Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Honeymoon


__ADS_3

Pagi hari menyapa tubuh sepasang pengantin yang masih terlelap. Juan memang tak pernah menutup gorden saat tidur, alasannya sederhana, karena ia sangat suka saat mentari pagi menyinari tubuh atletisnya. Ia juga sengaja menempatkan tempat tidurnya lebih dekat dengan jendela.


Sudah tiga hari Juan dan Daisy tinggal di apartement. Sesuai yang telah mereka sepakati, seminggu tinggal di rumah orang tua Daisy dan seminggu tinggal di apartement mereka.


Daisy menggeliat saat mentari menyinari tubuh polos yang tertutup selimut sampai ke dada itu. Rasa hangat dari sinar sang surya terasa mengusik, membuat Daisy ingin berjemur dan menikmati sinar mentari pagi ini.


Daisy turun dari ranjang dan mengambil gaun tidur yang tergeletak di lantai. Sejak menikah, mereka hampir tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk memadu cinta. Bisa dimaklumi, karena mereka masih pengantin baru. Mereka juga masih belum beraktifitas, dan berencana mulai bekerja kembali setelah berbulan madu.


Daisy memakai gaun tidurnya dan berdiri di balkon kamar. Ia memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya, kemudian menghirup nafas dalam-dalam. Juan ternyata sudah terbangun dan menghampiri Daisy dengan perlahan. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Daisy dari arah belakang.


Daisy berjingkat terkejut dan membuka matanya, lalu senyum tipis tercipta dari bibir tipisnya. Daisy memeluk tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Sudah bangun?" tanya Daisy tersenyum.


"Sudah," jawab Juan, sambil menggelayut manja di punggung Daisy. Ia meletakkan dagunya di pundak Daisy.


"Aku akan pergi ke dapur dan menyiapkan sarapan, Kak Juan pergilah mandi!" ucap Daisy.


"Baiklah. Oh, ya hampir saja aku lupa. Kita akan berangkat ke Paris lusa nanti. Kamu tolong siapkan baju-baju kita!" ucap Juan.


"Baiklah setelah sarapan, aku akan membereskan pakaian yang akan kita bawa!" jawab Daisy.


Setelah sama-sama membersihkan diri, mereka sarapan. Menu sarapan mereka adalah roti gandum dan selai wallnut serta telur mata sapi setengah matang. Setelah sarapan mereka akan menonton TV, Juan duduk di sofa dan Daisy lebih suka berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuan Juan. Seperti itulah kegiatan mereka sehari-hari selama di apartement.


Dua hari kemudian


Juan dan Daisy akan berangkat honeymoon ke Paris. Mereka menyempatkan diri singgah ke rumah orang tua Daisy, untuk meminta doa dan restu dari mereka, agar perjalanan mereka lancar dan kembali dengan baik-baik saja.

__ADS_1


"Ma, Daisy dan Kak Juan akan berangkat sekarang!" pamit Daisy di depan gerbang rumah. Shilla dan Denis mengantar Daisy hingga ke depan gerbang.


"Hati-hati kalian berdua!" ucap Shilla.


"Ya, Tante!" jawab Juan.


"Loh, kok masih panggil Tante?" tanya Shilla.


"Maaf, Ma, Pa, Juan masih belum terbiasa dan selalu lupa," jawab Juan tersenyum.


"Harus terbiasa," ucap Denis.


Mereka masuk ke dalam mobil dan melambai pada Shilla dan Denis sebelum akhirnya Taksi itu melaju meninggalkan halaman rumah Denis.


Setengah jam kemudian mereka tiba di Bandara, hampir saja mereka terlambat karena terjebak macet. Tiba di Bandara mereka langsung menuju loket dan masuk ke pintu keberangkatan, mereka tiba tepat waktu dan duduk di pesawat dengan nafas tersengal setelah berlari.


16 jam kemudian


Juan dan Daisy sampai di Bandar Udara Paris Charles de Gaulle. Bandara CDG menjadi salah satu pintu masuk ke Perancis. Turun dari pesawat mereka akan berjalan melewati lorong-lorong panjang, di dinding sepanjang lorong terdapat tulisan 'Bienvenue en France' yang artinya 'Selamat datang di Perancis'.


Lorong itu dilengkapi travelator untuk membantu mereka berjalan lebih cepat. Keluar dari lorong itu mereka masuk ke sebuah ruang pemeriksaan imigrasi Foreigner. Loket disana terbagi menjadi dua, loket pemegang paspor Schengen/ Uni Eropa dan semua paspor. Karena Juan dan Daisy bukan dari negara Uni Eropa jadi mereka mengantri di loket semua paspor.


Pemeriksaan di Paris relatif cepat, hanya dilihat visa dan masa berlakunya. Keluar dari pintu scanner setelah mengambil koper, mereka mengikuti petunjuk RER untuk naik kereta ke pusat kota Paris.


Kereta itu berhenti di Saint Germain. Stasiun itu tidak memiliki eskalator, akhirnya Juan dan Daisy menapaki anak tangga menuju keluar stasiun. Perjalanan mereka lanjutkan dengan menaiki taksi menuju hotel tempat mereka menginap.


Juan sudah reservasi hotel yang dekat dengan Menara Eiffel. Kamar hotel yang Juan pesan sengaja yang menghadap langsung ke Menara Eiffel. Jarak hotel itu sepuluh menit ke Menara Eiffel. Menara Eiffel atau Tour Eiffel merupakan ikon global Prancis. Menara yang dibangun di Champ de Mars di tepi sungai Seine, Paris terlihat indah saat malam hari.

__ADS_1


Perbedaan waktu antara Jakarta-Paris membuat Juan dan Daisy belum terbiasa. Juan dan Daisy pun akhirnya memilih tidur dan beristirahat saat tiba di kamar hotel.


Perjalanan Jakarta-Paris sungguh membuat Daisy merasa pegal. Seluruh tubuhnya serasa lemas tak bertulang. Padahal mereka sangat ingin untuk langsung pergi berjalan-jalan, tetapi karena lelah akhirnya mereka mengurungkan niat mereka dan memilih tidur.


Saat ini di Jakarta mungkin sudah tengah malam, tetapi di Paris baru pukul 18:00 dan masih terang. Perbedaan waktu 6 jam antara Indo-Prancis masih membuat Daisy pusing. Seharusnya mereka memang sudah tidur tengah malam. Mereka tidur dua jam lalu ke resto di lantai dasar hotel itu.


Setelah makan malam mereka kembali ke kamar. Langit sudah gelap dan lampu Menara Eiffel mulai terlihat dari jendela kamar hotel. Daisy berdiri di balkon kamar hotel, dengan takjub menatap ke arah Menara Eiffel.


"Kak Juan, sini!" panggil Daisy.


Juan menghampiri dan berdiri disamping Daisy, Juan melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping Daisy.


"Indah sekali, ya?" tanya Juan.


"Ya, benar. Kak Juan memang pintar memilih tempat," ucap Daisy.


"Sayannya, hari ini kita harus beristirahat dulu. Pekerjaan malamku juga sepertinya libur hari ini, haha," Juan tertawa menggoda Daisy.


Daisy hanya bisa merengut mendengar godaan dari mulut Juan. Juan menarik Daisy ke dalam pelukannya. Langit kota Paris benar-benar berbeda dengan langit di tanah air. Malam ini, bintang-bintang bersinar terang. Dan dua sejoli yang sedang berbulan madu itu, berciuman mesra di bawah cahaya bintang di kota Paris.


************************


hy readers


jangan lupa tinggalkan jejak kalian readers.


See u next chapter

__ADS_1


__ADS_2