
Keesokan hari
Pagi-pagi sekali, Juan sudah menyuruh lima orang bodyguardnya untuk berjaga di sekolah. Mereka menyamar dan berpencar di beberapa lokasi di depan dan belakang sekolah. Sedangkan Juan, Herman, Aceng dan lima orang bodyguard lainnya menunggu di seberang jalan, di depan rumah Satya.
Tak lama mereka melihat Satya keluar dari rumah, dia menaiki mobil merahnya dan pergi ke sekolah. Setelah mobil Satya tak terlihat, mereka segera bergerak. Kelima bodyguard itu mendobrak pintu rumah Satya. Setelah terbuka mereka berpencar untuk mencari ruangan rahasia di rumah itu.
Mereka mengetuk setiap dinding, mencoba mencari pintu rahasia menuju ruang bawah tanah. Juan pergi ke dapur dan melihat sesuatu yang janggal.
"Pak Herman, kemarilah!" panggil Juan.
Herman menghampiri Juan di susul Aceng di belakangnya. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah lemari yang terkunci.
"Bukankah aneh! Kenapa lemari pakaian berada di dapur? Bagaimana menurut kalian?" tanya Juan dengan pandangan heran.
"Memang aneh! Kalian coba geser lemari ini!" perintah Herman.
Kelima bodyguard itu mencoba menggeser dan segera melapor.
"Lemari ini, menempel langsung ke dinding, pak Juan!" ucap salah seorang bodyguard.
"Cari sesuatu untuk membuka pintu lemari! Aku yakin ini adalah pintu menuju ruang bawah tanah," ucap Juan.
Para bodyguard mencari disekitar rumah, tapi tak ada alat yang bisa digunakan untuk membobol kunci. Salah seorang bodyguard mencari di luat rumah, dan kembali ke dalam dengan membawa cangkul.
"Kita coba dengan ini!" ucap si bodyguard.
Prak prak prak
Bodyguard itu memukul-mukul gembok besar yang mengunci pintu lemari.
"Ehm, apa dia kembali lagi? Kenapa aku mendengar bunyi sesuatu yang diketuk-ketuk!" gumam Daisy. Dia bersiap untuk beraksi. Daisy mencari sesuatu untuk memukul Satya. Daisy mengambil teflon untuk memukul, dia berdiri di dekat pintu kamar Satya.
"Apa pun yang terjadi, aku harus bisa keluar hari ini. Mama pasti sangat mencemaskanku!" gumam Daisy.
Di atas, Juan dan para bodyguard sudah berhasil membuka pintu dan menuruni tangga dengan perlahan. Di ujung tangga kembali ada sebuah pintu, hanya saja pintu itu tidak terkunci. Mereka keluar dari pintu dan saat mereka menoleh, pintu itu juga berbentuk lemari.
Daisy sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang. Seorang bodyguard memutar kunci kamar, dan saat pintu kamar di buka.
Bugg
Daisy memukul kepala bodyguard itu hingga pingsan. Kemudian Daisy menjatuhkan teflon yang di pegangnya. Dia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Dia tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Daisy, sayang. Kamu gak apa-apa?" tanya Juan berlari menghampiri Daisy lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Entah karena terlalu senang atau terlalu syock, Daisy terkulai pingsan di pelukan Juan.
"Dais, Daisy, hei sayang. Bangun!" panggil Juan dengan khawatir.
"Aceng, tolong bawa Daisy ke rumah sakit! Aku akan menunggu laki-laki kurang ajar yang telah membuat Daisy menderita!" ucap Juan dengan mata berkilat penuh kemarahan.
Aceng, Herman dan dua orang bodyguard itu pergi membawa Daisy ke rumah sakit. Sedang Juan dan tiga orang bodyguard yang tersisa tinggal di dalam rumah itu untuk menunggu Satya.
"Akan kuhabisi kau, Satya!" geram Juan.
Di rumah sakit
Daisy tersadar dari pingsan dan menatap berkeliling.
"Pak Herman, kak Juan mana?" tanya Daisy ketika melihat Herman.
"Pak Juan sangat marah dengan Satya, dia masih di ruang bawah tanah!" jawab Herman.
"Apa!! Aku harus ke sana, kak Juan dalam bahaya!" ucap Daisy turun dari ranjang.
"Non Daisy tak perlu khawatir! Pak Juan bersama beberapa orang bodyguard," ucap Herman.
"Benar, Daisy. Sebaiknya kamu pulihkan dulu tubuhmu, saat Juan datang kau harus bisa menyambutnya," timpal Aceng.
Di rumah Satya
Jam pulang sekolah, Satya membeli makanan di kantin untuk Daisy. Dia keluar dari gedung sekolah dan melaju dengan mobilnya menuju ke rumah. Bodyguard yang berjaga di pintu gerbang depan segera melapor pada Juan.
"Baiklah, aku mengerti!" ucap Juan saat bodyguardnya menelpon. Juan menutup panggilan suara itu, dan dia sudah bersiap untuk menyambut Satya. Juan yang sudah sangat marah pada Satya itu pun menanti di depan pintu kamar.
Satya sampai di rumahnya dan segera memarkir mobilnya. Satya masuk ke dalam rumah dan merasa curiga. Dia berlari ke dapur dan melihat pintu ruang bawah tanah rusak.
"Sial, bagaimana bisa ada yang tahu?" gerutu Satya dengan kesal.
Dia langsung berlari ke ruang bawah tanah dan saat membuka pintu kamar.
Bugg bugg bugg
Juan segera melayangkan tinju berkali-kali dengan emosi yang tak terbendung. Juan dan Satya berkelahi, tentu saja Satya bukanlah tandingannya. Juan sudah berlatih tinju sejak kecil dan menjadikannya sebagai olah raga harian. Satya tersungkur dengan wajah lebam. Juan mendekat dan mencengkram kerah kemeja Satya.
"Berani-beraninya, kau menyentuh Daisy! Hari ini jika bukan karena aku malas mengotori tanganku, maka bisa kupastikan aku sudah mencabik-cabik tubuh kotormu ini!" ucap Juan dengan tatapan setajam pisau yang mengiris sampai ke jantung.
"Hahaha, dia sudah bersamaku tiga hari! Apa kau tahu apa saja yang sudah kulakukan dengannya?" ucap Satya memprovokasi emosi Juan.
__ADS_1
Bugg
Juan kembali melayangkan tinjunya sekali, lalu melepaskan cengkraman tagannya di kerah kemeja Satya.
"Hajar dia sampai dia menyesal karena telah berurusan denganku! Dan lemparkan dia ke rumah sakit jiwa, dia lebih pantas di sana!" ucap Juan kemudian berlalu meninggalkan Satya yang dihajar habis-habisan oleh ketiga bodyguardnya.
Juan melaju dengan mobil birunya dengan kecepatan tinggi. Dia menuju rumah sakit untuk menemui Daisy di rumah sakit.
Sampai di lobby rumah sakit, Juan bertemu Aceng yang sedang menelpon seseorang. Saat melihat Juan, Aceng menutup telponnya.
"Pak Juan!" sapa Aceng.
"Dimana Daisy?" tanya Juan.
"Kamar Melati no 3," jawab Aceng.
"Baiklah, aku akan menemui Daisy. Dan terima kasih, karena telah menemukan Daisy!" ucap Juan.
"Sama-sama, itu sudah tugask saya. Karena Daisy juga sudah di temukan, kalau begitu saya permisi! Ada kasus yang lain yang harus saya pecahkan!" ucap Aceng pamit. Aceng pun berlalu meninggalkan rumah sakit. Dan Juan pergi ke rung rawat Daisy.
Daisy sedang duduk di ranjang rawat sambil mengobrol bersama Herman saat Juan masuk. Daisy menoleh ke pintu dan pandangan mereka pun bertemu.
"Kak Juan!"
"Dais, kamu tidak apa-apa kan, sayang?" tanya Juan khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja!" jawab Daisy.
"Syukurlah, kakak sangat khawatir!" ucap Juan memeluk Daisy. Herman keluar meninggalkan mereka berdua.
"Akhirnya, aku bisa menemukan kamu."
Juan membelai rambut Daisy dengan lembut. Dia merasa lega karena Daisy baik-baik saja. Juan benar-benar ketakutan jika dia harus kehilangan Daisy.
**********************************
Dan mereka sudah kembali bersama ya readers
jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya😘
Ada apa lagikah dengan cerita mereka selanjutnya?
Stay terus buat ikutin kisah mereka.
__ADS_1
see you next chapter