
Sesampainya di apartement, Daisy segera menuju kamarnya dan mandi. Juan duduk di sofa ruang tamu. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa. Daisy selesai mandi dan mencari Juan di ruang tamu.
"Kak Juan," panggil Daisy.
"Apa sayang!"
"Aku mau makan seblak mercon sama kentang panggang rasa keju sama krecek daun singkong, tolong beliin ya?"
"Seblak mercon sama kentang panggang, aku tahu makanan itu, tetapi yang ketiga itu apa, krecek daun singkong itu baru aku dengar. Ganti yang lain ya, sayang."
"Tidak mau, pokoknya harus dapat. Krecek itu dulu aku makan di rumah temanku, orang Garut. Kalau Kak Juan gak dapat kreceknya, yang lainnya juga gak bakal aku makan dan aku bakal nangis semalaman."
"Iya, aku usahakan dapat semua pesananmu. Tapi kalau lama bagaimana?"
"Tidak apa-apa."
Juan pun langsung menyambar kunci mobilnya di meja. Ia pergi secepatnya mencari semua pesanan Daisy. Dia sudah mendapatkan dua pesanan Daisy, tapi pesanan terakhir itu sangat sulit Juan cari. Sedangkan Daisy sudah mengancamnya. Dalam perjalanan, Juan melihat mobil Koko terparkir di depan sebuah klinik. Juan berhenti di belakang mobil Koko, ia melihat Koko baru saja keluar dari klinik. Juan keluar dari mobilnya dan menyapa Koko.
"Ko, kamu sakit? Kenapa tidak ke klinik kantor saja tadi sore?" tanya Juan heran.
"Tidak sakit, Pak. Ini tadi ada insiden sedikit dan punggung saya terluka."
"Insiden apa? Kita pergi minum kopi sebentar, kamu ceritakan kenapa kamu sampai ke klinik dan aku juga ingin bertanya sesuatu padamu!" ucap Juan. Mereka pergi ke coffeshop yang hanya terhalang dua kios dari klinik tempat Koko berobat. Mereka duduk dan memesan kopi. Sekejap kemudian kopi pesanan mereka datang .
"Sekarang ceritakan insiden apa, dan kenapa bisa terluka?"
Flashback
Tadi sore.
Elis memeluk anaknya dengan erat, selama di dalam mobil Koko. Koko sesekali melirik ke arah Elis, mata Elis berkaca-kaca mengusap rambut putrinya. Entah kenapa hati Koko bergetar, melihat mata perempuan yang sedang terlihat rapuh disampingnya ini.
__ADS_1
Koko melihat butiran bening meluncur dari pelupuk mata Elis, butiran air mata itu merayap cepat di pipi Elis, sebelum akhirnya terjatuh tepat di punggung tangannya yang sedang mengusap rambut sang putri.
"Kau bisa berbagi cerita denganku, jika kau memendam masalahmu sendiri, rasanya akan lebih menyesakkan. Sepertiku yang dulu sempat terpuruk karena tunanganku meninggal dunia. Aku menceritakan segala kesedihanku pada Juan, waktu itu Pak Juan menyamar menjadi OB dan bekerja bersamaku di supermarket. Siapa yang sangka jika dia adalah Bosku. Intinya setelah aku menceritakan semua luka dihatiku, maka aku mulai merasa lega dan bisa melupakannya perlahan-lahan. Jadi jika kau ceritakan padaku, siapa tahu bisa membuat hatimu sedikit lega."
"Terima kasih, Pak Koko. Saya menutup diri saya begitu lama, saya takut jika saya menceritakannya, maka putri saya akan menderita. Saya lebih rela jika saya yang menderita, saya tidak ingin putri saya menderita. Stop, ini rumah saya, hampir saja terlewat."
"Putrimu tertidur, tunggu sebentar!"
Koko turun dan membuka pintu, ia mengambil gadis kecil itu dari pangkuan Elis. Setelah itu barulah Elis turun dari mobil Koko. Koko menekan tombol kunci mobilnya, dan Elis membuka pintu rumah kontrakannya. Rumah itu tak jauh dari kantor Juan. Jika ditempuh dengan taksi, mungkin jaraknya sekitar 10 menit.
"Masuk, Pak. Maaf merepotkan, baringkan saja Via di sofa!"
"Tak apa, biar kubaringkan dia dikamarnya. Dimanà kamarnya?"
"Via sekamar dengan saya, dan kamar saya masih berantakan. Tak apa, baringkan saja di sofa."
"Kasihàn, tunjukkan saja kamarnya. Aku tidak akan menertawakan kamarmu yang berantakan."
"Duduklah sebentar, aku buatkan bapak teh."
"Koko saja, tak perlu pakai bapak!"
Elis pergi ke dapur, membuatkan teh untuk Koko dan air putih untuk dirinya sendiri.
"Silahkan diminum!"
"Terima kasih, rumah kontrakanmu cukup nyaman."
"Ya, aku ingin anakku betah dan nyaman."
"Kemana suamimu?"
__ADS_1
"Aku belum menikah!"
"Maaf, jadi Via itu ...." Koko tak berani melanjutkan ucapannya, ia takut menyinggung perasaan Elis.
"Benar, Via anak diluar pernikahan. Anak yang tak kuharapkan. Karena aku diperkosa oleh preman, preman itu ditangkap seminggu kemudian karena ketahuan memperkosa wanita yang lain lagi. Sebulan kemudian ternyata aku hamil dan ayah berpikir bahwa aku melakukan hubungan bebas bersama pacarku. Dia mengusirku, dan aku hampir saja menggugurkan kandunganku, tetapi seorang ibu menyadarkanku. Dia bilang yang berdosa dan hina adalah perbuatan ayahnya sedangkan anak di dalam perutku dia suci tak berdosa."
"Kamu benar-benar membuatku kagum. Kamu bisa tabah menerima kenyataan hidupmu yang pahit. Via wajahnya sangat mirip denganmu, cantik," puji Koko. Wajah Elis bersemu merah mendengar pujian dari Koko.
Setelah tunangan Koko meninggal, Koko tak pernah merasakan tertarik pada lawan jenis, tetapi ketegaran wanita di hadapannya ini membuat Koko kagum. Ada rasa tertarik pada sikap tegarnya, Koko seakan ingin melindunginya agar tidak lagi terluka. Koko ingin memberikan sebuah kebahagiaan pada Elis, pada wanita yang baru akrab beberapa jam yang lalu. Meskipun mereka satu kantor, tetapi mereka tidak begitu akrab dan hanya saling menyapa sesekali karena pekerjaan.
Flashback off
"Saya melihat Elis dipukuli ayahnya menggunakan tongkat, karena itulah saya terluka. Dan Pak Juan, apa yang ingin bapak bicarakan dengan saya?" tanya Koko.
"Apa kau tahu makanan yang namanya krecek daun singkong?"
"Tidak. Dokter Daisy ingin makanan itu?"
"Iya. Dia bilang harus dapat atau dia akan marah. Yah, kau juga tahu kan kalau dia marah bagaimana. Dia bilang dulu ia pernah memakan makanan itu di rumah temannya. Katanya itu masakan orang Garut!"
"Garut? Kalau begitu coba tanya pada Elis, ibunya Elis asli Garut. Siapa tahu ibunya bisa membantu kita."
Koko menelpon Elis dan menanyakan hal itu. Beruntunglah Juan, karena ternyata Elis juga suka makanan itu dan dia sering memasak itu. Akhirnya mereka meminta Elis memasaknya untuk Daisy. Juan dan Koko pergi ke pasar tradisional 24 jam, mereka membeli bahan-bahannya dan memasaknya di rumah Elis. Begitu selesai dimasak, Juan pun segera pulang.
"Sayang, ini pesanannya!"
"Kreceknya dapat?"
"Tentu dong!"
"Asyik!!"
__ADS_1
Juan tersenyum melihat betapa bahagia istrinya. Jika biasanya orang hamil susah dan tak nafsu makan, Daisy berkebalikan dari yang lain. Dia malah memiliki nafsu makan yang besar. Tapi itu justru lebih baik dibanding susah makan. Melihat istrinya makan saja sangat membahagiakan untuk Juan.