
Juan segera turun dari mobil lalu menghampiri Daisy. Juan langsung menarik Daisy dari dekapan Satya.
"Kak Juan!" panggil Daisy. Daisy sangat khawatir jika Juan akan salah faham padanya soal Satya.
"Kamu kenapa tidak hati-hati!" omel Juan sambil menggendong Daisy karena lutut Daisy berdarah. Juan menggendong Daisy sampai ke mobil, dan menurunkan Daisy di samping pintu mobil. Daisy masuk ke dalam mobil. Juan menatap sekilas pada Satya dengan pandangan tidak suka.
"Kak Juan tumben terlambat?" tanya Daisy sambil meniupi lututnya yang terluka.
"Kita ke klinik dulu sebentar, obati dulu lukamu baru kita bicara!" jawab Juan.
"Aku tidak mau!" jawab Daisy.
Juan hanya diam tak menjawab. Dia menepikan mobilnya saat melihat apotik di pinggir jalan. Juan turun membeli obat luka, kapas dan alkohol serta plester.
"Naikkan rokmu!" ucap Juan.
"Hah," Daisy gugup mendengar Juan memintanya menaikkan rok.
"Kalau tidak dinaikkan, bagaimana aku mengobati lukamu!"
Daisy akhirnya menurut dan menaikkan roknya sedikit di atas lutut. Juan membasahi kapas dengan alkohol dan mengusap luka di lutut Daisy dengan perlahan.
"Aw, sakit!" Daisy meringis menahan perih di lututnya. Juan meniup luka di lutut Daisy. Jantung Daisy berdebar kencang dengan perlakuan Juan. Setelah meniupnya, Juan mengoleskan obat luka di lutut Daisy lalu menutupnya dengan plester.
"Sudah selesai, kita pulang!" ucap Juan. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Setelah lama berdiam tak bicara, Daisy mengulangi pertanyaannya pada Juan. Pertanyaan yang belum di jawab oleh Juan. "Kak Juan, kenapa terlambat?" tanya Daisy.
"Kakak terjebak macet!" jawab Juan. Daisy memperhatikan wajah Juan. Jelas-jelas Daisy menangkap ada hal lain yang di sembunyikan oleh Juan. Tapi Daisy berusaha berpikiran positif, agar Daisy tidak menjadi kekasih yang terlalu mencurigai pasangannya.
__ADS_1
Meskipun Daisy mencoba percaya pada Juan, tapi hatinya tetap curiga. Apa yang Juan sembunyikan darinya. Daisy melamun sepanjang perjalanan, hingga suara Juan menyadarkan lamunannya.
"Jangan berpikiran macam-macam, aku akui memang, aku menyimpan rahasia darimu tapi percayalah! rahasiaku untuk kita berdua ke depannya. Kamu akan tahu nanti!" ucap Juan sambil mengusap pipi Daisy dengan lembut.
Daisy tersenyum lega, setidaknya Juan mengatakan bahwa Daisy tidak perlu khawatir, untuk berpikir macam-macam tentangnya.
"Sekarang, aku yang bertanya! siapa pria tadi?" tanya Juan.
Daisy termenung, dia bingung harus jujur atau tidak pada Juan. Jika Daisy berkata jujur, Daisy takut Juan jadi cemburu. Tapi kalau tidak jujur, bagaimana jika Satya terus mendekati dan mengganggunya. Juan memutar kemudinya, dia putar balik dan melaju ke arah yang berlawanan dengan jalan ke rumah Daisy.
"Kita mau kemana? Kenapa kita mengambil jalan memutar?" tanya Daisy. Juan tak menjawab dan hanya fokus melihat jalan. Setengah jam kemudian, mobil Juan sudah terparkir rapi di basement apartement. Saat Juan menoleh ke sampingnya, ternyata Daisy tertidur. Juan tidak ingin membangunkannya, jadi Juan menunggu hingga Daisy terbangun. Juan berniat melepaskan sabuk pengaman Daisy tapi gerakannya membuat Daisy terbangun.
"Huwahhm, kita sudah sampai?" tanya Daisy sambil melirik sekeliling. Juan lalu keluar dan membukakan pintu untuk Daisy.
"Aku ingin menunjukkanmu pemandangan indah!" ucap Juan menarik tangan Daisy dan membantunya keluar dari mobil. Juan membawa Daisy menuju lift dan naik ke lantai 8. Sampai di pintu apartement no 123, Juan menekan pascode dan membuka apartement. Dia menggandeng tangan Daisy dan membawanya masuk ke dalam apartement. Juan menutup pintu dan membawa Daisy ke balkon apartement.
"Wah! apartement yang sangat mewah!" ucap Daisy sambil berkeliling melihat-lihat setiap ruangan yang ada di dalam apartement itu. Daisy benar benar terpukau dengan kemewahan di setiap sudut ruangan yang dihiasi pot bunga lavender.
Daisy tersipu malu di panggil sayang oleh Juan. Daisy menghampiri Juan yang sudah membuka pintu balkon.
"Wah, itu taman bermain di atap gedung! gedung apa itu kak?" tanya Daisy dengan antusias.
"Itu gedung apa ya? kak Juan juga tidak hafal. Cuma yang kak Juan tahu, di sana serba ada!" jawab Juan.
"Dan kalau malam hari, taman atap gedung itu sangat indah!" ucap Juan. "Ekhem, ngomong-ngomong kamu belum jawab pertanyaanku, sayang! siapa pria tadi?" tanya Juan menatap serius wajah gugup Daisy. Juan menunggu dengan sabar, apa pun jawaban Daisy Juan berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan marah pada Daisy.
"Aku ingin menjawab jujur, apakah kak Juan akan marah?" tanya Daisy ragu. Juan tersenyum tipis lalu memegang dagu Daisy dan mendongakkan wajah Daisy agar menatapnya.
"Kakak tidak akan pernah marah, sayang! Kakak sangat senang jika Daisy selalu jujur dan terbuka pada kakak!" ucap Juan dengan lembut. Juan bicara dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah Daisy. Juan menatap bibir tipis Daisy yang dipoles lipgloss berwarna peach. Suasana dan posisi yang sangat romantis, tiba-tiba buyar.
__ADS_1
"Ok, tapi gak usah dekat-dekat juga!" ucap Daisy sambil mendorong Juan.
"Ck, dasar anak kecil! suasana romantis kaya gini dibikin bubar, hahaha!" Juan menyentil kening Daisy.
"Aw, kak Juan jahat ih! Aku gak jadi bilang deh kalau gitu!" rungut Daisy.
"Ya sudah, kakak minta maaf! sekarang jawab!" Juan kembali serius.
"Dia, guru dari SMA ZiJi! dia merupakan guru yang mengikuti acara pertukaran guru pengawas ujian minggu depan!" Daisy menjeda ucapannya untuk melihat sejenak reaksi Juan.
"Lalu?" tanya Juan penasaran dengan kelanjutan cerita Daisy.
"Dia bilang, dia tertarik padaku! dan tadi di kantin, dia melamarku!" ucap Daisy.
"Apa! dia berani melamar tunanganku!" Juan bicara dengan nada tinggi. Dia sangat marah, bagaimana bisa pria itu berani melamar Daisy, sedang Juan saja yang merupakan tunangan Daisy belum mengucapkan lamaran. "Aku akan hajar dia!" Juan berbalik hendak pergi.
Daisy panik melihat kemarahan Juan. Bagaimana jika Juan bertindak nekat dan melakukan penganiayaan terhadap Satya. Daisy takut jika Juan di laporkan ke polisi jika memukuli orang. Karena bingung bagaimana cara menghentikan Juan, yang sudah berjalan menuju pintu. Daisy berlari dan memeluk Juan dari belakang.
"Jangan kak, aku mohon jangan melakukan hal bodoh!" ucap Daisy. Tangan Daisy melingkar di perut Juan. Juan mendekap tangan Daisy dengan lembut, dia tersenyum.
"Kenapa? kau menyukainya?" tanya Juan sambil tersenyum, Juan ingin mengerjai Daisy.
"Tidak, aku tidak menyukainya! aku cuma takut kak Juan kenapa-kenapa!" jawab Daisy.
"Kau tidak menyukainya! tapi kau juga tidak pernah bilang menyukaiku, jadi apa kai menyukai orang lain?" tanya Juan menahan senyum. Juan pura-pura marah pada Daisy.
"Tidak ada, mana mungkin aku menyukai orang lain!" jawab Daisy.
"Jadi siapa yang kau sukai?"
__ADS_1
" Kak juan," Daisy sadar sudah keceplosan. Dia mundur dan melepaskan pelukannya. Juan berbalik menatap Daisy. Daisy tertunduk malu, Juan menarik Daisy dalam pelukannya. Daisy menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Juan.