Cinta Ada Karena Terbiasa

Cinta Ada Karena Terbiasa
Deal


__ADS_3

Juan sampai dirumah sederhananya dan menghempaskan tubuhnya disofa. Seorang pembantu wanita setengah baya menghampirinya.


"Tuan mau bibi buatkan minuman?" tanya pembantu itu.


"Tidak bi, terima kasih!" jawab Juan.


"Bibi sudah masak buat makan malam, sekarang bibi pamit pulang" ucap pembantu itu. Juan mengangguk dan pembantu wanita itu pun keluar dari rumahnya. Juan tinggal di rumah sederhana yang hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi.


Karena dia hanya mempunyai satu kamar, jadi pembantu yang bekerja di rumahnya datang pagi dan pulang sore hari. Juan sebenarnya mempunyai sepuluh unit apartement, tapi dia lebih suka menunjukkan hidup sederhana dengan tinggal di rumah kecil itu. Dia menyewakan kesepuluh apartementnya.


Juan merebahkan tubuhnya disofa menatap langit langit ruang tamu. "Haah ... lelah sekali, padahal hanya duduk menatap Daisy tidur. Dia sengaja mengerjaiku seharian ini, tujuannya jelas ingin aku menyerah dan membatalkan pertunangan. Tapi aku akan memperjuangkan cintaku. Jika sampai akhir Daisy tak bisa mencintaiku, baru aku akan menyerah. Tapi untuk saat ini, aku akan terus berjuang!" gumam Juan. Dia bangun dan berjalan ke kamar mandi. Juan membuka kran shower dan membasuh tubuhnya dibawah guyuran air hangat yang mengalir deras dari shower. Setelah mandi, Juan merasa tubuhnya lebih segar. Dia memakai celana panjang longgar berwarna hitam ukuran 3/4 dan kaos putih tanpa lengan. Otot-otot lengan Juan begitu kekar, karena Juan selalu berolah raga tinju setiap pagi. Otot perutnya juga kencang dan membentuk sixpack.


Juan melangkah kedapur dan disana dia melihat makanan dimeja yang sudah disiapkan bibi Ayi. Juan suka dengan makanan yang tidak terlalu berminyak dan lebih suka sayuran hijau yang dimasak bening dan ikan atau ayam yang dikukus atau dipepes. Hari ini bi Ayi memasakan pepes ayam bumbu kuning untuk Juan. Juan makan dengan lahap, setelah makan Juan mencuci piringnya sendiri. Setelah mencuci piring Juan menyeduh greentea dan duduk santai di ayunan dekat pagar dihalaman. Tiga orang gadis muda yang jalan melewati depan rumah Juan itu menyapa Juan.


"Selamat malam kak Juan, sendirian aja?" tanya salah seorang wanita.


"Iya, dek. Adek-adek ini darimana?" Juan balik bertanya sambil terus tersenyum.


"Dari minimarket kak. Kami permisi kak," ucap seorang yang lainnya.


"Silahkan. Hati-hati dijalan!" ucap Juan. Ketiga gadis itupun berlalu dan berbisik-bisik.


"Kak Juan itu ganteng banget sih! meleleh deh hatiku kalo lihat senyuman dia. Lesung pipinya itu loh ... emm gemesin," ucap gadis yang pertama menyapa Juan.


"Buat apa ganteng. Kalo pekerjaannya saja tidak jelas. Kalo aku sih pengen cari yang mapan dan pekerjaannya jelas," ucap wanita kedua. Juan yang samar-samar mendengar sedikit obrolan mereka itu jadi berpikir.


"Apa Daisy juga seperti gadis-gadis ABG itu ya? Mungkin tidak ya? jika Daisy menganggapku kurang mapan jadi kurang pantas untuknya,sama seperti yang dipikirkan gadis itu?" Juan lalu menelpon asisten yang tinggal disekolah milik Juan.

__ADS_1


"Halo pak Herman! Bisakah datang ke rumah sekarang?" tanya Juan.


"Baik pak Juan!" jawab Herman dari seberang telpon. Herman adalah pria berusia lima puluh tahunan yang membantu Juan mengelola sekolah, minimarket dan apartement yang dia sewakan. Herman tinggal berdua dengan seorang pelayan, di rumah samping sekolah etika milik Juan. Putri satu satunya Herman tinggal bersama suaminya di Bali, sedang istri Herman sudah meninggal karena sakit DBD. Malam itu setelah mendapat telpon dari Juan, Herman segera berangkat ke rumah Juan dengan mobil avanza hitamnya.


Tiba di rumah Juan, mereka masuk kedalam rumah dan berbicara di ruang tamu.


"Ada apa? pak Juan menyuruh saya kesini?" tanya Herman.


"Tolong carikan seorang guru untuk menggantikan saya mengajar. Karena sepertinya, saya akan sangat sibuk. Dan satu lagi saya ingin meminta saranmu, kendaraan seperti apa yang disukai gadis-gadis remaja?" tanya Juan.


"Gadis gadis jaman sekarang lebih suka dibonceng pake motor gede yang bagus. Itu juga saat putriku belum menikah setahun yang lalu. Memangnya pak Juan sedang mengejar gadis remaja?" tanya Herman dengan senyum simpul.


"Ehm ... itu! Ya pokoknya kurang lebih seperti itu. Tapi kalau motor, saya tidak bisa mengendarainya" ucap Juan.


"Hahahaha ..." tawa Herman seketika meledak. Bagaimana mungkin laki laki muda seusia Juan tak bisa mengendarai motor.


"Tentu saja bisa!" jawaban Herman sontak membuat Juan menganga tak percaya. Seketika dia menunduk malu. Juan merasa malu karena kalah dengan pria yang sudah menjadi kakek kakek.


"Tapi pak Juan, kalau saya sarankan lebih baik merubah style bapak saja" ucap Herman. Juan mengernyit tak paham dengan ucapan Herman. Mengubah style? memangnya kenapa dengan style Juan. Dia merasa tak ada yang salah.


"Memangnya penampilan saya kenapa? pak Herman," tanya Juan.


"Tidak ada yang salah. Hanya, jika untuk mengejar gadis yang jauh lebih muda, maka bapak harus berubah. Setidaknya mengikuti tren pemuda-pemuda jaman sekarang. Penampilan bapak terlalu dewasa, jika memakai setelan jas saat menemuinya. Dan gaya rambut bapak juga harus sedikit dirubah. Itu saran saya, maaf kalau saya lancang mengomentari pribadi bapak" ucap Herman.


Juan tampak berpikir dan menimbang saran dari Herman. Juan ingat dengan ucapan Daisy yang menyebutnya om om. Herman yang tak mendengar jawaban dari Juan itu jadi ketakutan.


"Apakah pak Juan marah. Dia tak menjawab sepatah katapun" gumam hati Herman.

__ADS_1


"Ok, pak Herman harus ajari saya! agar seperti pemuda jaman sekarang. Dan besok antar saya menata rambut dan berbelanja! deal ya?" tanya Juan. Herman tersenyum menatap Juan.


"Ok, deal. Kalau begitu saya permisi" Herman pamit undur diri dan Juan mengantarnya sampai didepan pintu. Setelah mobil Herman berlalu dari pandangannya, Juan pun menutup pintu dan menguncinya. Juan merasa lelah dan memutuskan tidur lebih awal.


^^^^^^^^^^^^^^^^


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Juan sudah didepan rumah Daisy dan menekan bel.


Ting tong ting tong


Shilla yang sedang menyiapkan sarapan didapur, berjalan dengan tergesa untuk membuka pintu.


Nak Juan! masuk! Sarapan bersama yuk!" ajak Shilla.


"Terima kasih, tante! tapi Juan sudah sarapan tadi" Juan menolak dengan halus ajakan Shilla. Daisy sudah siap berangkat setelah menghabiskan sandwichnya. Daisy berjalan melewati Juan dan meliriknya dengan sinis.


"Mah, pah ... Daisy berangkat" Daisy pamit pada kedua orang tuanya, dan langsung meninggalkan Juan. Daisy masuk kemobil Juan tanpa menunggu Juan yang sedang berpamitan pada Shilla dan Denis.


Juan berlari dan segera masuk kedalam mobil. Juan menjalankan mesin mobilnya dan perlahan mobil Juan meninggalkan halaman rumah Denis. Dalam perjalanan Daisy mendapat telpon dari Zahra.


"Halo, Za. Kaya gak bakal ketemu aja disekolah. Pake nelpon segala. Ada apa?" sapa Daisy menerima panggilan itu.


"Dais, Aceng tiba-tiba dipindahkan sekolah oleh orang tuanya!" jawab Zahrana dari seberang telpon. Daisy tak terkejut atau pun merasa heboh. Bagi Daisy, jika Aceng pindah itu lebih baik untuk Daisy. Karena mendapat respon yang biasa saja dari Daisy, Zahrana menyudahi panggilan suaranya


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Yoo..tebak readers kira kira Aceng pindah kenapa??????

__ADS_1


__ADS_2