Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Rosdiana


__ADS_3

Juan dan Sultan sudah sampai di rumah sakit terbesar di KL. Saat Juan masuk ke ruang perawatan Rosdiana, Juan merasa miris melihat kondisi Rosdiana. Betapa dulu tubuh sintalnya di puja begitu banyak pria di kampus, kini tak ada lagi. Yang ada di hadapan Juan saat ini tak ubahnya hanya seonggok tulang berkulit.


Wajah cantik Rosdiana kini terlihat sangat tua, bola mata cekung ke dalam. Juan meneteskan air mata, melihat orang yang sudah dia anggap sebagai adik itu. Rosdiana adalah adik kelas di kampusnya. Saat Juan terkena kasus pelecehan karena di fitnah, Rosdiana meminta tolong pada Sultan, sang ayah. Saat itu Sultan masih menjabat sebagai Jendral militer, Rosdiana meminta ayahnya mengusut kasus Juan hingga akhirnya Juan di bebaskan dari tuduhan.


Saat itu Juan merasa sangat berterima kasih pada Sultan dan Rosdiana. Juan menawarkan membalas kebaikan Sultan, tapi Sultan berkata bahwa dia akan meminta bantuanku, tapi suatu hari nanti.


Juan perlahan menghampiri Rosdiana yang tergolek di ranjang rawat rumah sakit. Rosdiana menatap Juan dan air matanya mengalir disertai isak tangis.


"Akak Juan kah?" tanya Rosdiana lemah.


"Ya, ini akak! Kenapa adek rebah di sini? Tak keliling mall seperti biasanya,hah?" goda Juan dengan senyum pedih.


"Akak, Ros rindu akak!" ucap Rosdiana.


"Akak sudah sering bilang, jangan teru-terusan diet. Lihat sekarang, adek jadi begini!" omel Juan.


Roadiana tersenyum meski hanya senyuman kecil. Melihat senyuman Rosdiana, Sultan sang ayah tak kuasa menahan tangis. Sungguh rasanya sangat menyakitkan bagi Sultan, melihat putri satu-satunya tergolek tak berdaya. Jika saja hidup bisa ditukar, maka Sultan rela menggantikan putrinya.


Sultan keluar karena tak ingin putrinya bersedih, melihat Sultan menangis. Sultan menangis di dinding luar kamar rawat Rosdiana. Di usia senjanya Sultan sudah kehilangan istrinya dua tahun lalu, dan putrinya mungkin juga akan meninggalkannya. Melihat senyuman putrinya tadi, membuat Sultan merasa lebih sedih.


"Akak sudah menikahkah?" tanya Rosdiana.

__ADS_1


"Kalau belum, kenapa? Mau meledek akak tak laku kah?" jawab Juan tersenyum.


"Kalau belum menikah, bolehkah akak nikahi Ros?" tanya Rosdiana.


Pertanyaan dari Ros membuat Juan dilema. Bagaimana mungkin dia menikahi Rosdiana, dia tak mau mengkhianati Daisy. Tapi Juan tak bisa menolak, akan sangat terasa kejam untuk Rosdiana. Di saat sakitnya, jika Juan menolaknya pasti bisa membuat mental Rosdiana down.


"Akak tak mahu?" tanya Rosdiana dengan sedih.


"Bukan akak tak mau! Tapi akak sudah anggap Ros ini adek. Akak sayang Ros! tapi hanya sebagai adek!" jawab Juan.


"Ah. Lupakan permintaan Ros. Akak boleh pulang, Ros ingin beristirahat."


"Ros, dia selalu berkata setiap hari. Dia ingin mati sebagai istrimu!" ucap Sultan terisak.


Juan terdiam tak bersuara. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Bisakah kau tepati janjimu, aku memintamu untuk menikahi putriku Ros. Hanya bantuan itu yang kuminta darimu, Juan!" ucap Sultan.


Juan berjanji untuk melakukan apa pun demi membalas pertolongan Sultan. Tapi hatinya tidak bersedia menikahi Ros. Dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dan itu dengan gadis yang dicintainya. Daisy, hanya gadis itu lah yang ingin dinikahi Juan.


"Tapi, Encik Sultan! Saya akan menikah dengan tunangan saya di Indo bulan depan. Saya akan melakukan apa pun sebagai gantinya, tapi jika menikahi Ros maaf saya tak bisa!" ucap Juan.

__ADS_1


"Aakkhhh...," Rosdiana tiba-tiba berteriak kesakitan.


Juan dan Sultan segera berlari masuk dan melihat Rosdiana yang berguling ke kanan dan ke kiri sambil memegang perutnya. Sultan menekan tombol untuk memanggil Dokter dan suster yang merawat Rosdiana.


Juan melihat betapa menderitanya Rosdiana menahan sakit. Dia tak tega melihatnya, hatinya sakit melihat orang yang dulu selalu di sampingnya. Meski Juan selalu menganggapnya adik, tetapi Juan juga tahu sejak dulu jika Rosdiana mencintainya.


Dokter segera memberikan suntikan pada lengan Rosdiana. Perlahan-lahan Rosdiana mulai tenang dan tertidur. Dokter dan suster keluar setelah Rosdiana tenang.


"Saat pikirannya tertekan sedikit saja, Ros akan sangat kesakitan." Sultan berbicara pelan.


Juan jadi merasa bersalah. Sepertinya Rosdiana tertekan dengan penolakan Juan barusan. Juan mengajak Sultan bicara di luar.


"Encik Sultan, bagaimana jika saya tinggal disini sementara waktu untuk menemani Ros. Saya tak bisa menikahinya, tapi saya akan disisinya dalam hari-hari terakhirnya. Kita tak pernah tahu usia seseorang, semoga saja Ros bisa sembuh!" ucap Juan.


"Sungguh, kàmu bisa menemani Ros?"


"Ya, saya akan mengundur pernikahan saya." Ucap Juan.


"Terima kasih, setidaknya dia merasa bahagia di saat-saat terakhirnya nanti!" ucap Sultan.


Sebuah senyuman pahit tersirat di wajah yang sudah mulai keriput itu. Sultan tersenyum pahit, karena meskipun itu bisa membuat Ros bahagia, tapi ia tetap akan kehilangan Ros.

__ADS_1


__ADS_2