
***
"Yah, mereka membawa Reva kemana?" Shilla menanyakan Daisy dan Juan yang terburu-buru.
"Mas Juan sama Non Daisy, mereka membawa Neng Reva ke rumah sakit, Nya," jawab Iyah.
"Rumah sakit? Kenapa dengan Reva?" Shilla khawatir mendengar cucu perempuannya dibawa ke rumah sakit.
"Neng Reva kejang-kejang, Nya," ucap Iyah.
Kedua putra kembar Daisy sudah tertidur lelap, setelah Iyah memberi mereka ASI Daisy yang ditaruh dalam botol. Karena anaknya kembar tiga, Daisy khawatir tidak bisa membagi waktu menyusui. Daisy selalu menyimpan stok ASI dalam botol.
***
Reva terus kejang-kejang, Daisy makin khawatir karena bibir Reva semakin membiru, wajahnya pucat pasi. Tiba di rumah sakit, Reva segera dibawa ke IGD.
Daisy mondar mandir di depan pintu ruang IGD. Ia cemas karena wajah Reva begitu pucat, ia juga cemas karena menurut pemeriksaannya di rumah, Reva sepertinya memiliki masalah dengan paru-parunya. Dokter keluar setelah setengah jam, dengan perlahan dia menjelaskan kepada Daisy dan Juan.
"Dok, putriku baik-baik saja kan?" Daisy langsung menghampiri saat Dokter itu keluar.
"Putri Bapak dan Ibu mengalami infeksi saluran pernafasan akut. Kami sudah berusaha semampu kami, tetapi... Maaf," ucap Dokter, belum selesai Dokter berbicara, Daisy histeris.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!" Daisy menangis sejadinya.
"Sabar, sayang. Kamu tidak boleh seperti ini!" Ucap Juan memeluk Daisy. Juan juga sedih, tetapi ia harus kuat demi Daisy.
Daisy kembali merasakan kehilangan. Ia terduduk lemas di kursi. Mereka membawa jenazah Reva ke rumah. Mereka tidak memakai mobil jenazah, tetapi dipangku Daisy kembali seperti saat datang ke rumah sakit.
***
Shilla menunggu Daisy dan Juan kembali dari rumah sakit. Ia duduk di ruang tamu dengan cemas.
Ting tong ting tong
"Kamu kenapa, sayang?" Denis menatap lembut sang istri.
"Aku cemas dengan Reva, Mas," jawab Shilla.
"Ada apa? Kenapa kamu secemas ini?" Denis merangkul pundak Shilla dan mengajaknya bicara di sofa.
"Entahlah! Daisy dan Juan sedang membawanya ke rumah sakit. Aku cemas sekali, Mas," ucap Shilla dengan cemas.
Tidak lama, Daisy dan Juan datang. Daisy masuk dengan menggendong Reva yang ditutup kain gendongan sampai ke kepala. Shilla merasa heran, kenapa Reva ditutupi seperti itu. Shilla melihat wajah Daisy yang memerah seperti habis menangis, matanya juga sembab.
__ADS_1
"Kenapa dengan Reva? Mama dengar dari Iyah, Reva sakit. Apa yang terjadi dengan Reva?" Shilla mendekat dan Daisy terisak kembali.
"Reva, meninggal, Ma!" Ucap Daisy dengan isakan tangisnya yang memilukan.
"Meninggal? Bukankah Reva baik-baik saja tadi sore?" Shilla mengambil Reva dari gendongan Daisy. Ia menangis mengusap wajah pucat Reva. Cucu perempuannya itu tertidur pulas selamanya.
***
Mereka memakamkan Reva keesokan paginya. Kini Daisy dan Juan hanya memiliki Raffa dan Raffi.
Mungkin sudah jalan takdir, aku hanya berdoa, semoga putriku tenang dan bahagia di sana. Reva baru berusia lima hari, dia masih sangat suci dan pasti dia berada di surga sekarang.
Daisy menyusui Raffi sambil melamun. Suara Iyah, menyadarkan Daisy dari lamunannya.
"Non, Den Raffi sudah tidur," ucap Iyah. Daisy menengok Raffi dalam pangkuannya.
"Eh, ya. Bagaimana dengan Raffa, Bi?" Daisy menyerahkan Raffi pad Iyah, agar Iyah menidurkan Raffi di ranjang bayi.
"Den Raffa sudah tidur, tadi sudah minum satu botol susu, Non," jawab Iyah.
"Oh, ya sudah, saya mau tidur. Jika mereka menangis dan aku tidak mendengarnya, Bibi ketuk saja pintu kamar saya," ucap Daisy. Setelah selesai mengucapkan hal itu, Daisy berlalu ke kamarnya.
__ADS_1