Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Kamu!!


__ADS_3

Pria yang menculik Daisy itu sedang memasak makan siang untuk Daisy. Dia membuat ayam jamur masak kecap.


Di kamar, Daisy tersadar setelah dibius oleh pria yang menculiknya.


"Sshh, aaww. Kenapa pusing sekali?" Daisy bangun dan duduk di ranjang. Pandangannya berkeliling mengitari seluruh kamar mewah itu. "Dimana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Daisy. Dia mengingat-ingat kejadian pagi ini, dia ingat jika pagi ini mengobati seorang karyawan yang bekerja di minimarket milik Juan. Daisy juga ingat bahwa dia diserang seseorang saat mencuci tangan, dan dia tak ingat kejadian setelah itu.


Daisy mencoba turun dari ranjang tapi kepalanya serasa berputar-putar. Daisy terduduk kembali di ranjang. Kemudian pintu kamar terbuka, memperlihatkan seorang pria membawa nampan berisi makanan dalam mangkuk. Mata Daisy melebar sempurna, saat melihat pria yang sedang membawa nampan. Pria itu berjalan mendekat ke ranjang, tempat Daisy terduduk dengan kaki lemas tak mampu berdiri.


"Kamu!! Sa...Satya!!" ucap Daisy dengan terbata.


"Halo, sayang. Kamu sudah bangun?" tanya pria yang menculik Daisy. Yang ternyata adalah Satya.


"Kamu, ngapain bawa aku ke sini? Kamu yang nyulik aku?" tanya Daisy dengan pandangan waspada, Daisy takut dengan pandangan mata Satya yang seolah ingin menelan bulat-bulat tubuh Daisy.


"Untuk apa aku membawamu? Masa lupa sih, sayang! Aku kan ingin menikahimu!" jawab Satya.


"Kamu gila! Aku sudah menolakmu dan tidak akan pernah mau menerima pria gila sepertimu untuk menjadi suamiku!" jawab Daisy dengan emosi yang memuncak.


"Aku akan menunggumu sampai bilang ya," ucap Satya. Dia meletakkan nampan di meja nakas samping tempat tidur.


"Makanlah, aku masak sesuatu yang spesial buat kamu, sayang," ucap Satya sambil mendekati Daisy dan duduk di sampingnya.


"Jangan dekat-dekat!" ucap Daisy bergeser dengan lemah menjauh dari Satya. Satya tersenyum sangat manis, jika saja dia pria baik dan tersenyum pada wanita yang mencintainya. Tapi bagi Daisy, senyuman Satya sungguh sangat memuakkan.


"Makanlah," ucap Satya lalu bangun dan melangkah hendak pergi, tapi Satya berhenti karena ucapan Daisy.


"Aku tidak mau makan, biar saja aku mati!" jawab Daisy berteriak.


"Pilihannya mau makan sendiri, atau aku akan memaksamu makan dengan mulutku! Atau kau memang ingin aku suapi pakai mulutku, sayang!" Satya melangkah mendekati Daisy kembali dengan seringai tajam.


Karena ketakutan jika Satya menyuapinya menggunakan mulut, Daisy melempar nampan berisi makanan itu, hingga mangkuk dan gelasnya pecah berantakan di lantai. Satya meradang dan mendorong Daisy hingga berbaring. Satya merangkak di atas tubuh Daisy.

__ADS_1


"Jangan macam-macam! atau aku akan sangat membencimu!" ucap Daisy ketakutan.


"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku akan melakukan segala cara agar kau mau makan! Akan kubawakan makanan yang baru, jika kau tidak memakannya! maka kita lihat, akan seperti apa aku memaksamu!!" ucap Satya. Dia kemudian membersihkan pecahan mangkuk dan gelas, juga makanan yang tumpah akibat ulah Daisy. Setelah itu dia kembali ke dapur dan mengambilkan makanan yang baru.


"Kak, Juan. Tolong aku!" isak Daisy. Dia duduk di ranjang dengan sedih. Seandainya dia kuat, dia pasti sudah berlari keluar dari sana. Tapi efek obat bius itu membuat Daisy lemas bahkan hanya untuk berdiri saja sulit. Daisy hanya bisa meneteskan air mata dengan isakan pelan.


************************************


Di kota Y


Juan sampai di proyek pembangunan supermarket.


"Ko, coba kamu panggil Mandor proyek di sini. Aku ingin tahu, apa penyebab para pekerja itu mogok untuk bekerja!" ucap Juan.


"Baik, pak. Saya akan panggil Mandor itu ke sini," jawab Koko, dia pergi mencari orang yang memimpin para pekerja. Setelah menemukannya, Koko membawanya menghadap Juan.


"Pak Juan, ini Mandor Jaya. Orang yang bertanggung jawab di lapangan," ucap Koko.


"Begini pak, mereka itu mogok karena sudah hampir sebulan kami bekerja di sini, tapi kami belum mendapat gaji. Sedangkan kami para rakyat jelata ini mencari uang karena kami membutuhkannya. Ada satu orang yang meminjam uang kepada kontraktor kemarin, tapi bukannya di kasih malahan di dorong hingga terbentur dinding dan sekarang masuk rumah sakit. Jadi kami ingin meminta hak kami, lalu berhenti bekerja." Mandor itu menjelaskannya panjang lebar.


"Saya turut bersimpati untuk anak buah Pak Jaya yang masuk ke rumah sakit. Saya akan urus masalah keuangan kalian hari ini. Pak Jaya hitung semua gaji anak buah bapak, saya akan membayarnya hari ini juga!" ucap Juan.


"Terima kasih, Pak!" ucap Jaya, lalu pergi menemui anak buahnya yanh sedang berdemo di depan bangunan supermarket yang baru setengah jadi itu.


"Koko, putuskan kontrak kerja sama kita dengan perusahaan kontruksi MK. Ganti perusahaan kontruksinya. Kamu bawa satpam penjaga bangunan di depan dan cairkan cek ini!" ucap Juan setelah menulis nominal di secarik kertas cek.


"Baik pak," Koko berlalu pergi menuju Bank terdekat bersama seorang satpam.


"Sambil menunggu Koko, aku telpon pak Herman dulu. Aku penasaran kenapa dia menelpon tadi!" gumam Juan. Dia mengambil ponselnya dan mendial nomor Herman.


Tutt tutt tutt

__ADS_1


"Halo," sapa Herman dari seberang telpon.


"Ada apa pak Herman menelpon saya tadi?" tanya Juan sambil berdiri di dekat jendela yang masih tertutup plastik.


"Saya tidak yakin apa yang terjadi dengan Nona Daisy, tapi sepertinya Non Daisy di culik!" ucap Herman.


"Apa!! Bagaimana bisa Daisy di culik?" tanya Juan dengan khawatir. Tangannya terkepal menahan amarah.


"... ..." Herman menceritakan semua dari awal.


"Kurang ajar, siapa yang berani menculik tunanganku. Akan ku buat dia menyesal seumur hidup! Aku akan segera kembali. Cari petunjuk sekecil apa pun itu!" perintah Juan, dan panggilan itu pun diakhiri.


Juan mondar-mandir gelisah. Jika saja dia tak punya janji pada para pekerja, ingin rasanya Juan terbang sekarang juga. Tapi Juan bukanlah orang yang tak menepati janji. Janji baginya adalah kehormatannya, dia tak pernah ingkar janji.


"Aku akan segera mencarimu, sayang! Tunggulah sebentar!" gumam Juan.


****************************


Di rumah Satya


"Sayang, mau aku suapi atau makan sendiri?" tanya Satya tersenyum penuh intimidasi.


"Sendiri!" jawab Daisy. Daisy membutuhkan tenaga untuk melarikan diri. Karena itu dia lebih baik makan dan mengisi tenaganya.


"Aku harus memulihkan tenagaku, dan mencari cara untuk kabur dari rumah ini," gumam hati Daisy. Matanya menatap sekeliling seolah sedang mencari celah untuk kabur. Dan Satya tersenyum smirk.


"Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dari sini, percayalah sayang! Pilihanmu hanyalah menikah atau tinggal di sini selamanya!" Satya keluar dan mengunci pintu kamar besar itu.


"Kak Juan! kumohon datanglah, selamatkan aku, hiks."


Daisy hanya memakan makanannya sedikit. Daisy lalu menangis tersedu memikirkan bahwa dia harus selamanya terkurung di rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2