
Daisy mandi dan berganti pakaian. Hari ini libur, Daisy hanya ingin bersama orang tuanya. Juan sudah mandi terlebih dulu dan sedang duduk di beranda rumah bersama Denis, ditemani secangkir kopi dan koran pagi.
"Pa, Daisy hamil lagi dan Juan takut jika kejadian dulu terulang kembali. Juan ingin agar Daisy tinggal disini selama kehamilannya sampai waktunya melahirkan, bolehkah, Pa?" tanya Juan.
"Boleh, tentu saja boleh!" jawab Denis sumringah.
Karena sebenarnya memang itulah yang Denis harapkan. Jika saja Daisy dan Juan bisa selamanya tinggal bersama Denis itu lebih baik lagi. Shilla memanggil Juan dan Denis untuk sarapan, dan mereka pun sarapan bersama. Di meja makan, Daisy memberitahukan kabar kehamilannya pada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa. Mama dan Papa akan segera mempunyai cucu!" ucap Daisy.
"Wah senangnya, selamat atas kehamilanmu, sayang. Mama doakan tidak ada lagi yang mencelakai kalian dan cucu Mama bisa lahir kedunia dan sehat." Shilla mengucapkan doa untuk Daisy. Ia berharap jika kali ini cucunya bisa lahir kedunia.
"Oh, ya. Ma, Pa, Koko mengundang kita sekeluarga untuk hadir di pernikahannya!" ucap Juan.
"Kapan itu?" tanya Shilla.
"Minggu depan, Ma."
Shilla dan Denis hanya mengangguk tanda mengerti. Selesai sarapan Daisy membantu Shilla mencuci piring, setelah mencuci piring, Shilla pergi ke kamar dan naik ke taman atap untuk menyiram bunga di taman atap. Daisy juga sangat menyukai taman atap itu ketika ia masih kecil. Daisy terus mengikuti Shilla.
"Ada apa dengan anak Mama ini? Mau mengikuti Mama seharian ya?" tanya Shilla tersenyum.
"Ya, boleh kan?"
"Boleh, Mama jadi merasa seperti punya anak kecil lagi, haha."
Daisy cemberut ditertawakan oleh ibunya. Ia dan Shilla sampai di taman atap.
"Sudah lama ya, Ma?"
"Apa?" tanya Shilla sambil menyiram pot-pot bunga yang kini sudah tinggi dan membuat taman atap itu terlihat teduh.
"Daisy baru ke sini lagi. Dulu saat Daisy masih SD, Daisy masih sering masuk kesini. Setelah SMP sampai sekarang, baru hari inilah Daisy kesini lagi!" jawab Daisy. Ia berjalan dan duduk di gazebo yang sudah dua kali Shilla ganti, karena bambunya sudah lapuk.
"Benar. Sudah sangat lama," ucap Shilla.
Shilla duduk di samping Daisy. Dan mereka berdiam cukup lama. Mereka hanya menatap pohon-pohon dalam pot, yang sudah tinggi. Shilla memindahkan pot yang sudah tidak bisa disimpan di taman atap ke taman di depan rumah.
***
"Pak, kenapa bapak terus bersikap seperti itu pada Elis? Dia tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan, Pak. Tidakkah kamu kasihan pada putrimu?" tanya Ningrum.
"Aku tahu, aku tahu dia tidak salah, akulah yang salah karena tidak menjaganya dengan baik. Aku tidak ingin dia mempunyai bapak yang tidak berguna sepertiku!" ucap Hendra. Dua bulir bening menetes di kedua sudut mata Hendra.
"Dia sudah memiliki kemalangan, dan bapak malah menyakitinya dengan kata-kata yang kasar. Ibu tahu, bapak pasti tidak ingin jika Elis membenci bapak. Jadi berhentilah menyakiti Elis, restui dia dan biarkan putri kita bahagia." Ningrum pun meninggalkan Hendra yang terisak.
Hendra menyesali perbuatannya. Karena merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga putri satu-satunya. Ia malah melimpahkan kesalahan pada Elis. Hendra sebenarnya tidak membenci Elis tetapi membenci dirinya sendiri.
***
Elis sampai di depan pintu rumahnya. Ia sedang tidak ingin membicarakan apa pun dengan Koko, jadi ia menyuruh Koko untuk pulang.
"Maaf, Mas. Hari ini aku ingin sendiri, Mas pulang saja!" ucapnya.
"Baiklah, beristirahatlah. Jika membutuhkanku, telpon saja," ucap Koko. Ia mengecup kening Elis lalu ia pun pulang.
__ADS_1
"Mama," panggil Via.
"Via sayang, belum tidur. Mana bibi In?"
"Bikin susu buat Via. Om Koko mana, Ma?"
"Om Koko langsung pulang, karena masih ada keperluan. Ini sudah malam, jadi ayo minum susu terus bobo!" ucap Elis sambil menggendong Via ke kamar.
"Neng, ini susu neng Via," ucap bibi In sambil menyodorkan segelas susu.
"Maaf, ya bi! hari ini saya terlambat pulang dan membuat bibi lembur menjaga Via!" ucap Elis tak enak hati.
"Tidak apa-apa Neng, neng Via juga sudah bibi anggap keponakan bibi. Ya sudah, bibi pamit pulang," ucap bibi In.
Elis mengangguk dan memberikan susu itu pada Via. Via sangat menyukai susu coklat hangat. Setelah menghabiskan susunya, Via berbaring di ranjang dan Elis menyelimutinya. Karena Elis akan segera menikah, jadi Elis sudah memberi pengertian pada Via untuk berani tidur sendiri. Untungnya Via anak yang tidak manja, dengan patuh ia mendengarkan ucapan ibunya.
Setelah Via tertidur, Elis pergi ke kamarnya. Kamar itu belum pernah ia tempati sejak ia tinggal disana. Besok ia mulai berhenti pergi bekerja. Ia berniat membersihkan kamar itu dan sedikit merapikannya, meskipun sebenarnya memang sudah rapi.
***
Seminggu kemudian
Hari pernikahan Koko dan Elis diadakan secara sederhana. Mereka mengadakan pesta sederhana di halaman rumah kontrakan Elis. Rumah itu sudah Koko beli dari sang pemilik rumah. Koko ingin mengajaknya tinggal di apartement miliknya, tetapi Elis sudah kerasan tinggal di rumah yang ia tempati bersama Via.
Koko menuruti keinginan Elis dan menjual apartementnya lalu uang hasil penjualan itu ia belikan rumah yang Elis tempati. Sisa uang penjualan apartement, Elis jadikan modal membuka warung sembako di depan rumah.
Upacara ikrar pengucapan sumpah sudah berakhir setengah jam yang lalu, tetapi Daisy dan Juan baru sampai di sana. Mobil Juan diparkir di lapangan yang disediakan untuk memarkir kendaraan para tamu undangan.
"Ayo turun, sayang!" ucap Juan sambil mengulurkan tangan.
"Yah, kita terlambat sepertinya. Ini gara-gara Kak Juan nih, ngapain coba sudah pagi, aku sudah mau mandi malah diajak perang lagi di ranjang!" gerutu Daisy. Juan hanya terkekeh geli dengan bahasa yang dipakai Daisy.
"Kak Juan ...."
Mereka melangkah masuk ke tempat acara dan langsung menghampiri Koko dan Elis.
"Lis, selamat ya. Selamat ya, Ko!" Daisy menyalami kedua pengantin.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Pak Juan, kalian sudah menyempatkan hadir," ucap Elis.
"Sama-sama, semoga kalian bahagia dan semoga langgeng," ucap Juan.
"Terima kasih, bro."
Juan tersenyum mendengar kata sapaan akrab Koko padanya. Dulu saat Juan menyamar menjadi OB, Koko selalu memanggil dengan kata itu. Setelah menjadi asisten Juan, Koko tak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan itu.
"Haha, sudah lama sekali aku tidak mendengarmu memanggilku 'Bro', selamat bro, semoga cepat dapat Eko junior!" ucap Juan.
"Eko?" tanya Koko bingung.
"Elis Koko junior!" jawab Juan.
Tawa renyah pun terdengar dari keempat orang yang sudah layaknya keluarga itu. Daisy mengambil makanan tapi semua makanan itu membuatnya merasa mual.
"Kak, aku ingin makan macaron," ucap Daisy.
__ADS_1
"Sekarang?"
"Ya."
"Ya sudah, kita pamitan pada mereka. Mama sama Papa juga sepertinya sudah pulang lebih dulu!" ucap Juan.
"Kakak saja yang pamitan. Aku tunggu di mobil, ok!" ucap Daisy.
"Ok."
Daisy pergi ke parkiran dan tertegun melihat seorang pria memakai batik lengan pendek dipadu dengan celana hitam, sedang berdiri di parkiran. Pria itu menoleh dan pandangannya beradu dengan Daisy.
"Satya," gumam Daisy pelan. Ia menutup mulutnya tak percaya, pria yang berdiri di depannya adalah Satya. Jarak antara dirinya dan Satya hanya sekitar sepuluh langkah. Tubuh Daisy bergetar ketakutan. Satya berjalan menghampirinya.
Daisy semakin ketakutan, kakinya terasa terpatri ke tanah lapangan itu. Daisy tersenyum manis seperti biasanya. Melihat Daisy yang ketakutan, Satya berhenti lima langkah dari Daisy dan bicara dari jarak lima langkah di depan Daisy.
"Apa kabar, Dokter Daisy. Tidak perlu takut padaku," ucap Satya.
Juan sampai di parkiran dan melihat Daisy berdiri terpaku. Tubuh Satya terhalang tubuh Daisy, hingga Juan tidak tahu kenapa Daisy mematung disana. Saat Juan berada di samping Daisy, barulah Juan tahu alasan Daisy berdiri mematung tak bergerak.
"Satya, mau apa lagi kamu?" bentak Juan. Satya hanya tersenyum.
"Kak Satya, ada apa? siapa mereka?" tanya Novi.
"Kenalkan, dia Dokter Daisy dan suaminya Juan. Ini Novi, calon istriku!" ucap Satya, memperkenalkan Novi pada Juan dan Daisy.
"Halo Kak Daisy, Kak Juan. Kakak berdua temannya Kak Satya ya?" tanya Novi.
"Ehm, ya, kami temannya!" jawab Juan gugup.
"Elis adalah adik kelasku saat SMA, kami sering bertukar kabar dan dia bilang hari ini dia menikah, jadi aku datang!" ucap Satya.
"Oh, maaf kalau aku sudah salah sangka," ucap Juan.
"Tidak apa-apa, kami permisi!" Satya berpamitan dan segera pergi merangkul pinggang Novi. Satya tidak ingin berlama-lama berbicara dengan mereka. Melihat Juan mengingatkannya pada rumah sakit jiwa.
Setelah Satya pergi, Daisy baru bisa bernafas lega. Juan menggandengnya masuk ke mobil.
"Dia tidak akan mengganggu kita lagi. Semoga dia juga bisa bahagia bersama calon istrinya," ucap Juan.
"Semoga saja, Kak."
Juan menyalakan mesin mobil dan melaju pergi ke toko kue yang menjual macaron, saat Juan berhenti di depan toko kue itu Daisy malah menyuruhnya jalan terus.
"Kak, Daisy mau tempe mendoan. Biasanya di sekitar sini ada yang jual," ucap Daisy.
Juan melihat ada penjual tempe mendoan menggunakan gerobak.
"Itu ada. Mau dibungkus atau makan disini?" tanya Juan sambil memarkir mobilnya ke tepi.
"Disini saja, aku ingin makan pas masih hangat," jawab Daisy. Ia turun dari mobil dan langsung duduk di dalam tenda.
"Bang, 10 buah tempe mendoan buat dimakan di sini dan 10 yang dibungkus," Daisy langsung memesan. Juan menghampiri dan duduk di samping Daisy.
"Banyak sekali pesannya, sayang!" goda Juan.
__ADS_1
"Aku kan lapar!" jawab Daisy cemberut. Juana mengacak rambut Daisy, membuat Daisy tambah cemberut.
Kehamilan Daisy kali ini sebenarnya malah mengkhawatirkan bagi Juan. Daisy tidak mau makan nasi sama sekali. Ia makan camilan, dan lauk pauk, untungnya dibantu susu hamil jadi nutrisinya tetap terpenuhi. Meskipun menurut Aurora tidak ada masalah, tetapi Juan masih tetap khawatir. Khawatir jika Daisy kehilangan bayinya kembali, ia akan kembali terpuruk.