Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Ngambek


__ADS_3

Semalaman Juan tidak bisa tidur, dia terus menatap ponselnya. Menunggu balasan pesannya dari Daisy. Hingga pagi tiba, tak ada balasan lagi dari Daisy. Juan menjemput Daisy lebih pagi dari biasanya.


ting tong ting tong


Juan menekan bel rumah Shilla. Dan Denis yang membukakan pintu untuk Juan.


"Selamat pagi, om!" sapa Juan.


"Pagi, nak Juan. Masuklah! Daisy sedang bersiap-siap. Kita sarapan bersama!" ajak Denis.


"Terima kasih, om. Tapi Juan ada janji sarapan di luar berdua. Maaf!" ucap Juan.


"Oh, begitu rupanya. Tidak apa-apa, om senang jika kalian semakin akrab. Seminggu lagi Daisy akan melaksanakan ujian. Om dan tante sedang mempersiapkan acara pertunangan resmi untuk kalian!" Denis duduk di sofa ruang tamu, menemani Juan menunggu Daisy.


tap tap tap


Daisy berlari kecil menuruni tangga, lalu menatap ke arah Juan yang terlihat sedikit cemberut.


"Pagi, pah! Pagi, kak Juan!" Daisy menyapa kedua lelaki yang duduk di sofa ruang tamu.


"Pagi, sayang," jawab Denis.


"Ayo, kak Juan! Kita berangkat sekarang!" ucap Daisy. Juan tak menjawab Daisy.


"Om, Juan antar Daisy dulu!" pamit Juan pada Denis.


"Kak Juan, kenapa?" gumam hati Daisy. Sampai mereka duduk di dalam mobil pun, Juan tak mau bicara pada Daisy. Daisy penasaran dengan kebisuan Juan, dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Kak Juan, kenapa? sedari tadi diam saja! Marah?" tanya Daisy sambil menatap Juan, yang terus memandang ke depan.


Juan menepikan mobilnya di dekat penjual bubur ayam angkringan. Juan membuka pintu mobil untuk Daisy. Daisy keluar tanpa berkata apa pun. Juan mengajak Daisy sarapan di warung bubur pinggir jalan.


"Pak, buburnya dua porsi!" Juan memesan bubur lalu menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Aku pergi saja!" ucap Daisy. Dia bangun dari kursi dan hendak pergi, Juan segera menahan tangan Daisy.


"Duduk! kamu belum sarapan!" ucap Juan sambil menarik lengan Daisy agar kembali duduk.


"Habisnya, kak Juan kenapa sih? dari tadi aku dicuekin, nyebelin!" gerutu Daisy.


"Kamu juga jahat!" jawab Juan. Daisy menarik tangan yang dicekal Juan, tapi Juan malah menggenggam telapak tangan Daisy di bawah meja. Daisy celingukan melihat sekeliling. Daisy malu jika ketahuan pegangan tangan di tempat umum.


"Memangnya, aku jahat! kenapa?" tanya Daisy.


"Aku tidak bisa tidur sampai pagi, karena menunggu telpon darimu!" ucap Juan dengan suara pelan. Daisy ingin menjawab tapi terjeda penjual bubur yang membawakan pesanan mereka.


"Silahkan dinikmati!" ucap pria penjual bubur ayam.


"Aku tidak bilang, kalau akan menelpon?" tanya Daisy. Daisy tidak mengerti, mengapa Juan menunggu telpon darinya.


"Tapi, aku kan sudah mengirim pesan, aku ingin mendengar suaramu! Tapi kau bahkan tidak membalas pesanku! Dan aku, menunggu pesanmu sampai pagi!" rungut Juan dengan wajah cemberut.


Daisy baru faham, ternyata itulah yang membuat Juan marah padanya. Daisy menopang pipinya dan memperhatikan wajah cemberut Juan. Daisy tersenyum menatap pria di sampingnya. Juan yang merasa di perhatikan itu pun menoleh dan mengikuti pose Daisy yang menopang pipinya. Mereka saling pandang lalu tersenyum geli.


Dari seberang jalan, ada seorang pria sebaya dengan Daisy, dia memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Dia tersenyum sinis, kemudian melanjutkan perjalanannya. Pria itu adalah Aceng, dia berjalan menuju ke sekolahnya. Aceng di pindahkan ke sekolah yang tak jauh dari tempat Daisy dan Juan sarapan. Lokasi itu juga tak jauh dari rumah Aceng. Karena itulah, Aceng pergi sekolah dengan berjalan kaki.


Aceng yang memendam perasaan terhadap Daisy itu merasa hatinya sakit, melihat kemesraan mereka. Tapi Aceng sadar, cintanya sudah ditolak oleh Daisy. Aceng teringat saat dia mencium pipi Daisy, dia tersenyum sendiri.


"Hahh ... setidaknya aku sudah mengucapkan selamat tinggal padanya!" Aceng bergumam dan menghela nafas berat.


Seusai sarapan, Juan mengantar Daisy ke sekolah. Sampai di depan gerbang, Daisy di sambut Zahra dan Roni yang melambai di parkiran. Daisy berpamitan pada Juan.


"Dah, kak Juan!" ucap Daisy. Dia berlari menghampiri Zahra dan Roni setelah berpamitan pada Juan. Juan melaju dengan mobilnya meninggalkan gerbang sekolah, setelah Daisy tak terlihat.


"Dais, seminggu lagi kita UN! Bagaimana rencana kuliahmu ke luar negeri, jadi?" tanya Zahra. Seketika Daisy sadar, dia telah melupakan cita-cita kuliahnya ke luar negeri karena jatuh cinta pada Juan.


"Aku, tidak tahu! Za," jawab Daisy bingung. Dia sangat ingin kuliah di luar negeri, sebelum dia jatuh cinta pada Juan. Tapi sekarang, Daisy merasa berat jika harus menjauh dari Juan. Ini adalah cinta pertamanya, dan mereka juga belum lama resmi berkencan. Apa Juan akan mau menunggu Daisy, jika Daisy kuliah di luar negeri. Daisy melamun sepanjang koridor menuju ruang kelasnya. Daisy menabrak seorang guru dan dia terpental ke belakang. Hampir saja Daisy terjatuh jika sang guru tidak menarik tangan Daisy. Guru itu menarik tangan Daisy dan membuat Daisy masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Dada bidang dan bau parfum maskulin yang tercium dari tubuh sang guru, cukup untuk membuat Daisy menyimpulkan bahwa yang sedang mendekapny adalah guru laki-laki. Daisy mundur dan mendorong tubuh sang guru.


"Maaf pak, saya tidak sengaja. Saya tidak melihat jalan," ucap Daisy.


"Dan, terima kasih. Bapak sudah menolong saya, supaya tidak terjatuh," tambahny lagi.


"Sama-sama! siapa namamu?" tanya sang guru. Suara lembutnya belum pernah Daisy dengar. Daisy yang sedari tadi menunduk ketakutan itu pun jadi mengangkat wajahnya. Daisy mengernyit menatap sang guru.


"Aku tidak tahu jika ada guru semuda ini di sekolah ini! Dia siapa?" Daisy bergumam dalam hati.


"Hei! aku bertanya padamu!" ucap guru itu.


"Saya Daisy, pak!" jawab Daisy.


"Daisy! Bisakah kau antarkan aku ke kantor. Sedari tadi aku berkeliling tapi belum ketemu juga ruang kantornya," ucap sang guru.


"Bisa, pak! silahkan!" Daisy berjalan lebih dulu, sang guru berjalan mensejajarkan di samping Daisy.


"Bapak baru, ya?" tanya Daisy.


"Saya tidak mengajar di sini!" jawab sang guru.


"Oh, ya. Kenalkan saya Satya Alif, kamu bisa panggil saya Satya!" ucap Satya.


"Oh. Sudah sampai, pak Satya! Ini kantornya. Saya permisi!" ucap Daisy berbalik pergi. Satya mengucapkan terima kasih tapi tak terdengar oleh Daisy.


Satya guru bahasa Indonesia dari sekolah lain. Tahun ini, setiap sekolah menukar guru untuk mengawasi Ujian yang akan dilaksanakan minggu depan. Satya berusia 23 tahun, memiliki paras tampan dan juga masih lajang. Saat bertabrakan dengan Daisy tadi, dia merasakan getaran asmara di hatinya. Dia tersenyum menatap punggung Daisy yang makin menjauh.


**************************


Hi readers,,


makasih buat dukungan kalian ya😍

__ADS_1


like n komen selalu aq tunggu ya


stay terus sm Daisy dan Juan ya👍


__ADS_2