
Elis dan Koko hanya saling berdiam diri selama perjalanan. Keduanya tahu jika Herman mencoba mendekatkan mereka. Hingga rasanya menjadi canggung untuk mereka berdua.
"Terima kasih, pak Koko. Rumah saya di depan, maaf sudah merepotkan!" Elis memberanikan diri berbicara pada Koko. Dia tidak enak hati karena merasa jika Koko terpaksa mengantarkannya.
"Sama-sama, saya tidak repot!" Koko mencoba menenangkan Elis. Dia memang dipaksa oleh Herman, tapi dia ikhlas mengantar Elis. Koko tahu dari ekspresi Elis, jika gadis itu merasa tak enak hati padanya. Gadis, Koko bahkan belum tahu apakah Elis seorang gadis atau bukan. Mobil berhenti di depan gerbang rumah Elis.
"Lain kali bapak bisa menolak keinginan pak Herman. Saya tidak bisa merepotkan pak Koko seperti ini. Sekali lagi terima kasih. Elis turun dari mobil Koko, ia hendak masuk ke dalam gerbang, tetapi seorang anak kecil dan wanita paruh baya mendekat pada Elis.
"Mama, sudah pulang?" tanya seorang gadis kecil.
Koko memperhatikan wajah gadis kecil itu, dia mirip sekali dengan Elis. Koko menjalankan mesin mobil dan berlalu pergi.
"Pak Herman bilang jika Elis single, tapi gadis kecil itu memanggil Elis sebaagai mamanya. Untung saja aku tidak ketahuan suaminya," pikir Koko. Ia putar balik di bundaran karena rumah Koko memang beda arah dengan Elis. Saat melewati kembali rumah Elis, ia melihat Elis sedang dipukuli oleh pria paruh baya. Koko refleks menghentikan mobilnya di tepi jalan, kemudian ia menyebrang dan memeluk Elis. Ia melindungi Elis dengan tubuhnya.
Deg
Elis berdebar kencang dan rasanya jantungnya seperti akan copot. Dia mencoba mendorong orang yang tanpa ragu melindunginya. Tapi pria itu memeluknya dengan erat, Elis bahkan tak bisa melihat wajahnya.
"Stop, ayah. Tolong hentikan, dia putri kita," ucap wanita paruh baya yang sebelumnya Koko lihat. Anak gadis kecil berumur 5 tahun itu hanya menangis melihat keributan itu.
"Aku tidak merasa memiliki putri yang memalukan seperti itu, masuk!" pria itu menyeret wanita paruh baya itu ke dalam ruma.
"Nenek, hiks hiks. Mama, nenek dibawa kakek, ma!" rengek gadis kecil itu.
Setelah yakin bahwa yang memukuli Elis sudah pergi, Koko melepaskan pelukannya. Punggungnya terasa sakit karena pukulan lelaki paruh baya, yang ternyata ayah dari Elis.
"Via sayang, jangan nangis. Kita pulang ya, sayang!" ucap Elis memeluk putrinya lalu menggendongnya. Elis berbalik dan ingi mengucapkan terima kasih pada pria yang menolongnya.
"Terima kasih, karena sudah me ...," Elis tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat pria yang menolongnya adalah asisten Bosnya. Elis melihat Koko meringis kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Koko.
"Pak Koko, kenapa bapak ada disini? Bukannya tadi sudah pulang?" tanya Elis tak percaya.
"Itu tidak penting, yang penting apa kau baik-baik saja?" Koko masih meringis, karena ayah Elis memukulinya dengan tongkat.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih. Pak Koko biar saya obati bapak ke rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak perlu, kau akan pergi kemana?"
"Saya mau pulang ke rumah kontrakan saya. Ini adalah rumah orang tua saya," jawab Elis.
"Ya sudah, saya antar kamu pulang. Tidak usah ada penolakan karena saya kesakitan dan tidak mau berdebat."
Koko mengajak mereka menyebrang jalan dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil pun melaju membawa mereka pergi meninggalkan rumah orang tua Elis.
***
Di tempat lain, Juan dan Daisy sampai di rumah orang tuanya. Shilla mendengar deru mesin mobil yang masuk ke halaman rumahnya. Ia mengintip dari jendela kaca dan ternyata putrinya yang datang. Shilla segera membuka pintu.
"Mama, Daisy kangen!" Daisy memeluk Shilla dengan erat.
"Tumben, biasanya telpon dulu kalau mau ke sini?" tanya Shilla sambil masuk ke dalam rumah bergandengan dengan Daisy.
"Daisy punya kejutan buat Mama sama Papa."
"Oh, ya. Kejutan apa?"
Daisy dan Juan duduk di ruang tamu, sedang Shilla pergi memanggil Denis yang sedang menikmati matahari tenggelam di taman atap kamarnya.
"Mas, Daisy mau bicara!"
"Oh. Kapan mereka datang?"
"Baru saja!"
"Baiklah, ayo turun dan temui mereka," Denis memeluk pundak Shilla dan turun ke ruang tamu.
"Papa, Mama, Daisy mau memberitahu bahwa Daisy akan segera menjadi seorang ibu," ucap Daisy.
"Wah, selamat sayang. Berarti Mama dan Papa akan menjadi Nenek dan Kakek," tutur Shilla. Ia bangun dan memeluk putrinya.
"Selamat, anak gadis Papa sudah akan memiliki anak. Tidak terasa!" ucap Denis.
Shilla pergi ke dapur bersama Daisy dan memasak makanan untuk makan malam. Denis dan Juan bermain catur di ruang tamu, sambil menunggu para istri selesai memasak.
__ADS_1
"Papa akan jalan ke sini. Skak."
"Hmm ... ternyata Papa master catur juga. Kalau begitu Juan jalan ke sini!"
Shilla dan Daisy selesai memasak dan memanggil mereka.
"Pa, Kak Juan, ayo makan!" panggil Daisy.
"Nanti, sayang. Tanggung nih!" jawab Juan.
"Daisy, eh kenapa duduk di lantai?" Shilla kaget melihat putrinya duduk di lantai hendak menangis. Juan dan Denis mendengar Daisy duduk di lantai segera menghampiri Daisy.
"Ayo makan sayang!" Juan membantu Daisy bangun.
Denis dan Shilla hanya bisa saling melempar pandangan heran. Mereka duduk di meja makan. Melihat Shilla dan Denis yang menatapnya, Juan mengerti bahwa kedua orang tua Daisy sepertinya meminta penjelasan.
"Daisy, jika keinginannya tidak langsung dituruti, maka dia akan marah dan duduk di lantai sambil menangis, Pa, Ma," Juan menjelaskan kepada mertuanya. Seketika itu juga mereka tergelak tertawa terbahak-bahak.
"Papa baru tahu, ternyata ada ngidam yang aneh seperti itu."
"Benar, apalagi Mama tidak pernah merasakan ngidam, bahkan melahirkan kamu saja Mama tidak tahu!" ucap Shilla tertunduk sedih.
"Sudah, sudah. Jadi sedih begitu, ayo makan atau putrimu duduk di lantai lagi." Denis menghibur istrinya, dan Shilla kembali tertawa. Sedangkan Daisy hanya cemberut diledek oleh ayah dan ibunya.
Mereka makan malam dengan hati bahagia. Shilla dan Denis terus tersenyum melihat putrinya yang biasa makan sedikit, tetapi hari ini dia makan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya. Selesai makan malam, Daisy membantu ibunya mencuci piring lalu pamit pulang.
"Ma, Pa, Daisy dan Kak Juan pulang dulu!"
"Mama kira kalian akan menginap."
"Maaf, Ma. Daisy akan menginap lagi kapan-kapan. Untuk saat ini, sepertinya Akami lebih suka di apartement."
"Akami?" tanya Denis dan Shilla bersamaan.
"Anak Kami, Pa, Ma. Daisy singkat jadi Akami," jawab Daisy. Dan kedua orang tuanya hanya ber 'oh' ria saja.
Juan dan Daisy masuk ke dalam mobil lalu melambai kepada kedua orang tuanya yang mengantar mereka.
__ADS_1