
Hy hy readears
sekarang di Mangatoon ada fitur baru loh, yuk gabung dan ngobrol bareng author di grup chat
grup ini bukan author yg bikin loh, tetapi dibuatkan oleh Mangatoon dan Noveltoon buat semua para pengguna NT dan MT
jangan lupa selalu tinggalkan jejak kalian dengan klik like, koment dan
buat vote author gak maksa kok, seikhlasnya aja hehe
ya udah yuk lanjut!!
**********************************
9 bulan kemudian
Juan baru saja pulang dari kantor, saat masuk ke kamarnya, Juan terkejut melihat Daisy terjatuh. Daisy berniat menyambut Juan tetapi saat turun dari ranjang ia malah terjatuh.
"Aww, Kak sakit!!" Daisy meringis memegangi perutnya.
"Pa, Ma," Juan berteriak memanggil Denis dan Shilla.
Mendengar teriakan Juan, Denis dan Shilla segera berlari ke kamar mereka. Betapa terkejutnya Shilla melihat Daisy terduduk dilantai. Kehamilan Daisy yang sudah menginjak bulan kesembilan itu membuat Juan tak mampu untuk mengangkat Daisy seorang diri. Shilla segera menghampiri dan membantu Juan membangunkan dan memapah Daisy.
"Papa siapkan mobil!" Denis berlari menuju garasi dan segera memarkir mobilnya didepan pintu.
"Aww, sakit, shh."
"Sabar, sayang. Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Juan.
***
Mereka sampai di rumah sakit, diperjalanan Daisy tak sadarkan diri. Dua orang petugas IGD dan satu orang Dokter jaga di IGD, membawa Daisy di ranjang dorong dan langsung melarikannya ke ruang operasi.
"Tolong kalian panggilkan Dokter Aurora," ucap Dokter jaga itu.
Juan, Shilla dan Denis duduk menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Aurora terlihat berlari bersama dua orang suster.
__ADS_1
"Dokter, tolong selamat ibu dan bayinya!" ucap Juan menghampiri Aurora.
"Berdoa saja, Pak Juan. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Daisy dan bayinya!" jawab Aurora, ia bergegas masuk ke dalam ruang operasi.
Juan terus mondar-mandir tidak tenang. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Daisy nanti, jika dia kembali kehilangan bayi mereka. Sampai setengah jam kemudian, mereka mendengar suara ribut dari dalam ruang operasi.
"Oee ... oee ... oee."
Tangisan bayi begitu nyaring terdengar dari dalam ruang operasi hingga keluar. Shilla, Denis dan Juan mengucap syukur setelah mendengar suara tangis bayi yang telah lahir.
"Terima kasih, Tuhan. Cucu kita sudah lahir, Mas!" ucap Shilla.
"Ya, sayang. Cucu pertama kita," jawab Denis.
"Anakku," gumam Juan sambil mengusap wajahnya dengan perasaan lega.
Ada satu hal yang janggal di telinga Denis, Juan, dan Shilla. Tangisan bayi di dalam ruang operasi begitu ramai.
"Apa cucu kita kembar ya, Mas?"
"Bisa jadi, sayang!" jawab Denis.
"Selamat Pak Juan, bayi anda dan Daisy sudah lahir. Mereka kembar tiga!" ucap Aurora.
Juan, Denis dan Shilla masing-masing menggendong satu orang bayi sebelum bayi itu dibawa suster dan Aurora ke ruang perawatan bayi. Kedua suster itu kembali untuk memindahkan Daisy ke ruang rawat inap. Juan menatap ketiga bayinya dari kaca ruang perawatan bayi.
"Selamat datang kedunia AKAMI!" gumam Juan dengan perasaan bahagia. Ia kemudian pergi ke ruang rawat Daisy. Kedua mertuanya sedang menunggui Daisy, mereka duduk di sofa yang ada di dekat jendela. Sedang Juan duduk di kursi samping ranjang rawat.
***
Tok tok tok
Hari ini setelah 7 bulan Elis dan Koko menikah, Hendra sang ayah untuk pertama kalinya mengunjungi rumah Elis. Setelah 6 tahun lalu ia mengusir Elis dari rumah. Elis sedang menyiapkan makan malam. Perut Elis sudah membesar, Elis tengah mengandung anak keduanya yang juga anak pertamanya bersama Koko.
"Mas, tolong buka pintunya!" ucap Elis.
Koko yang sedang bermain bersama Via itu bangun, ia menyuruh Via untuk duduk dengan manis di sofa ruang tengah.
__ADS_1
"Via tunggu Papa sebentar ya, nanti kita main lagi!"
"Ya, Pa."
Koko pergi membuka pintu dan ternyata yang bertamu adalah mertuanya.
"Bu, Pa. Silahkan masuk!" ucap Koko.
"Lis, ada ibu datang!" ucap Koko memanggil sang istri yang masih berkutat di ruang makan.
"Ya, Mas. Sebentar," jawab Elis. Ia mengambil dua piring cadangan dan menaruhnya di meja makan. Entah kenapa Elis menambahkan dua piring di meja, padahal ia belum tahu jika di ruang tamu ada ayahnya. Ia menghampiri ibunya ke ruang tamu.
"Ibu, kenapa tidak bilang kalau ibu mau datang!" ucap Elis sumringah. Senyuman itu seketika memudar saat Hendra bangun dari sofa dan menghampirinya. Elis ketakutan, ia segera bersembunyi di belakang punggung Koko.
"Lis, dengarkan dulu bapakmu bicara!" ucap Ningrum.
Hendra maju dan berlutut di depan Koko, ia ingin meminta maaf pada putrinya, Elis. Koko segera berjongkok.
"Pa, bangun. Bapak tidak perlu seperti ini," ucap Koko. Hendra tidak mau bangun, Koko menoleh ke arah Elis yang berdiri mematung memegangi perutnya.
"Maafkan bapak, bapak cuma mau meminta maaf. Maaf sudah menyakitimu begitu banyak, bapak mohon maafkan bapak. Bapak salah," ucap Herman terisak.
Elis tersenyum getir. Kata-kata Herman yang baru saja di ucapkan adalah kata-kata yang sedari dulu Elis tunggu. Elis yakin ayahnya akan menyadari jika Elis tidak bersalah. Elis selalu sabar menanti sang ayah kembali meraihnya, memeluknya, dan menyayanginya seperti saat sebelum ia ternoda.
"Kenapa begitu lama, Pak? Elis menunggu bapak begitu lama, hiks hiks." Elis terisak menghampiri ayahnya dan bersimpuh dilantai dengan memegangi perutnya. Elis memeluk ayahnya dan Koko mengusap punggung Elis. Tangis haru tak bisa ditahan oleh Ningrum, air mata mengalir deras melihat Hendra dan Elis kembali berbaikan seperti dulu.
"Jangan duduk di lantai, ayo bangun, Nak!" ucap Hendra membantu Elis yang kesulitan berdiri.
"Pa, kita makan malam bersama ya, sudah lama Elis tidak makan bersama bapak dan ibu."
"Maafkan bapak. Berapa usia kandunganmu?" tanya Hendra sambil memapah Elis.
"Enam bulan, Pak!" jawab Elis.
Koko tersenyum bahagia melihat Elis yang jalan bergandengan dengan Hendra. Lengkap sudah kebahagiaan Elis. Ia sudah mendapatkan putri yang cantik, suami yang begitu menyayanginya dan kini ayahnya sudah bersama kembali dengannya. Mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya di rumah Elis.
***
__ADS_1
Di rumah sakit, Daisy masih belum sadarkan diri. Sepertinya pengaruh obat bius saat dia operasi masih ada. Juan dengan setia menunggu Daisy di samping ranjang. Denis tertidur bersandar di sofa dan Shilla tertidur dengan kepala di pangkuan Denis. Juan tersenyum melihat betapa mesra mertuanya, mereka selalu akur dan saling menjaga satu sama lain. Juan berdoa dalam hati, semoga saja ia dan Daisy juga bisa seperti mereka.