Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Tour perpisahan


__ADS_3

Hari ini Zahra menjemput Daisy bersama Roni. Mereka masih masuk sekolah meskipun sudah tidak belajar dan hanya bermain di sekolah.


Ting tong ting ton


Bel rumah Daisy berbunyi, Shilla membuka pintu dan menyambut teman-teman Daisy.


"Selamat pagi, tante! Daisy sudah siap?" tanya Zahra.


"Daisy sedang sarapan, kalian sudah sarapan? Kalau belum kita sarapan bersama!" ucap Shilla.


"Terima kasih, tante! tapi kami sudah sarapan. Kami tunggu Daisy saja di sini!" jawab Zahra dan Shilla mempersilahkan mereka duduk di teras rumah. Zahra dan Roni duduk di bangku rotan yang ada di teras.


Selesai sarapan Daisy segera menghampiri mereka dan berangkat bersama mereka ke sekolah. Daisy sudah menelpon Juan untuk tidak menjemputnya berangkat sekolah, karena Daisy akan berangkat bersama Zahra dan Roni.


Sampai di sekolah, mereka melihat pengumuman di mading.


"Wah, tour perpisahan ke Cibubur! Kita berkemah nih maksudnya?" tanya Zahra.


"Iya, tuh di bawah kan sudah di jelaskan! Kamu ini cuma membaca separuhnya, kebiasaan!" ucap Roni. Zahra hanya tersenyum malu.


"Kita berkemah tiga hari dua malam! Terus malam minggu pesta perpisahan sambil pengambilan ijazah!" Daisy melanjutkan membaca.


"Eh, lihat Dais! diperbolehkan membawa orang luar atau pasangan! Wah, kamu bisa sekalian malam mingguan sama kak Juan dong!" ledek Zahra.


Setelah membaca pengumuman, mereka pergi ke kantin. Daisy dan Zahra makan dengan santai sambil bercerita tentang sekolah yang akan segera mereka tinggalkan. Setelah lelah bersenda gurau, mereka memutuskan pulang.


"Daisy, sudah pulang sayang, ya!" tanya Shilla.


"Iya mah! gak ada kegiatan juga di sekolah!" jawab Daisy kemudian pergi ke kamarnya dan berganti baju. Setelah ganti baju, Daisy menghampiri Shilla kembali untuk meminta ijin. Shilla sedang membaca majalah mode di ruang keluarga.


"Mah! Daisy boleh ikut camping tidak?" tanya Daisy.


"Tentu saja! dengan catatan kamu harus jaga diri baik-baik!" jawab Shilla. Daisy memeluk Shilla.


"Makasih mama!" ucap Daisy dengan gembira.

__ADS_1


Hari tour perpisahan


Juan menjemput Daisy untuk berangkat ke sekolah terlebih dulu, nantinya di sekolah baru naik bus rombongan menuju Bumi Perkemahan Cibubur.


"Kakak bakal kangen banget nih tiga hari gak lihat wajah kamu!" goda Juan.


"Bisa aja! ngegombal aja terus! Awas ya kalau gombalin cewek lain pas aku gak ada!" ancam Daisy.


Juan hanya tersenyum. Mereka sampai di sekolah dan Daisy berpamitan pada Juan di dalam mobil Juan.


"Aku pergi dulu, kak!" ucap Daisy bersiap turun tapi Juan menarik Daisy dan menciumnya dengan lembut, mereka berciuman sebentar lalu Daisy keluar dari mobil Juan. Daisy dan Zahra satu bus tapi di kursi yang berbeda. Roni di bus yang lainnya.


Perjalanan menuju Cibubur ramai lancar. Mereka tiba tiga jam kemudian. Mereka langsung menuju lokasi perkemahan dan membangun tenda masing-masing. Diwajibkan semua yang ingin ikut harus membawa tenda kemah masing-masing. Tujuannya agar tidak ada barang yang hilang dan saling menuduh nantinya. Karena satu tenda satu orang, jadi jika ada kehilangan sudah di pastikan orang dari tenda yang lain dan tidak ada saling tuduh menuduh kepada teman yang satu tenda.


Selesai mendirikan tenda, Daisy dan Zahra berjalan-jalan menghirup udara segar diantara pepohonan hijau nan asri. Daisy duduk dibawah pohon di atas rerumputan, Zahra lanjut berjalan-jalan bersama Roni. Daisy mengambil ponselnya dan menelpon Juan.


"Halo!" sapa Juan dari seberang telpon.


"Halo, kak Juan sedang apa?" tanya Daisy.


"Hem, selalu saja!"


"Selalu apa?" tanya Juan.


"Tidak ada! Oh, ya! kak Juan mau aku bawakan oleh-oleh apa?" tanya Daisy.


"Tidak perlu! aku cuma mau oleh-oleh cinta dan sayang darimu!" ucap Juan sambil tersenyum simpul.


"Ya sudah, aku tutup telponnya. Percuma juga, bicara sama kakak ujung-ujungnya ngegombal!" Daisy menutup panggilan telponnya.


Hari sudah petang, mereka semua mendapat tugas mengumpulkan kayu bakar untuk memasak dan juga api unggun. Daisy mengikuti acara api unggun, tapi hatinya sama sekali tidak disana. Tak ada yang spesial dari acara itu bagi Daisy.


Setelah dua mlm merek berkemah, hari terakhir mereka habiskan berburu oleh-oleh. Roni pergi bersama teman-teman pria sekelasnya. Daisy dan Zahra berjalan-jalan bersama mencari souvenir kenang-kenangan.


"Dais, sini!" Zahra mengajak Daisy masuk ke dalam toko kerajinan tangan. Daisy dan Zahra melihat-lihat barisan hiasan dinding, ada juga bunga yang terbuat dari kain flanel.

__ADS_1


"Ini!" tiba-tiba ada seorang pria tampan, yang memberikan bucket bunga mawar merah yang terbuat dari kain flanel. Daisy menoleh dan menolak dengan halus.


"Maaf, saya tidak bisa terima!" tolak Daisy.


"Maksud saya, ini adalah benda yang paling banyak di beli oleh rombongan kalian! Saya menawarkan ini padamu, barang kali kamu juga ingin membelinya!" ucap pria yang ternyata pelayan toko.


Daisy merasa malu sendiri dengan kesalah fahamannya.


"Oh, maaf! saya pikir," Daisy tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tidak apa-apa! jika kamu ingin melihat yang lainnya, silahkan. Maaf saya ganggu!" pelayan pria itu pergi setelah meminta maaf pada Daisy. Zahra menarik tangan Daisy agar melihat ke bagian gelang.


Gelang yang terbuat dari bambu itu menarik perhatian Zahra karena bisa dinamai. Bagi Daisy itu tidak menarik sama sekali, tapi ada satu barang yang menarik hati Daisy. Sebuah topi yang bisa diberi nama sesuai keinginan.


"Mas!" Daisy memanggil pria tampan yang menjadi pelayan di sana.


"Ya! apa yang kau inginkan?" tanya pelayan itu.


"Aku ingin topi itu!" tunjuk Daisy dan ia menuliskan nama Juan dan Daisy dengan inisial J&D. Pelayan itu mengambilkan topi polos berwarna hitam dan menyuruh Daisy menunggu sebentar. Pelayan itu membawa topinya ke dalam untuk dibordirkan nama.


"Ini mba! sudah selesai," ucap pelayan sambil memberikan topi yang sudah dibungkus rapi. Daisy membayar topinya, dan Zahra membeli dua gelang untuknya dan Roni. Selesai mencari souvenir, mereka kembali ke tenda untuk bersiap pulang.


"Ok, anak-anak hari ini kita pulang! Ingat besok malam pesta perpisahan, diwajibkan untuk datang! Karena acara pesta besok juga merupakan acara pembagian ijazah kalian!" ucap seorang guru pembimbing mereka.


Semua siswa kembali menaiki bus yang membawa mereka. Mobil bus itu berangkat setelah jam makan siang dan tiba di sekolah sore hari. Juan sudah menunggu Daisy di gerbang sekolah, dengan mobil hitamnya. Turun dari bus, Daisy langsung berlari ke arah Juan.


"Hai!" sapa Daisy.


"Hai, calon istri!" jawab Juan.


Daisy langsung tersipu malu. Juan membuka pintu mobil untuk Daisy. Mobik Juanpun melaju pulang mengantarkan Daisy menuju ke rumahnya.


"Ini, untuk kak Juan!" Daisy menyerahkan topi yang dibelinya pada Juan.


"Terima kasih, ini sangat bagus! Apalagi inisial nama kamu dan aku tertulis di sini!" Juan tersenyum manis. Daisy menatapnya dengan senyum. Seolah tak ada hal yang lebih membuatnya bahagia selain senyuman Juan.

__ADS_1


__ADS_2