Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Aneh!


__ADS_3

Hari ini Juan tak bersemangat untuk pergi ke kantor. Ia hanya duduk merenung, menunggu kabar dari anak buahnya yang ia suruh mencari Daisy. Juan sampai lupa makan, dari semalam hingga pagi ini ia tidak ingin makan apapun. Herman di kantor tidak tenang, ia mengkhawatirkan Juan. Herman pun akhirnya memutuskan pergi ke apartement Juan.


"Elis," Herman memanggil sekertarisnya.


"Ya, Pak!"


"Kalau ada yang mencari saya, katakan saja saya sedang keluar!" ucap Herman.


"Baik, Pak!" jawab Elis.


Di apartement Aurora


Daisy sudah mandi dan memakai kembali bajunya. Ia keluar mencari Aurora, yang ternyata sedang menyiapkan sarapan.


"Kenapa pakai baju yang sama, bajuku juga pas ditubuhmu, ganti sana!" omel Aurora.


"Tak apa, yang ini saja. Aku mau pulang, bisakah kau mengantarku pulang?" tanya Daisy.


"Baiklah, aku akan mengantarkan nanti. Kebetulan aku jaga siang."


"Terima kasih, dan maaf merepotkanmu. Sejak Zahrana dan Roni pindah ke Singapura, aku hanya bisa mencarimu," ucap Daisy, ia merasa tak enak hati.


"Aku senang kau mau berbagi cerita denganku, aku sama sekali tidak merasa direpotkan sama sekali. Sebelum pulang, bagaimana kalau kita shopping dulu ke Mall. Kita sudah lama tidak shopping bareng."


"Ok," jawab Daisy singkat.


Daisy mengiyakan ajakan Aurora. Ia memang merasa perlu sedikit hiburan. Setelah sarapan, mereka pun pergi ke Mall. Mereka berkeliling sampai lupa waktu. Daisy dan Aurora menenteng banyak kantong belanjaan. Jika saja senior Aurora tidak menelponnya, maka Aurora pasti lupa kalau ia harus bekerja.


"Kita pulang sekarang, kau juga harus bekerja!" ucap Daisy. Aurora pun mengantar Daisy pulang.


Di apartement Juan


"Pak Juan, anak buah kita sudah mendapatkan kabar."


"Benarkah, dimana Daisy sekarang?" tanya Juan.


"Mereka melihat Dokter Daisy keluar dari pusat perbelanjaan, bersama temannya!" jawab Herman.


"Teman? Pria atau wanita?" tanya Juan cemburu.


"Wanita," jawab Herman singkat. Juan menarik nafas lega.

__ADS_1


Ting tong ting tong


Suara bel membuyarkan lamunan Juan. Ia menatap pintu apartement. Herman pergi untuk membukakan pintu.


"Siapa, Pak Herman?" tanya Juan.


"Aku pulang, Kak!" jawab Daisy.


Juan menoleh ke pintu dan segera bangun menghampiri Daisy. Juan bernafas lega, melihat orang yang sudah ia cari semalam, kini berdiri di depan pintu bersama temannya.


"Saya Aurora, teman Daisy. Semalam Daisy menginap di tempat saya!" Aurora menjelaskan pada Juan, agar ia tidak salah faham pada Daisy.


"Begitu rupanya, terima kasih karena sudah menjaga Daisy. Maaf merepotkan!" ucap Juan.


"Tidak sama sekali. Daisy ini sahabat saya, mana mungkin saya merasa repot. Kalau begitu, saya pamit. Dais, aku pulang ya!" pamit Aurora pada Juan dan Daisy.


"Ya, terima kasih ya, Ra."


Aurora pergi setelah berpamitan. Herman juga pamit, karena harus pergi ke kantor. Setelah mereka pergi. Juan langsung menarik Daisy ke dalam pelukannya.


"Kenapa pergi tanpa memberi kabar padaku?" tanya Juan.


"Maaf, Kak. Daisy lupa bawa ponsel!" jawab Daisy.


"Apa berita itu benar?" tanya Daisy.


"Tentu saja tidak, tidak ada yang bisa membuatku berpaling darimu, apa kau masih meragukan cintaku, aku sanggup menunggumu tiga tahun saat kamu kuliah, tapi aku tidak sanggup kalau kehilangan kamu."


"Aku terlalu takut kehilangan Kak Juan," ucap Daisy. Ia terisak dalam pelukan Juan.


"Kamu bicara apa sih, sayang. Kamu tidak akan pernah kehilangan diriku. Karena aku, cinta mati sama kamu, istriku sayang!" ucap Juan. Ia mengelus rambut Daisy dengan lembut.


Tiba-tiba Daisy merasa mual, saat Juan mengusap rambutnya.


"Huweekk ... huweekk," Daisy berlari ke kamar mandi di samping dapur.


Juan merasa khawatir pada Daisy dan menyusul Daisy ke kamar mandi. Dia membantu memijat tengkuk Daisy, tetapi itu justru membuat Daisy semakin mual.


"Kak Juan pergi sana, jangan dekat-dekat!" ucap Daisy.


"Aku khawatir sama kamu, sayang," ucap Juan.

__ADS_1


"Pokoknya pergi, huweekk ...."


Juan pun pergi meninggalkan Daisy di kamar mandi. Dia merasa aneh, kenapa Daisy tidak mau di dekati oleh Juan.


Setelah mualnya sedikit berkurang, ia keluar dari kamar mandi. Juan menghampiri dan menggenggam tangan Daisy. Daisy merasa aneh, tidak ada rasa mual saat Juan menyentuh tangannya. Juan menuntun Daisy ke kamar dan memeluk pundak Daisy. Dan seketika itu pula, Daisy kembali mual-mual. Ia berlari ke kamar mandi di dalam kamar tidurnya.


"Sayang, kalau sakit kita berobat ke dokter yuk!" ajak Juan.


"Aku juga Dokter, buat apa harus ke Dokter?" bentak Daisy. Dia masih terus muntah, meskipun tak ada yang keluar dari mulutnya.


"Aneh, kenapa aku mual-mual begini?" Daisy bertanya-tanya dalam hati.


"Sayang, sudah baikkan?" tanya Juan khawatir.


"Untuk berjaga-jaga, Kak Juan jangan dekatin aku," ucap Daisy.


"Kamu aneh sayang, seperti orang ngidam saja. Padahal tidak hamil!" ledek Juan.


"Aku memang sedang hamil, dasar Kak Juan jelek!" Daisy cemberut.


"Benarkah sayang?" tanya Juan. Dan dijawab oleh tatapan tajam Daisy. Juan melangkah mendekat, ingin memeluk sang istri.


"Jangan mendekat atau aku akan muntah lagi!" hadang Daisy.


Juan cemberut, padahal ia sangat ingin memeluk istrinya karena bahagia. Juan hanya menghela nafas berat. Keinginannya untuk memeluk Daisy tak tercapai.


"Tadi pas Kak Juan pegang tangan, aku tidak merasa mual. Saat Kak Juan mengelus rambut dan memegang pundak, baru aku merasakan mual. Apa mungkin karena ia menyentuh rambutku?" Daisy berpikir dalam hati, dia jadi ingin membuktikan dugaannya.


"Kak Juan, sini!" panggil Daisy. Daisy mengulurkan tangan, saat Juan memegang tangannya, Daisy sama sekali tidak merasa mual.


"Coba elus rambutku!" suruh Daisy.


Juan menuruti semua ucapan Daisy, dan ia mengelus rambut Daisy. Seketika itu juga Daisy kembali mual-mual. Daisy berlari kembali ke kamar mandi. Setelah rasa mualnya berkurang, Daisy keluar dari kamar mandi.


"Jangan sentuh rambutku, mulai saat dan seterusnya. Atau aku akan terus mual dan muntah-muntah!" ucap Daisy memperingatkan Juan.


"Ok. Ngidamnya lucu dan aneh, haha," Juan meledek Daisy.


Daisy mencari jepit rambut, lalu menjepit rambutnya dengan rapi agar tak tersentuh tangan Juan. Setelah menjepit rambutnya, Daisy merentangkan kedua tangannya.


"Peluk, tapi jangan pegang rambutku!" ucap Daisy.

__ADS_1


Juan tersenyum dan memeluk Daisy dengan erat. Kebahagiaan yang Juan rasakan saat ini, rasanya sungguh tak dapat dilukiskan. Juan merasa sangat senang, karena ia akan memiliki anggota keluarga yang baru. Mereka berdua akan menjadi orang tua. Juan mengecup kening Daisy dengan sangat lembut, seolah takut jika Daisy terluka karena kecupannya. Lebih tepatnya sih, ia takut Daisy mual-mual jika ia mencium kening Daisy.


__ADS_2