakan air hangat," ucap Ratih.
"Bisakah aku minta tolong? jaga Daisy sebentar untukku! aku akan membeli obat dulu sebentar!"
"Baiklah, aku akan menjaganya!" ucap Ratih. Juanpun pergi secepat mungkin ke apotik.
Ratih mengambil air hangat di baskom kecil, dia mengompres dahi Daisy dengan handuk kecil. Wajah Daisy terlihat sangat merah karena suhu panasnya yang sedang demam.
"Kau sungguh beruntung, Daisy! banyak sekali wanita yang mengejar cinta Juan! Termasuk diriku dulu, tapi dia malah menjodohkanku pada sahabatnya. Tapi tak perlu khawatir, perasaanku untuk Juan sudah hilang karena temannya juga sangat baik seperti Juan. Kau akan menyesal jika kau melepaskan Juan, dia begitu mencintaimu! Aku tak pernah melihat dia begitu perhatian pada seorang wanita, bahkan pada Aisyah dulu dia tak pernah seperhatian ini!" ucap Ratih yang duduk di tepi ranjang sambil sesekali mengganti kompres yang sudah kering.
__ADS_1
Dalam keadaan setengah sadar, Daisy mendengar semua ucapan Ratih.
"Aisyah! Siapa dia? Semoga hanya seseorang di masa lalu Juan!" gumam hati Daisy.
Juan datang, setelah Juan membeli obat di apotik terdekat. Ratih pamit karena sedang bertugas di rumah sakit, untungnya saat Juan menelpon Ratih dia sedang beristirahat.
"Jangan lupa, terus gantikan kompresnya saat sudah kering! Aku pamit, jaga dia baik-baik!" ucap Ratih. Juan mengantar Ratih sampai ke depan pintu apartement. Juan lalu memindahkan bubur ke dalam mangkuk, bubur yang dibelinya sekalian saat membeli obat tadi. Juan membawa bubur, obat dan segelas air ke dalam kamar. Juan menaruh makanan dan obatnya di nakas.
"Dais, sayang! Bangun dan minum dulu obatnya!" Juan membangunkan Daisy agar meminum obat terlebih dulu.
"Ehm... " Daisy menjawab pelan. Juan membantu Daisy agar duduk bersandar di kepala ranjang. Juan melihat kedua mata indah bermanik coklat milik Daisy saat ini bagian putihnya jadi memerah. Wajahnya begitu pucat, membuat Juan sangat tak tega. Melihat sang kekasih yang terlihat kesakitan.
"Makanlah dulu buburnya, biar kakak suapi!" ucap Juan lalu menyuapi Daisy bubur, hanya beberapa sendok dan Daisy sudah menggeleng lemah. Juan memberikan obat penurun panas pada Daisy. Daisy meminumnya dan beranjak menurunkan kakinya dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Juan lembut.
"Pulang, mama," Daisy berkata dengan lemah.
"Tante Shilla, sudah kakak beritahu! Dia menitipkan kamu sama kakak! jadi tidur dan beristirahatlah, kakak akan menjagamu disini!" ucap Juan. Daisy menurut dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Juan terus menjaga Daisy hingga malam tiba. Juan juga tak henti mengompres dahi Daisy, sampai Juan ketiduran disamping Daisy. Juan duduk di bawah dan kepalanya menempel di ranjang. Tangan Juan menggenggam tangan Daisy dengan erat.
Beberapa jam kemudian, Daisy terbangun dan mendapati Juan yang tertidur duduk di lantai. Daisy melihat tangan Juan yang menggenggam erat tangan Daisy. Daisy mengusap rambut Juan dengan satu tangannya yang tak di genggam Juan. Daisy mengusap dengan halus rambut Juan. Daisy melirik jam dinding.
"Sudah selarut ini! Dia bisa sakit kalau tidur di lantai seperti ini!" gumam Daisy. Saat dia sadar ternyata sudah jam sebelas malam. Daisy memutuskan membangunkan Juan.
"Kak, kak Juan!" panggil Daisy. Juan terkesiap mendengar Daisy memanggilnya.
"Ada apa, sayang? Kamu butuh apa, bilang sama kakak!" ucap Juan.
Daisy menggeser tidurnya, lalu menepuk tempat tidur di samping.
__ADS_1
"Tidurlah, aku tidak mau kakak sakit!" ucap Daisy dengan lemah. Juan tersenyum senang karena di khawatirkan oleh Daisy. Juan tidur di samping Daisy, seperti dulu saat Juan sakit, Juan tidur seranjang dengan Daisy dibatasi bantal guling di tengah-tengah mereka.