Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Musuh tersembunyi


__ADS_3

Matahari semakin meninggi, suara dari perut Daisy yang mulai keroncongan itu menandakan sudah waktunya makan siang. Daisy membuka jas Dokter yang dipakainya berikut dengan stetoskop yang ia kalungkan di lehernya. Daisy pergi ke ruangan Juan untuk mengajaknya makan siang, tetapi ia melihat peringatan di depan pintu.


"Sepertinya sedang tidur," pikir Daisy. Daisy sadar betapa lelah dan sulitnya Juan menghadapi dirinya yang tengah hamil. Daisy tidak tega membangunkan Juan dan pergi ke kantin seorang diri. Di sana ia bertemu Herman dan Koko yang sedang makan siang.


"Dokter Daisy, tidak bersama pak Juan?" tanya Herman sembari bangun dan menarikkan kursi untuk Daisy. Daisy duduk tersenyum dan berterima kasih pada Herman.


"Juan sepertinya sedang tidur," Daisy menyantap makan siangnya dengan malas. Siang ini Daisy makan semeja bersama Koko dan Herman. Makanan dihadapannya ini tak membuat Daisy selera untuk makan. Entah karena makanannya yang tak sesuai selera, atau karena tidak ditemani Juan. Koko dan Herman memperhatikan Daisy yang hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Apa Dokter ingin memakan sesuatu yang lain. Saya bisa membelikannya untuk Dokter," Herman menawarkan dengan penuh perhatian. Ia khawatir jika Daisy tidak mau makan.


"Tidak perlu, pak Herman!"


"Sepertinya Dokter sedang tidak selera makan,"


"Iya. Pak Herman, Ko, saya kembali ke klinik lebih dulu." Daisy berdiri dan melangkah dengan lesu. Ia sama sekali tidak selera untuk makan.


Herman bangun dan melangkah menuju ruangan Juan.


"Pak Herman, mau kemana?" Koko juga bangun dan mengikuti Herman dari belakang.


"Aku ingin mengecek, Juan sudah bangun atau belum. Dia juga sudah tidur dari pagi," Herman melangkah cepat ke ruangan Juan. Sampai di depan ruangan Juan, ia melihat Juan sedang duduk di kursinya. Juan sedang serius memeriksa berkas yang ditinggalkan Koko di mejanya tadi pagi.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Selamat siang, pak Juan!" Herman dan Koko menyapa bersamaan. Juan selesai menanda tangani berkas terakhir dan merapikannya. Juan menatap dua orang yang sedari masuk, tidak mengatakan apa pun.


"Aku sudah selesai, katakan ada apa?"


"Pak Juan, Dokter Daisy tidak makan siang!" Koko lalu menceritakan semuanya pada Juan.


"Kau juga harus makan siang, jadi pergilah ajak Daisy makan."


Juan hanya mengangguk menjawab ucapan Herman. Ia segera pergi ke klinik untuk menjemput Daisy dan membawanya makan siang.


"Sayang, makan yuk!" Juan masuk ke klinik dan tidak melihat Daisy dimejanya. Saat Juan mencari ke toilet pun tidak ada. Juan melihat gorden bilik periksa itu tertutup. Ia mendekat dan mengintip ke dalam bilik. Benar saja, Daisy sedang tiduran tengkurap di ranjang periksa. Daisy menoleh saat gorden itu bergerak.


"Kak Juan."


"Sayang, sudah makan belum?" tanya Juan berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


" Sudah ke kantin, tapi aku tidak nafsu makan."


"Mungkin karena Akami sudah terbiasa makan bersamaku. Ayo kita makan!"


Juan mengulurkan tangan membantu Daisy bangun. Juan menggandeng pinggang Daisy menuju kantin dan makan siang bersama. Daisy makan dengan lahap seperti biasanya, ternyata karena tidak ditemani oleh Juan makanya tidak nafsu makan.


"Jangan lupa nanti sore kita ke rumah Mama!" Daisy mengingatkan Juan, karena takit Juan lupa.


"Ok. Aku ingat, sayang. Apa Akami suka makanannya?"


Daisy mengangguk dan makan dengan lahap. Sejak kehamilannya, porsi makan Daisy naik jadi 3× lipat. Juan tersenyum menatap puncak kepala Daisy. Ingin sekali rasanya Juan membelai rambut Daisy, tetapi ia tak bisa melakukannya. Jika ia memaksa menyentuh rambut Daisy, maka sudah pasti semua makanan yang kini sedang disantapnya itu akan keluar kembali. Selesai makan siang, mereka kembali bekerja.


Sore hari


Juan mencari Herman di ruangannya. Ia ingin menanyakan soal tugas yang ia berikan pada Herman kemarin. Juan masuk tanpa mengetuk pintu.


"Bagaimana pak Herman? Apa sudah tahu, siapa orang yang membuat berita palsu tentangku?"


"Belum, pak Juan. Akun yang menyebarkan foto dan berita itu adalah akun palsu. Apa tidak sebaiknya, bapak lupakan saja soal foto itu, lagipula Dokter Daisy juga baik-baik saja dan tak mempermasalahkan berita itu. Saya juga sudah menyuruh anak buah kita untuk menghapus semua berita itu."


"Aku hanya penasaran dengan motif orang itu. Apakah karena uang atau sesuatu yang lain. Ya sudah, lupakan saja. Sudah sore juga, sudah waktunya pak Herman pulang. Saya juga akan pulang!" Juan melangkah keluar dari ruangan Herman. Ia pergi ke klinik dan mengajak Daisy pulang.


"Aku harus menyingkirkan orang yang ingin berbuat jahat pada Juan. Kali ini dia lolos tapi aku yakin suatu saat ... aku pasti akan menangkapnya. Siapa pun kau, walaupun belum kuketahui identitasnya. Aku tidak akan menyerah!" gumam Herman dengan geram.


flashback


Sebelum Juan masuk ke ruangannya, Herman menerima telpon dari anak buah yang ia suruh mencari penyebar berita palsu tentang Juan.


"Halo, pak Herman. Orang yang memotret pak Juan, ditemukan tewas di lorong jembatan layang kota Yogyakarta. Wanita yang menjadi pembawa nampan, dia ada di rumah sakit jiwa. Dia terus berteriak-teriak histeris."


"Terus selidiki, jangan sekali- sekali melaporkan hal ini pada Juan. Saya tidak mau dia terus menerus terkena masalah. Sebisa mungkin kalian dan saya saja yang menangani ini, kalian mengerti!" ucap Herman.


"Baik, pak Herman. Kami mengerti."


****Flashback off****


Juan sampai di pintu klinik dan sedang memeriksa sekertarisnya Herman, Elis. Juan masuk dan bertanya.


"Lis, sakit?" tanya Juan.


"Tidak, pak. Hanya nyeri bulanan," jawab Elis. Dia permisi setelah Daisy memberikan obatnya.

__ADS_1


"Sudah selesai, sayang?"


"Sudah, Kak. Aku tadi tinggal pulang, tapi Elis datang, jadi kuperiksa sebentar. Ayo pulang!" Daisy menenteng tasnya. Setelah tahu bahwa rambutnya tak bisa tersentuh Juan, Daisy jarang menggerai rambutnya, ia selalu menyanggulnya dengan rapi.


Mereka berjalan ke parkiran dan melihat Elis yang sedang menunggu taksi. Daisy menyapa Elis terlebih dulu.


"Elis, nunggu jemputan atau nunggu taksi?" tanya Daisy.


"Nunggu jemputan, Dokter!" jawab Elis.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Kami pergi lebih dulu."


Elis mengangguk. Sebenarnya Elis memang sedang menunggu taksi, tapi ia tahu bahwa Daisy mungkin akan menyuruhnya pulang bersama Bosnya. Elis lebih baik berbohong daripada menjadi bahan gosip esok hari.


Koko dan Herman baru keluar dari gedung kantor. Mereka juga menyapa Elis.


"Elis, mau pulang ya?" tanya Herman.


"Iya, pak Herman."


"Diantar saja sama Koko, arahnya sama kok sama arah rumah Elis!" ucap Herman.


"Pak, tapi rumah saya ...," Koko ingin mengatakan bahwa arah rumahnya berbeda dengan Elis, tetapi lirikan tajam Herman membuat Koko tak melanjutkan ucapannya.


"Tidak usah, nanti merepotkan pak Koko."


"Tidak repot sama sekali," Herman terus menyudutkan Koko. Koko akhirnya mengalah.


"Masuklah, biar kuantar," ucap Koko. Ia membukakan pintu untuk Elis. Elis masih berdiri ragu-ragu, apakah harus masuk atau tidak. Herman mendorong Elis agar masuk, karena dorongannya terlalu kencang, Elis jadi hilang keseimbangan dan menabrak Koko yang berdiri di depan pintu mobil. Hean tersenyum dan meninggalkan mereka.


"Maaf, pak Koko. Saya sungguh tidak sengaja!" Elis menegakkan badannya kembali.


"Saya tahu. Naiklah!" Koko menutup pintu mobil setelah Elis masuk dan duduk di dalam mobil. Koko pun melaju membawa mobilnya meninggalkan parkiran kantor.


********************


readers...


menurut kalian, panggilan yg cocok buat Juan dan Daisy itu apa.


vote di episode ini panggilan yg paling banyak...

__ADS_1


__ADS_2