
Daisy sampai di depan kelasnya, dia langsung pergi ke kursi paling belakang, duduk disamping Zahrana sang sahabat, dengan senyum simpul yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Ekheemmm," Zahrana berdehem keras dan membuat Daisy menoleh ke arah samping, dimana Zahrana sedang menatapnya heran.
"Kenapa, Za? Batuk ya?" tanya Daisy dengan terkekeh geli.
"Ada sesuatu yang membuatmu gembira kah?" tanya Zahra.
"Sepertinya, aku jatuh cinta pada kak Juan!" ucap Daisy dengan berbisik.
"Apa?" ucap Zahra dengan keras. Seisi kelas menoleh ke arah mereka. Daisy menutup mulut Zahra dengan telapak tangannya. Roni pacar Zahra sekaligus sahabat Daisy yang duduk di depan pun, jadi menghampiri mereka.
"Ada apa beib?" tanya Roni pada kekasihnya Zahra.
"Gak ada apa apa, beib! Sudah sana balik lagi!" ucap Zahra.
Roni pun kembali ke kursinya dan tak lama guru masuk ke dalam kelas. Pelajaran dimulai, Zahra berbisik pelan pada Daisy. "Istirahat nanti kamu harus ceritain semuanya sama aku, ok. Kalau tidak, aku tidak mau lagi jadi temanmu!" ancam Zahra. Daisy hanya memberi tanda O dengan jarinya.
*********************************
Di rumahnya Juan sedang menunggu kedatangan Herman sang asisten pribadinya. Setelah menunggu lebih dari setengah jam, Herman datang.
"Selamat pagi, pak!" sapa Herman.
"Bagaimana, sudah pak Herman siapkan, apa yang saya suruh?" tanya Juan.
"Semua sudah saya urus. Guru etika pengganti bapak sudah mulai mengajar dua hari yang lalu. Dan baju baju yang bapak minta sebentar lagi akan dikirim ke apartement. Hairstylist yang saya panggil juga sedang dalam perjalanan ke apartement. Jika kita berangkat sekarang ke apartement, mungkin kita akan tiba lebih dulu" ucap Herman.
"Ok kita berangkat sekarang kalau begitu!" ucap Juan lalu pergi dengan Herman, menuju apartement yang kemarin dibersihkan.
Mereka sampai dua puluh menit kemudian. Di depan pintu apartement, hairstylist dan kurir yang membawa pesanan baju Juan juga sudah menunggu. Setelah Juan membuka pintu, mereka semua masuk dan melakukan tugasnya masing masing. Kurir yang membawa baju menyimpan baju baju itu ke ruang ganti. Sedangkan hairstylist itu sedang memotong rambut Juan, dan menatanya seperti idol k-pop yang sedang banyak digemari anak-anak muda jaman sekarang.
***************************
__ADS_1
Jam istirahat Zahrana menarik Daisy ke atap gedung sekolah, karena penasaran dengan cerita Daisy. Mereka duduk dibangku yang ada di atap gedung. Bangku itu biasanya bekas siswa atau siswi yang bersembunyi jika ada operasi kedisiplinan mendadak. Mereka yang tidak memotong rambutnya bagi yang lelaki, dan perempuan biasanya karena memakai seragam terlalu ketat.
" Sekarang ceritakan! dengan sejelas jelasnya. Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama om Juan itu?" tanya Zahra dengan bersiap mendengarkan jawaban Daisy.
"Kemarin sore aku pergi ke rumah Juan, seperti katamu. Aku khawatir dia sakit, karena aku sudah menyuruhnya hujan hujanan. Ternyata dia memang sakit. Dan aku merawatnya semalaman!" ucap Daisy.
"Semalaman?, berarti kamu menginap di rumah om Juan?" tanya Zahra penuh rasa penasaran. Daisy mengangguk sebagai jawaban.
Daisy menceritakan semua kejadian semalam di rumah Juan, dengan sedetail detailnya. Zahra hanya tersenyum senyum geli mendengar cerita Daisy. Zahra ikut bahagia karena Zahra merasa Juan pria yang baik.
"Berarti, pulang sekolah kalian akan pergi berkencan?" tanya Zahra lagi.
"Iya.Tahu tidak Za? aku deg deg an banget. Gugup banget sekarang kalo lagi dekat dia. Nafas aja sesak kayanya!" ucap Daisy mengakhiri ceritanya, karena bel masuk sudah berbunyi. Mereka kembali ke kelas dan melanjutkan dua mata pelajaran lagi, sebelum jam pulang sekolah.
***********************
Di apartementnya, Juan sudah menata rambutnya menjadi lebih pendek sedikit. Dia memilih t-shirt coklat tipis dengan luaran jaket hitam bergambar logo basket NBA, kemudian dipadu celana jeans hitam sedikit ketat. Celana itu mungkin tak nyaman bagi Juan, karena dia bolak balik berjalan untuk menyesuaikan dengan gaya anak muda sekarang. Juan memang jadi terlihat lebih muda tanpa celana bahan longgar dan jas kerja.
"Pak Herman, apa aku masih cocok memakai ini?" tanya Juan saat keluar dari ruang ganti. Herman serasa melihat Juan sepuluh tahun yang lalu.
"Pak Herman terlalu berlebihan, aku jadi sangat gugup. Apakah Daisy akan menyukainya."
Jam pulang sekolah sudah tinggal setengah jam lagi. Juan segera berangkat menjemput Daisy. Juan lebih suka menunggu dari pada Daisy yang menunggunya. Juan memakai mobil hitam seperti biasanya, dia tidak ingin memamerkan hartanya dengan memakai mobil yang mahal. Dia ingin tetap terlihat sederhana. Juan hanya ingin merubah penampilannya saja.
Setelah setengah jam menunggu, dari kejauhan Daisy sudah terlihat sedang berjalan dengan kedua sahabatnya. Juan keluar dari mobil dan melambai pada Daisy setelah Daisy sampai di pintu gerbang, dan kedua sahabatnya Daisy hanya menatap kagum.
Penampilan Juan yang berubah membuat kedua sahabatnya Daisy tidak mengenali Juan. Apalagi Juan hari ini memakai kaca mata hitam. Juan jadi terlihat seperti anak kuliahan.
" Dais, itu Juan kan?" tanya Zahra.
"Sepertinya iya!" jawab Daisy ragu. Daisy takut dia salah mengenali orang. Tapi saat Juan menyebrang dan mendekati mereka lalu membuka kaca mata, barulah mereka yakin bahwa dia adalah Juan.
"Hai, kalian sudah pulang. Mau ikut nonton bareng?" tanya Juan pada Zahra dan Roni.
__ADS_1
"Tidak kak Juan, terima kasih. Kami punya acara sendiri, bye. Selamat bersenang senang" Zahra segera menarik Roni masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mereka berdua.
"Ayo, Dais!" ucap Juan menarik tangan Daisy dan menggandeng tangannya. Daisy tersipu malu, ini pertama kalinya dia bergandengan tangan dengan Juan. Ada rasa bahagia tapi juga gugup. Jantungnya berdegup kencang sekali. Juan membuka pintu mobil untuk Daisy. "Silahkan masuk, calon istriku!" ucap Juan. Daisy makin merasa malu.
"Kak, bisa tidak jangan memanggilku seperti itu. Aku..malu!" ucap Daisy tertunduk, tak mampu menatap Juan.
"Baiklah, sayang. Kurasa wajar kalau aku memanggil kekasihku, sayang!" ucap Juan.
"Terserah!" jawab Daisy lalu Juan menutup pintu mobil dan melaju pergi ke gedung bioskop di mall MT. Meskipun awalnya Daisy merasa canggung tapi lama kelamaan Daisy bisa bersikap santai, berjalan jalan di mall bersama Juan setelah menonton. Daisy bahkan sudah tidak malu lagi menggamit lengan Juan, sambil berjalan jalan mengelilingi mall dan mereka makan bersama di area foodcourt.
Setelah makan, Juan mengajak
Daisy ke toko perhiasan.
"Kak, buat apa kesini?" tanya Daisy heran.
"Kakak, mau pesan cincin pertunangan untuk kita!" jawab Juan.
"Tapi kan, aku sudah pakai cincin!, kenapa harus pesan cincin lagi?" tanya Daisy.
"Cincin ini terpasang tanpa perasaan, jadi aku akan menggantinya. Kali ini aku ingin kamu pilih sendiri modelnya, ok. Ayo masuk!" ajak Juan.
Mereka memilih model cincin couple, untuk acara pertunangan mereka nanti, saat Daisy lulus SMA. Hanya tinggal dua bulan lagi, dan Daisy akan lulus SMA. Setelah memilih cincin tunangan, mereka memutuskan pulang, karena ternyata waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah malam. Mereka berjalan jalan sedari pulang sekolah hingga jam delapan malam.
Juan mengantarkan Daisy pulang sampai pintu gerbang. Saat Daisy hendak turun, Juan menahan tangannya.
"Tidak ada kiss bye?" tanya Juan menatap Daisy. Wajah Daisy memerah mendengar ucapan Juan.
"Hah, kiss bye?" ulang Daisy. Juan mengangguk.
"Tapi, kak Juan tutup mata!" pinta Daisy. Juan menurut dan menutup matanya. Jantung Daisy berdegup sangat kencang, Daisy mengecup pipi Juan dengan lembut. Juan membuka matanya lalu menarik tengkuk Daisy dan mencium bibir Daisy dengan lembut. Mata Daisy membelalak lebar, saat Juan mencium bibirnya dengan lembut.
__ADS_1
Terasa bibir basah Juan menempel di bibirnya. Daisy mendorong Juan pelan dan keluar dari mobil. Daisy langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Daisy marah tidak ya? aku sudah menciumnya tanpa ijin. Jangan jangan dia marah berlari seperti itu?" Juan merasa menyesal dan takut jika Daisy marah padanya. Juan melaju pulang ke rumahnya dengan perasaan cemas, memikirkan sikap Daisy yang barusan berlari tanpa menatapnya lagi.