
Daisy menjahit lengan karyawan minimarket yang terluka. Untung saja goresan itu tak terlalu dalam, dan tidak membahayakan.
"Sudah selesai! Apa ada luka yang lain?" tanya Daisy dengan memperhatikan pria di depannya. Entah kenapa, Daisy merasa familiar dengan wajah karyawan itu. Meskipun karyawan pria itu tak mau mengangkat wajahnya dan terus menunduk.
"Siapa namamu?" tanya Daisy sambil merapikan peralatan dokternya lalu mencuci tangan.
Karyawan minimarket yang sedari tadi menunduk dan tak mau menatap Daisy itu kemudian mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah tampan yang sedang menyeringai tajam. Di tangannya terdapat sapu tangan yang sudah dia bubuhi obat bius. Dia berjalan pelan di belakang Daisy yang sedang serius mencuci tangan.
"Emm, emm," Daisy dua kali meronta, saat pria itu membekap mulut dan hidung Daisy dengan sapu tangan itu. Tak butuh waktu lama, Daisy melemas dan tak sadarkan diri. Pria itu memasukkan Daisy ke dalam plastik hitam besar, plastik yang biasa dipakai untuk tempat sampah.
"Ayo kita pergi, Dokter Daisy!" gumam pria itu. Dia membawa Daisy dengan aman, dan tak ada yang mencurigai. Setelah sampai di parkiran pria itu membuka plastik yang membungkus Daisy.
Bagaikan singa yang baru saja menangkap mangsa. Pria itu tersenyum menampakkan gigi-gigi putihnya yang berbaris rapi. Dia menyetir dengan pelan, tak sampai dua puluh menit, mobilpun berhenti di garasi sebuah rumah sederhana bergaya khas betawi. Rumah dengan pagar papan setinggi 70 centimeter di bagian teras rumah.
Pria itu menutup garasi, lalu membopong Daisy keluar dari mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah itu ada ruangan rahasia di bawah tanah. Pria itu membawa Daisy ke ruang bawah tanah. Ruang bawah tanah rumah itu cukup mewah, berbeda dengan rumah utama yang hanya berbahan papan.
Rasanya siapa pun tak ada yang menyangka jika rumah sederhana itu hanyalah penutup istana bawah tanah milik pria itu. Dia membaringkan Daisy di ranjang dalam kamar yang besar dan luas. Ranjang king size dengan kelambu berwarna gold mengkilap itu benar-benar mewah.
Setelah membaringkan Daisy, pria itu kembali ke garasi dan menekan sebuah tombol. Tiba-tiba mobil di garasi itu bergerak turun dan membawa mobil itu ke ruang bawah tanah. Lantai garasi lalu menjadi datar kembali dan mobil itu tertutup lantai garasi.
"Selesai! waktunya menyiapkan makan untuk putri tidurku!" ucap pria itu. Dia kembali ke ruang bawah tanah.
**************************
Di mini market
Sudah minimarket kedua yang Herman kunjungi, tapi dari kedua minimarket itu tak ada satu pun yang bermasalah dengan perampok. Tak ada perampokan di kedua minimarket itu. Herman jadi curiga pada pria yang memberikan kabar ke klinik.
"Kita kembali ke klinik secepatnya!" ucap Herman dengan panik. Herman tidak tahu apa motif pria yang memberikan mereka kabar palsu. Tapi entah kenapa, Herman jadi khawatir pada Daisy.
"Jika terjadi sesuatu pada Daisy, saya tidak tahu akan segila apa pak Juan mengamuk!" gumam Herman pelan.
__ADS_1
Mobil yang membawa Herman itu sampai di parkiran kantor, Herman segera turun dan langsung menuju klinik kantor. Dan firasat Herman terbukti. Di dalam klinik itu tak ada siapa pun.
"Datang!!" bentak Herman, dia memanggil bodyguard bayangan dengan kata sandi 'datang'. Lima orang pria berjas hitam itu pun masuk ke dalam klinik.
"Ada apa, bos?" tanya salah satu bodyguard itu.
"Kemana kalian tadi?" tanya Herman dengan marah.
"Mengikuti anda, bos!" jawab bodyguard itu.
"Semuanya?" tanya Herman kembali.
"Iya, bos. Seperti biasanya! " jawab bodyguard.
"Jadi kalian tidak tahu jika Daisy hilang?" tanya Herman, yang dijawab gelengan kepala okeh kelima bodyguard itu.
Herman ingin menghubungi Juan, tapi mengingat Juan juga akan kembali sore hari, Herman mengurungkan niatnya dan berencana menunggu hingga Juan datang.
Tapi tak ditemukan tanda-tanda keberadaan Daisy. Mereka berkumpul kembali di klinik dan melaporkannya pada Herman.
"Tidak ada rekaman tentang waktu Nona Daisy menghilang. Sekitar 10 menit CCTV bermasalah, sepertinya sudah di rencanakan dengan matang!" ucap bodyguard yang memeriksa.
"Sial, apa yang harus kita lakukan jika pak Juan bertanya!" Herman mengumpat dalam kebingungan.
"Sebaiknya kita laporkan saja sejujurnya!" ucap seorang bodyguard yang berdiri paling belakang.
"Benar! kalaupun kita berbohong tak akan bertahan lama, karena pasti akan ketahuan juga!" jawab Herman.
Herman lalu mencoba menghubungi Juan, tapi sepertinya Juan sudah berada di pesawat. Herman semakin bingung, lalu dia ingat sesuatu.
"Dia merusak CCTV kantor kita, tapi mungkin tidak di gedung seberang. Kalian pergi ke sana dan lihat rekaman dari gedung seberang kanto!" ucap Herman.
__ADS_1
"BAIK," ucap kelima bodyguard itu bersamaan. Mereka segera pergi melaksanakan perintah Herman.
"Pantas saja, sejak dulu Juan tidak mau memakai kantor. Lebih aman tanpa kantor, karena tak ada yang tahu Juan itu siapa. Siapa yang melakukan ini, apakah saingan Juan?" Herman bertanya-tanya sendiri, seraya memikirkan kemungkinan, siapa sajakah saingan Juan.
Satu jam kemudian, para bodyguard itu kembali dengan nihil.
"Maaf pak Herman, sepertinya dia hackers, karena satu blok hingga jalan utama semua CCTV bermasalah di jam yang sama. Apakah kita harus melaporkannya ke polisi?" ucap bodyguard yang bertubuh paling kekar diantara yang lainnya.
"Kita tidak bisa sembarangan! Bagaimana jika Daisy diculik, dan penculiknya tidak memperbolehkan kita melapor ke polisi. Akan jadi masalah besar jika dia melukai Daisy," ucap Herman sambil mengurut keningnya.
"Kenapa di usia senja, aku malah harus menemui masalah seperti ini? Sudah bertahu-tahun aku melayani Juan tanpa masalah. Kenapa di saat waktunya aku pensiun, malah kejadian ini menimpaku! Apa yang harus kulakukan?" Herman menghela nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga dada tuanya yang terasa sesak.
Herman sudah menganggap Juan seperti anaknya sendiri, jadi dia sangat menyayanginya. Dia tak ingin Juan bersedih, apa jadinya jika dia harus kehilangan Daisy. Herman benar-benar tak bisa membayangkannya. Herman begitu mengenal Juan, karena sudah sepuluh tahun lebih dia bersama Juan.
*************************************
Di Kota Y
Turun dari pesawat, Juan mengaktifkan ponselnya. Terpampang panggilan tak terjawab dari Herman. Juan pikir nanti saja setelah dari proyek pembangunan supermarket, baru dia akan menelpon Herman balik. Juan dengan santai menuju ke proyek bersama sang asisten, Koko.
Mereka naik taxi dan meluncur ke proyek yang berjarak dua puluh menit dari Bandara.
*************************
Tebak readers,,
siapakah yang menculik Daisy?
yang pasti ini bukan kisah horor ya😂😂
stay nunggu up selanjutnya👍
__ADS_1
jngn lupa like ya😘