Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Daisy sakit


__ADS_3

Juan sampai berminggu-minggu tak mendapat kabar dari Daisy. Kerinduan Juan begitu menyiksa. Karena bukan hanya rindu tapi juga khawatir.


"Daisy, apa sesibuk itu? Sampai tidak ada waktu untuk mengabariku," gumam Juan lirih di atas pembaringan. Juan menatap langit-langit kamar dengan sedih.


Drrttt drrttt


Ponsel Juan bergetar di nakas. Juan mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan suara itu.


"Halo, nak Juan. Bisa Tante minta tolong?" tanya Shilla.


"Tentu saja! minta tolong apa, Tante?" tanya Juan.


"Daisy baru saja menelpon, dia dirawat di rumah sakit. Bisakah nak Juan menemani Daisy di sana?"


"Apa!! Daisy di rawat, Tante? Di rumah sakit mana, biar Juan ke sana sekarang juga!" Juan kaget dan langsung bangun dari ranjangnya.


"Di The Mount Sinai Hospital ruang Rose no 201. Tolong sampaikan pada Daisy jika Om sedang tidak enak badan, jadi Tante tidak bisa menemaninya!" ucap Shilla.


"Ok, Tante. Juan berangkat sekarang." Juan segera merapikan bajunya ke dalam tas ransel, dia tidak ingin membawa baju terlalu banyak. Setelah itu dia mengambil pasport dan dompetnya. Juan menyetop taxi dan meluncur ke Bandara. Untung saja masih tersisa satu tiket untuk penerbangan sore itu, jika tidak, Juan harus menunggu sampai besok pagi karena sudah tak ada penerbangan ke USA untuk hari ini. Juan duduk di pesawat dengan khawatir.


Penerbangan dari Indo ke USA membutuhkan waktu 16 jam lebih. Tapi Juan tak bisa memejamkan mata, padahal seluruh penumpang sudah tertidur.


The Mount Sinai Hospital


Tiba di Bandara John F. Kennedy, Juan langsung menyetop taxi dan pergi ke rumah sakit untuk menemui Daisy. Selain rasa khawatir ada rasa lain yang membuatnya ingin segera menemui Daisy, kerinduan. Juan sangat merindukan Daisy, karena selama sebulan ini tidak ada kabar apa pun darinya.


Sampai di rumah sakit, Juan langsung mencari ruang Rose no. 201.


ceklekk


Juan membuka pintu dan melangkah masuk dengan perlahan. Juan melihat Daisy yang terbaring lemah di ranjang rawat rumah sakit. Daisy sedang tertidur saat Juan masuk ke dalam ruang rawat. Juan duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Dia menatap wajah pucat Daisy dengan penuh kerinduan.


Daisy menggeliat saat cahaya matahari menerobos masuk, melewati gorden tipis yang menutupi kaca jendela. Daisy menoleh ke samping dan melihat Juan yang menatapnya. Daisy berpikir dirinya sedang berhalusinasi. Daisy bangun dan duduk di ranjang, menatap Juan yang juga sedang menatapnya. Daisy bergumam, "Apakah karena aku terlalu merindukanmu, hingga aku berhalusinasi. Kau tidak mungkin datang, tidak mungkin."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Juan dingin.


Daisy terbelalak, dia mengucek matanya. Daisy mengernyit heran, kenapa suara pria dalam halusinasinya itu begitu nyata.


Juan bangun dan mendorong Daisy hingga tertidur lagi di ranjang. Juan menahan kedua tangan Daisy di sisi kiri dan kanan tubuh Daisy. Dengan mata yang menatap tajam ke mata Daisy.


Deg


"Ini tidak mungkin, ini terlalu jelas untuk sebuah halusinasi!" gumam hati Daisy.


"Kau, Ju...Juan?" tanya Daisy dengan terbata.


"Memangnya kau mengharapkan siapa yang datang, selingkuhanmu?" tanya Juan dengan tatapan marah. Juan lalu mencium Daisy.


Akhirnya Daisy sadar, yang ada di hadapannya benar-benar Juan. Daisy meneteskan air mata. Juan menarik diri dari Daisy.


"Untuk apa kak Juan ke sini?" tanya Daisy tak mau menatap Juan. Juan hanya bangun dan berdiri kaku sambil bersedekap, menatap Daisy dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa dalam waktu sebulan, sikap Daisy berubah menjadi sedingin es. Daisy seolah tak ingin melihat kehadiran Juan di hidupnya.


"Kenapa kau tidak mengharap aku datang menemuimu, kenapa?" tanya Juan dengan pelan tapi penuh tekanan.


"Pendamping? Apa kau tahu seperti apa hari-hariku disana? Dan kau menuduhku mempunyai pendamping, alasan yang sungguh tak masuk akal. Jika kau sudah mendapatkan pria lain di sini, katakan saja dengan jujur. Jangan memutar balikkan fakta," jawab Juan dengan kesal.


Di rumah Denis


"Mas, apa Daisy tidak akan marah pada kita?" tanya Shilla yang sedang duduk bersama Denis di ruang tengah sambil membaca majalah.


"Biarlah, karena mas rasa ada kesalah fahaman diantara mereka. Kita sudah sebulan lebih menyembunyikan kabar Daisy. Mas bingung kenapa tiba-tiba Daisy menyuruh kita jangan memberitahukan apa pun pada Juan. Sementara Juan, kamu tahu sendiri. Setiap hari dia datang menanyakan, apakah Daisy menghubungi kita. Mas tidak tega lihatnya!" ucap Denis.


"Benar juga. Tapi kenapa harus beralasan sakit?" tanya Shilla.


"Siapa yang bilang sakit? Bukankah kamu bilang pada Juan bahwa mas tidak enak badan. Mas kan memang tidak enak badan. Kalau di pijat sama baby Shilla pasti jadi enak," goda Denis.


"Apa sih mas, panggil baby kaya gitu. Geli aku dengernya, iihh!!" Shilla bergidik lalu pergi ke kamar.

__ADS_1


"Sayang, kenapa gak bilang kalau mau pijat-pijatan di kamar. Ayo kalau begitu, sekalian push up, ha haa," Denis mengejar Shilla sambil terus menggodanya.


Di Mount Sinai Hospital


"Aku lihat sendiri kamu berpelukan di Bandara. Apa kau bisa jelaskan, kenapa kau berpelukan dengan wanita lain bahkan sebelum aku berangkat?" isak Daisy.


"Jadi karena itu," ucap Juan melunak. Juan duduk di kursi dan bersiap menjelaskan tapi karena ada seorang dokter yang masuk untuk memeriksa Daisy, Juan menjeda ucapannya.


"Excuse me, who are you Sir? (Permisi, anda siapa Tuan?)" tanya Dokter wanita berambut putih sebahu.


"I,m Juan, Miss Daisy's fiance! (Saya Juan, tunangan Nona Daisy!)" jawab Juan.


"Miss Daisy, is that true? (Nona Daisy, apakah itu benar?)" tanya Dokter pada Daisy.


"That's right, Doctor. (Itu benar, Dokter)"


"Ok. I will check your health today! (Saya akan cek kesehatan anda hari ini!)" ucap Dokter itu.


Dia mengecek mata, detak jantung, tekanan darah dan yang lainnya. Setelah itu sang Dokter pun selesai memeriksa.


"Everything has returned to normal. This afternoon you can go home, I will make a permit for you to submit to campus. (Semuanya sudah kembali normal. Sore ini anda bisa pulang, saya akan membuat surat ijin untuk anda serahkan ke kampus)" ucap Dokter itu.


"Thank you, Doc! (Terima kasih, Dok!)" ucap Daisy, Dokter itu mengangguk.


"If so, excuse me."


Dokter itu pun pergi. Daisy berbaring kembali.


"Dais, bisa kakak minta waktu darimu? Lima menit saja, untuk menjelaskan!" pinta Juan.


Daisy berbaring membelakangi Juan. Juan merasa tetap harus menjelaskan semuanya.


"Dia Aisyah. Wanita yang kamu lihat adalah Aisyah, mantan pacar kakak waktu kuliah di KL. Dia ke Indo untuk berlibur bersama suami dan anaknya. Pelukan itu hanya pelukan seorang kenalan yang sudah lama tidak bertemu. Kakak juga berfoto dengan mereka, kakak bisa tunjukkan fotonya kalau kamu mau melihatnya!" ucap Juan menjelaskan dengan panjang lebar.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku tidak mau melihat wajah jelek kakak di foto, aslinya aja udah nyebelin," rungut Daisy. Juan tersenyum lega, Daisy sudah bisa meledeknya. Itu artinya, Daisy sudah tidak marah lagi padanya.


__ADS_2