Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Kehilangan


__ADS_3

Dua hari berlalu, tetapi Daisy tak kunjung membaik. Juan menyarankan Daisy agar mau dirawat di rumah sakit. Daisy menolak dan marah pada Juan.


"Sayang, demam kamu sudah tiga hari belum turun. Kita ke rumah sakit ya?" Juan pantang menyerah untuk membujuk Daisy.


"Tidak mau!" jawab Daisy dengan tegas.


"Tapi, sayang. Aku takut ada sesuatu yang terjadi denganmu, demammu sungguh tidak turun bahkan setelah minum obat. Kita ke rumah sakit ya!" kembali Juan membujuknya.


"Aku tahu ada yang salah dengan tubuhku, Kak. Aku takut menerima kenyataan yang tak aku inginkan. Lebih baik aku bertahan di rumah," Gumam hati Daisy.


"Aku tidak mau," ucap Daisy mulai terisak.


Juan akhirnya menelpon Shilla, sang mertua. Mungkin saja jika ibunya yang membujuk, Daisy akan menurut. Juan hanya ingin mengusahakan yang terbaik untuk istrinya.


Juan mencari nomor kontak Shilla dan mendial nomor itu.


Tutt tutt tutt


"Halo, nak Juan," sapa Shilla diujung telpon.


"Halo, Ma. Maaf jika Juan mengganggu."


"Tidak mengganggu sama sekali. Ada apa?"


"Bisakah Mama dan Papa kemari, Juan ingin bicara!" pinta Juan.


"Baik, Mama dan Papa kesana sekarang. Papa juga kebetulan belum berangkat ke kantor."


"Terima kasih, Ma!" pungkas Juan. Ia menutup panggilan suara itu. Ia kembali ke kamar dan melihat Daisy tertidur. Tidak, bukan tertidur melainkan pingsan. Juan panik melihat wajah pucat Daisy, bibirnya juga membiru. Juan segera menelpon ambulance dan membawa Daisy ke rumah sakit.


***


Daisy terbaring di ranjang dorong, dua orang Suster dan seorang Dokter mendorong ranjang itu dengan setengah berlari, menuju ruang UGD. Juan berlari mengikuti, disamping Daisy yang terbaring di ranjang. Tiba di depan ruang UGD, Juan di tahan oleh Suster agar tak ikut masuk.


Aurora mendapat laporan bahwa pasien ibu hamil bernama Daisy, hari ini masuk ke ruang UGD. Ia berlari sepanjang koridor rumah sakit dan berhenti menyapa Juan di depan pintu UGD.


"Pak Juan, apa yang terjadi dengan Daisy?"


"Saya tidak tahu, Dokter. Sudah tiga hari Daisy demam dan tidak mau turun panasnya. Saya sudah membujuknya berulang-ulang tetapi Daisy tetap tidak mau. Pagi ini saya mendapatinya pingsan setelah saya meninggalkannya sebentar, untuk menelpon orang tua Daisy. Dokter tolong selamatkan anak dan istri saya!" pinta Juan pada Aurora.


"Saya akan cek keadaan Daisy, Bapak bantu saja dengan doa!" ucap Aurora. Ia masuk ke ruang UGD dan bertemu dengan dokter UGD.


***


"Apa sudah di periksa, bagaimana keadaan pasien?" tanya Aurora.


"Kami sudah mengambil sampel darahnya dan mungkin membutuhkan waktu satu jam untuk tahu hasilnya. Yang menjadi masalah sekarang, sepertinya pasien mengalami pendarahan."


"Biar saya cek dulu," ucap Aurora. Ia berkaca-kaca setelah memeriksa keadaan Daisy yang ternyata mengalami keguguran. Aurora ingat betapa bahagianya Daisy saat tahu dia hamil, dan Aurora tak dapat membayangkan bagaimana sedihnya Daisy nanti, saat tahu calon bayinya sudah tiada.


"Siapkan surat persetujuan untuk melakukan curret, minta suaminya agar segera menanda tanganinya."


"Baik, Dok!" suster itu pergi meminta tanda tangan Juan setelah mengambil surat persetujuan.


"Pak Juan, tolong tanda tangani disini!" ucap suster itu.


"Ini untuk apa, Sus?" tanya Juan.


"Pasien mengalami keguguran dan pendarahan parah, kami harus segera melakukan tindakan operasi atau pasien tidak dapat tertolong."

__ADS_1


Seketika kedua kaki Juan lemas dan terjatuh bersimpuh di lantai rumah sakit. Rasanya bagai ada pisau yang menyobek jantungnya, Juan merasakan sakit yang amat dalam.


"Pak, anda tidak apa-apa? Tolong segera tanda tangani!" suster itu mengulangi ucapannya.


Juan menanda tanganinya. Suster itu membantu Juan bangun dan mendudukannya di kursi tunggu. Dengan kondisinya yang sekarang, Juan rasa tidak sanggup jika harus berbicara. Dia mengirim pesan yang sama pada tiga nomor ponsel, nomor Shilla, Herman dan Koko. Juan memberitahu mereka bahwa Daisy keguguran dan sedang menjalani operasi di rumah sakit Citra Medika.


***


Di depan apartement, Shilla dan Denis datang sesaat setelah ambulance pergi. Sudah setengah jam, mereka berdiri di depan pintu. Shilla menelpon Juan tetapi tadi ia sedang berbicara dengan Aurora, jadi Juan mengabaikan getaran ponsel di saku celananya.


"Perasaan Mama jadi tidak enak, Pa!" ucap Shilla.


"Sabar, mungkin Juan tidak mendengar karena sedang merawat Daisy."


Tring


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Shilla membaca pesan teks yang Juan kirim, dan Shilla langsung terkulai lemas, jika Denis tak sigap menahannya maka Shilla pastilah sudah tergeletak di lantai.


"Pa, Daisy,"


"Tenangkan diri Mama dulu, katakan dengan perlahan. Ada apa dengan Daisy?" tanya Denis sambil mengusap kedua pundak istrinya itu.


"Kita ke rumah sakit Citra Medika, Daisy keguguran dan sedang menjalani operasi."


Denis berkaca-kaca, ia sedih memikirkan bagaimana terpuruknya Daisy nanti. Shilla segera menarik lengan Denis dan pergi ke rumah sakit.


***


Dikantor


Koko dan Herman pun merasakan kesedihan yang sama saat menerima pesan dari Juan. Koko segera mengundur jadwal rapat Juan yang seharusnya hari ini. Tadi pagi Juan mengatakan akan datang untuk rapat saja dan pulang kembali. Tak disangka kejadiannya malah menjadi seperti ini.


Herman mengurut keningnya, air matanya menetes tak bisa ditahan. Koko menerobos masuk ke ruangan Herman.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Herman. Ia bangun dari kursinya dan melangkah keluar diikuti Koko di belakang.


"Elis, rapikan meja saya dan tunda semua jadwal saya hari ini. Undur semua jadwal jadi besok, Dokter Daisy masuk rumah sakit!" ucap Herman memberi perintah.


"Maaf Pak Herman, di rumah sakit mana?" tanya Elis.


"Citra Medika!" setelah mengucapkan itu Herman pun pergi ke rumah sakit bersama Koko.


***


Setengah jam kemudian Shilla, Denis, Herman dan Koko datang bersamaan. Mereka langsung menuju ruang operasi dan melihat Juan yang tertunduk duduk di depan ruang operasi.


"Juan, ada apa dengan Daisy? Daisy selalu makan makanan bergizi dan sehat, bagaimana bisa keguguran?" tanya Shilla. Juan hanya menggelengkan kepala dengan lemah.


Herman duduk disamping Juan dan menepuk pundak Juan, untuk memberinya kekuatan dalam menerima musibah ini.


"Sabarlah! Daisy pasti baik-baik saja," ucap Herman.


Shilla duduk di kursi samping pintu ruang operasi. Operasi selesai dilakukan dan Aurora keluar dari balik pintu. Juan segera mendekat dan menanyakan keadaan Daisy.


"Bagaimana dengan Daisy?" tanya Juan.


"Iya, Dokter. Bagaimana keadaan putri saya?" tanya Shilla.


"Daisy sudah melewati masa kritisnya, tetapi pasien belum kami pindahkan ke ruang perawatan. Tunggu Daisy sadar, kami akan segera menyiapkan kamar rawat untuknya. Dan Pak Juan, saya ingin bicara dengan Bapak di ruangan saya!" ucap Aurora.

__ADS_1


Juan mengikuti Aurora ke ruangannya.


"Silahkan duduk," ucap Aurora. Dia menaruh stetoskop yang mengalung dilehernya, ke atas meja. Setelah Juan duduk, Aurora mulai dengan memberikan hasil lab.


"Apa ini, Dok?" tanya Juan tak mengerti.


"Dari hasil lab, di tubuh Daisy terdapat racun yang menyebabkannya keguguran. Apa kau tahu, jika Daisy keracunan?" tanya Aurora.


"Racun, Dok!!" Juan menganga tak percaya. Bagaimana Daisy bisa keracunan. Daisy yang seorang Dokter itu selalu sarapan dan makan sesuatu dengan hati-hati.


"Benar, bisa ànda katakan padaku, makanan apa yang Daisy makan sebelum jatuh saki?" tanya Aurora.


"Sepertinya, kalau saya tidak salah ingat black forrest," jawab Juan.


"Bisa jadi, black forest itulah yang beracun."


"Terima kasih, Dokter. Saya akan selidiki masalah ini!" ucap Juan. Ia keluar dari ruangan Aurora.


Juan pergi kembali ke ruang operasi, disana hanya ada Koko yang berdiri menunggu Juan.


"Kemana semua orang?" tanya Juan.


"Mereka mengantar Daisy ke ruang rawat inap."


"Kebetulan kalau begitu. Aku ingin membicarakan sesuatu yang serius, ikut aku!" ucap Juan.


Juan dan Koko pergi ke kantin. Tanpa mereka sadari, Herman menguntit mereka dari belakang. Sampai di kantin, Juan dan Koko memesan dua cangkir kopi. Herman duduk di tempat yang terhalang tiang pilar disamping Juan.


"Ada apa, Pak Juan. Sepertinya ini benar-benar sesuatu yang serius?" tanya Koko lalu menyesap seteguk kopinya dan meletakkan kembali cangkir itu ke meja.


"Daisy keguguran karena keracunan makanan, entah kenapa aku merasa ada yang sengaja meracuni Daisy. Sebelum Daisy sakit, dia memakan kue black forest. Aku curiga kue itulah yang bermasalah," ucap Juan .


Herman yang menguping pembicaraan mereka menjadi geram.


"Kurang ajar, siapa sebenarnya yang mengincar Juan dan Daisy. Aku akan menemukanmu dimanapun kau berada!!" gumam Herman dengan marah. Ia segera pergi dari kantin dan menelpon anak buahnya.


"Halo, cek semua rekaman CCTV tiga hari yang lalu disekitar gedung. Segera laporkan jika ada yang mencurigakan. Cek juga CCTV tersembunyi yang terpasang di klinik."


Herman menutup panggilan telponnya. CCTV tersembunyi di klinik itu sengaja Herman sendiri yang memasangnya. Setelah kejadian penculikan Daisy di dalam klinik, Herman segera memasang CCTV disana untuk berjaga-jaga.


***


Juan dan Koko selesai bicara dan pergi ke ruang perawatan Daisy. Mereka tak melihat Herman.


"Ma, kemana Pak Herman?" tanya Juan.


"Tadi pamit ke toilet," jawab Shilla.


"Oh,"


Herman datang 15 menit kemudian. Di parkiran, Herman bertemu Elis dan membawanya ke ruang rawat Daisy. Koko menatap Elis sekilas, lalu bertanya pada Herman.


"Pak Herman, katanya ke toilet, kenapa bisa bareng Elis?" tanya Koko. Juan juga heran, dan menatap heran ke arah Herman.


"Tadi ada telpon dari putriku, di dalam tidak ada sinyal jadi pergi ke parkiran. Saat selesai dan akan masuk ke dalam, kebetulan melihat Elis keluar dari taksi. Ya, sudah sekalian,"


Tidak ada yang curiga pada penjelasan Herman, karena ia bisa mengatur dirinya setenang mungkin. Jadi tidak membuat mereka semua curiga.


********************

__ADS_1


Readers: thor kenapa jahat bnget sih bkin mereka sengsara mulu


aq: tenang saja ini masalah terakhir mereka, author janji deh benerrrr suerrr


__ADS_2