
Juan segera masuk ke ruang UGD di rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. Satu jam kemudian Dokter keluar dari ruang UGD. Daisy menghampiri.
"Bagaimana keadaan tunangan saya, Dok?" tanya Daisy.
"Tidak ada luka fatal, hanya luka luar di bagian kening dan kami sudah menjahitnya. Untuk sementara di rawat inap dua hari, saya rasa itu sudah cukup. Saya permisi, Nona!" pamit sang Dokter setelah menjelaskan panjang lebar pada Daisy.
Daisy menghela nafas lega.
"Huh, syukurlah. Aku pikir dia mengalami luka parah!" gumam Daisy.
Daisy kemudian ke bagian administrasi untuk mendaftarkan rawat inap Juan. Setelah Juan di pindah ke ruang rawat inap, Daisy menelpon Herman untuk memberitahukan keadaan Juan. Daisy masuk ke ruang rawat Juan, dan melihat jika ia sudah sadarkan diri.
"Sayang, kamu dari mana?" tanya Juan lemah.
"Menelpon pak Herman! Bagaimana keadaanmu?" tanya Daisy. Ia duduk di kursi samping ranjang rawat Juan.
"Aku baik-baik saja! hanya butuh belaian kasih sayang aja, haha."
"Lagi sakit, masih sempat-sempatnya ngegombal!" rungut Daisy.
"Lagian bodyguard kakak kenapa di suruh jangan ngikutin sih? Kan jadi begini!" omel Daisy.
Juan hanya tersenyum, Daisy pikir para bodyguard itu tidak ada. Padahal mereka ada dan bersembunyi. Alasan Juan hanya terserempet dan hanya luka ringan, adalah karena bodyguard Juan menembak salah satu ban mobil yang menabraknya. Mobil itu hilang keseimbangan dan akhirnya bergerak tak terkendali dan menyerempet Juan.
Tok tok tok
"Pak Herman, masuklah!" ucap Daisy saat melihat Herman lah yang berdiri di balik pintu.
"Pak Juan, orang yang menabrak bapak, sudah kami urus dan kami serahkan ke polisi. Kita hanya menunggu hasil penyelidikan polisi besok!" lapor Herman. Juan mengangguk pelan.
"Pak Herman, tolong bapak antarkan Daisy pulang! Seharusnya dia sudah sampai rumah tapi malah kembali ke rumah sakit!" canda Juan.
"Aku akan kembali setelah menemui Mama dan Papa," ucap Daisy.
"Hem," Juan menjawab dengan gumaman dan anggukan pelan.
Di rumah Shilla
"Mas, Daisy kok lama ya? Tadi katanya sudah dalam perjalanan!" ucap Shilla sambil mondar-mandir dengan khawatir.
"Sebentar lagi mungkin! Tunggu saja," jawab Denis.
__ADS_1
Tak lama sebuah mobil hitam masuk ke halaman rumah Denis. Pagar rumah Denis tak pernah di tutup jika siang hari. Jadi mobil Juan ataupun Denis bisa keluar masuk dengan bebas. Karena mereka tak memiliki pembantu, bukan tak sanggup tapi Shilla menolak menyewa pembantu. Alasan Shilla karena nantinya Shilla tidak memiliki pekerjaan di rumah.
"Mama, Daisy pulang!" teriak Daisy di teras. Shilla datang membuka pintu.
"Sayang!! Kamu keluar kota kenapa gak bilang sama Mama? Dan kenapa tidak mengangkat telpon dari Mama?" tanya Shilla beruntun.
"Mama nanya kaya kereta, hehe. Daisy pergi mendadak dan di sana tidak ada sinyal, Ma!" jawab Daisy.
"Lalu kenapa sekarang terlambat? bukannya tadi sudah dekat kata kamu!" tanya Shilla kembali.
"Itu karena Juan kecelakaan, Ma! Daisy juga hanya pulang untuk beristirahat sebentar, nanti ke rumah sakit lagi buat jagain kak Juan!" jawab Daisy.
"Kalau begitu, nanti malam Mama dan Papa ikut kamu untuk menjenguk nak Juan!"
"Iya, Pa! Pak Herman, nanti tidak usah menjemput. Daisy pergi sama Mama dan Papa, pak Herman pulang saja!" ucap Daisy.
"Baiklah, saya permisi!" pamit Herman.
Di kantor polisi
"Siapa namamu?" tanya polisi pada orang yang menabrak Juan.
"Kenapa anda menabrak saudara Juan?" tanya polisi itu.
Kirman diam membisu tak menjawab.
"Saudara Kirman, jika anda tidak bekerja sama dengan baik, anda akan dihukum dengan tuduhan percobaan pembunuhan!" ucap polisi itu.
"Saya hanya di suruh pak! Saya tidak bersalah!" ucap Kirman ketakutan.
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Pak Satya!" jawab Kirman.
Di rumah sakit
"Sudah malam, kenapa Daisy belum datang?" Juan menggumam.
Tok tok tok
"Masuk!" jawab Juan.
__ADS_1
"Nak Juan, bagaimana keadaanmu?" tanya Shilla.
"Baik, Tante. Ini hanya luka ringan saja! Daisy mana Tante?"
"Tenang saja, Daisy tidak hilang! Nak Juan ini tak bisa jauh dari Daisy, ya!" goda Denis.
Juan tersenyum malu digoda oleh calon mertuanya. Denis dan Shilla juga tersenyum melihat Juan yang wajahnya memerah karena malu.
"Membicarakanku?" tanya Daisy yang baru saja masuk.
"Karena Daisy sudah di sini, kami pamit pulang! Semoga lekas sembuh nak Juan!" ucap Shilla.
"Terima kasih, Om dan Tante sudah menjenguk Juan!" tutur Juan.
Daisy duduk di samping ranjang rawat Juan. Juan terus memandang wajah Daisy, membuat Daisy menunduk malu.
"Apa aku harus pergi?" tanya Daisy menatap Juan.
"Kenapa?"
"Jika aku di sini lebih lama lagi, rasanya tubuhku bisa meleleh kau pandangi!" jawab Daisy tersenyum geli.
Juan tertawa kecil mendengar penuturan Daisy. Daisy adalah separuh nafas dan jiwa Juan. Hingga tanpa Daisy rasanya Juan sulit untuk bernafas normal.
"Mau makan buah?" tanya Daisy. Juan mengangguk. Daisy mengupaskan jeruk yang tadi dibelinya di toko buah seberang rumah sakit. Setelah selesai dikupas, Daisy menyodorkannya pada Juan.
"Suapin!" ucap Juan dengan berpura-pura menjadi anak kecil. Daisy tersenyum melihatnya.
"Manja! nih a..." Daisy menyodorkan ke arah mulut Juan, tapi Juan tak mau membuka mulutnya.
"Pakai mulut!"
"Apa? pakai mulut!" Daisy terkejut mendengar permintaan Juan. Juan mengangguk pelan.
Daisy menatap ke sekeliling. Memastikan tak ada orang lain yang akan masuk ke ruangan rawat Juan. Daisy lalu menyelipkan sepotong jeruk diantara kedua bibirnya dan menyuapkannya ke mulut Juan. Tiba-tiba pintu terbuka.
ceklek
"Uupsstt, maaf!" ucap Herman kembali keluar dan menutup pintu.
Daisy malu setengah mati karena kepergok pak Herman. Daisy menyembunyikan wajahnya di dada Juan. Juan hanya tersenyum geli melihat Daisy. Daisy memukuli dada Juan pelan. Rasanya jika ada sebuah lubang, Daisy ingin masuk ke sana saking malunya. Apalagi
__ADS_1