Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Ekstra part (1)


__ADS_3

Tiga bulan setelah kematian Shilla, Denis kembali bekerja di kantornya. Proyek 'Taman Bunga Mawar' sedang disusun oleh Denis, sebagai tempat untuk mengenang Shilla. Shilla sangat menyukai bunga mawar begitu juga dengan Daisy.


Denis membeli sebuah lapangan hijau yang terletak di pinggiran Ibu Kota. Rencananya, Denis ingin membuat taman terbuka hijau, yang terbuka untuk umum. Denis ingin menanam bermacam warna bunga mawar di sekitar taman.


Tok tok tok.


"Masuk!" ucap Denis.


"Selamat pagi, Pak. Denis," sapa Nola, sekretaris baru di kantor Denis.


"Ada apa, Nola?" Denis melihat sekilas saat Nola memasuki ruangan, kemudian kembali fokus menatap tumpukkan berkas di mejanya.


"Itu, Pak. Steve, beliau ingin bertemu dengan Bapak," ucap Nola.


"Oh, suruh masuk saja."


"Baik, Pak."

__ADS_1


Nola keluar dari ruangan Denis. Nola berbicara dengan Steve, tamu Denis, di depan pintu ruangan Denis. Steve adalah putra semata wayang Yuli, dan hari ini Steve kebetulan sedang libur kuliah. Steve memutuskan untuk mengunjungi Denis.


Steve masuk ke ruangan Denis, disambut senyum ramah oleh Denis.


"Masuklah! Darimana saja keponakan Om ini?" Denis menutup berkas di mejanya. Denis bangun dan mengajak Steve mengobrol di sofa.


"Terima kasih, Om. Steve baru sempat main ke Indo, dan mendengar Tante Shilla sudah meninggal. Steve dan Mama mengucapkan turut berduka cita," ucap Steve.


"Mamamu sehat kan?" Denis menanyakan keadaan Yuli. Sudah lama, sejak terakhir kali mereka bertemu.


Denis dan Steve mengobrol hingga lupa waktu. Mereka saling bertukar kabar dan bercanda. Steve baru saja lulus kuliah, Steve berencana untuk tinggal sementara waktu di rumah Denis. Ia ingin mencari pekerjaan di Jakarta. Denis menawarkan untuk bekerja di kantornya saja. Steve sangat senang mendengarnya. Karena waktu sudah sore, Denis mengajak Steve untuk pulang bersamanya.


***


Daisy dan Juan baru saja tiba di rumah, kedua putra mereka, Raffa dan Raffi segera berlari menghampiri.


"Mamaaa...," panggil Raffa.

__ADS_1


"Em, anak Mama sudah wangi," ucap Daisy sambil mengangkat Raffa dalam gendongannya. Daisy mencium pipi Raffa, semerbak bedak bayi tercium di hidung Daisy.


Dari kedua putra kembarnya itu, Raffa adalah yang paling aktif, sedangkan Raffi lebih pendiam. Juan menghampiri Raffi yang sedang fokus menatap layar televisi. Acara kartun spongebob itu, membuat Raffi bisa betah duduk dengan manis, menatap televisi.


"Jagoan Papa, apa kabarnya nih?" Juan mengangkat Raffi dalam pangkuannya. Raffi hanya terdiam, dingin, tanpa senyum, dan ekspresi yang tidak biasa dari seorang anak berusia satu tahun tiga bulan.


"Papa, Mama mau mandi dulu, Raffa sama Papa, ya," ucap Daisy sambil menirukan suara anak kecil. Ia lalu mendudukkan Raffa di samping Juan, dan pergi ke kamarnya untuk mandi.


Selesai mandi dan berganti baju, Daisy turun kembali dan bergantian menemani Raffa dan Raffi bermain di ruang tamu. Denis datang bersama Steve, Iyah yang membukakan pintu untuk mereka.


"Hai, Steve. Lama tidak bertemu, apa kabar?" Daisy menyapa Steve.


"Baik, bagaimana dengan Kak Daisy?" Steve bertanya balik.


"Baik juga," jawab Daisy.


Denis kemudian mengantar Steve ke kamar tamu, di ujung tangga. Steve sudah biasa menginap di rumah Denis, saat liburan. Selama Steve kuliah tiga tahun, ia jarang berlibur ke Indo. Tidak seperti saat SMA, hampir setiap tahun ia berlibur sendiri tanpa Yuli. Yuli hanya mengantar Steve sampai Bandara Internasional Singapura, kemudian menjemputnya lagi di Bandara, saat Steve kembali.

__ADS_1


__ADS_2